Penulis: Fikran Munawwar, Mahasiswa S1 Univesitas Az-Zaitunah, Tunisia.
Kopiah.CO – Sebagai tamu kehormatan pada Pameran Buku Internasional ke-40 di El-Kram, Tunis, Tunisia, Indonesia selalu berkobar untuk menghadirkan kenikmatan surga di dalam paviliunnya. Pintu masuk menuju paviliun Indonesia diberi julukan “Bab al-Jannah” yang berarti “Pintu Surga”. “Ketika kita memasuki surga, segala kenikmatan merupakan anugerah mutlak bagi penghuninya” ucap Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, ketika menjelaskan filosofinya. Maka, tidak ada yang diperjual belikan di paviliun Indonesia, melainkan diberikan secara gratis untuk dinikmati.
Indonesia terkenal akan negeri yang menumbuhkan imajinasi-imajinasi keindahan dan dermawan bagi seluruh umat manusia. Keindahannya tidak hanya mencakup pada segi pemandangan atau sumber daya alamnya saja, melainkan ada pada aspek sosial yang terus dipertahankan dan memang menjadi jati diri masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada 28/04/2026, Prof. Moncef Bin ‘Abd al-Jalil diundang menjadi narasumber pada seminar yang diadakan oleh KBRI Tunisia di Paviliun Indonesia. Kiprahnya sekarang yaitu menjadi guru besar di bidang Literatur Arab dan Peradaban Islam, Fakultas Sastra dan Humaniora, Universitas Sousse, Tunisia. Ia pernah berkiprah di Indonesia lebih dari satu tahun. Sumbangsih diantaranya ketika di Indonesia yaitu menjadi dosen tamu di Universitas Muhammadiyah Malang pada 2020-2021.
Semenjak di London, ‘Abd al-Jalil getol dalam mengkaji nuansa keislaman di negara-negara yang jauh dari tempat Islam muncul. Kedalamannya akan hal tersebut yang membuatnya tertarik kepada Indonesia sebagai objek penelitian. Selama lebih dari setahun berada di Indonesia, Ia berpendapat bahwa Indonesia menjadi negeri yang unik pada aspek sosial.
Ketika memaparkan keunikan tersebut, ‘Abd al-Jalil mengutip pemikiran Bung Karno mengenai siklus kebudayaan masyarakat Indonesia; pra Hindu-Budha, Hindu-Budha, Islam, Kolonialisme. Terdapat aspek kritis yang perlu kita telaah, yaitu transformasi dari Hindu-Budha menuju Islam. Melalui kacamatanya, ia memandang bahwa ajaran-ajaran keindahan dan kesadaran akan jati diri manusia lah yang menjadi faktor kunci transformasinya.
Agama Hindu dan Budha mengajarkan bagaimana meraih ketenangan sejati dan menjadi manusia seutuhnya. Pemikiran tersebut sudah mendarah daging dalam psikologis masyarakat Indonesia. Islam yang hadir di Indonesia tidak mempertontonkan kekerasan, melainkan ajaran-ajaran untuk menjunjung tinggi kemanusiaan yang harmonis. Maka, ajaran-ajaran Keislaman mudah diserap karena sejalan dengan apa yang diajarkan oleh nenek moyang masyarakat Indonesia. Seandainya Islam hadir dengan kekerasan, niscaya masyarakat Indonesia akan melawan dengan hasil akhirnya yaitu Hindu dan Budha menjadi agama mayoritas di negeri yang kaya raya tersebut.
Ia juga sangat kagum ketika masyarakat Indonesia yang didominasi oleh agama Islam, tetapi dominasi tersebut tidak menjadi alat untuk menginjak kaum minoritas. “Sedari dulunya, masyarakat Indonesia sudah terdidik untuk sadar dan tahu bahwa perbedaan yang terjadi hanyalah pada aspek sosial belaka. Semuanya sadar bahwa ‘keyakinan’ tidak bisa diganggu gugat.” pungkas Prof. Moncef Bin ‘Abd al-Jaliil ketika menyampaikan alasan terjadinya fenomena tersebut.
Menurutnya, budaya Keislaman yang terwujud di Indonesia demikian, dikarenakan kiprah dua sayap organisasi Islam yang ada di Indonesia; Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari, sebagai pendiri dua organisasi tersebut. “Keduanya memiliki perspektif keislaman yang berbeda. Meski demikian, keduanya sama-sama selalu beriringan untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin” ucap guru besar Bidang Sastra dan Humaniora, Universitas Sousse, Tunisia tersebut.
Muhammadiyah dan Nahdhatul ‘Ulama tidak hanya memliki peran untuk menjaga kerukunan umat beragama saja, melainkan menyentuh pada penyempurnaan akhlak masyarakat Indonesia. ‘Abd al-Jalil kagum akan lembaga keagamaan yang eksis dalam menjaga moral pemuda-pemudanya, sehingga penanaman moral pada masyarakat Indonesia dituai untuk kemudian harinya dengan hasil yang gemilang.
Dengan fenomena dan literatur yang ia cermati, Prof. Moncef Bin ‘Abd al-Jaliil membuahkan sebuah tesis bahwa visi hadirnya Islam; pemurnian akhlak, di era sekarang terdapat di Indonesia. Awalnya, Indonesia menjadi negeri pinggiran peradaban Islam, justru sekarang menjadi pusat representasi nilai-nilai Keislaman muncul.“Alasan mengenai kebudayaan masyarakat Indonesia seperti sekarang, dikarenakan kuatnya emosional bangsa Indonesia terhadap Nasionalisme. Dengan Nasionalismenya, bangsa Indonesia akan melawan segala bentuk usaha atau tindak-prilaku yang merusak kerukunan hidup Negara Kedaulatan Republik Indonesia” tanggapan Zuhairi Misrawi terhadap Moncef Bin ‘Abd al-Jaliil.

