Ali Hosseini Khamenei, mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, pernah memberikan pengakuan yang cukup mengejutkan mengenai sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Di antara segelintir tokoh yang membentuk pemikirannya, ia menempatkan Ahmad Sukarno sebagai tokoh sentral.
“Ada tiga atau empat orang yang memberi pengaruh besar dalam hidupku, dan yang paling berpengaruh adalah Ahmad Sukarno.” ungkap Yang Mulia Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang baru saja berpulang beberapa waktu lalu.
Narasi ini terekam dengan jelas dalam ingatan Ismail Amin Passanai, seorang diaspora asal Bulukumba yang bermukim di Iran. Perjalanan intelektual Ismail sempat melukiskan sikap skeptis terhadap nasionalisme Indonesia, namun perspektifnya berubah drastis setelah menyaksikan dinamika Arab Spring pada tahun 2011. Transformasi pemahamannya kian mendalam saat mendengar langsung kekaguman Khamenei terhadap Sukarno, baik dalam pembukaan KTT GNB 2012 di Teheran maupun dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada tahun 2016.
Berdasarkan penelusuran dokumen arsip pidato tahun 1990, kekaguman Khamenei pada kemampuan Sukarno dalam merumuskan Pancasila sebagai ideologi yang inklusif. Secara historis, Khamenei mengisahkan pengalaman personalnya saat mendekam di penjara Teheran pada tahun 1974. Kala itu, ia berbagi sel dengan seorang aktivis sosialis bernama Abul Hasan Bani Sadr yang kelak menjadi Presiden pertama Iran. Perbedaan ideologi yang tajam sempat menciptakan jurang komunikasi di antara keduanya.
Dalam situasi yang penuh ketegangan tersebut, Khamenei mencairkan suasana dengan mengutip pandangan Sukarno saat Konferensi Bandung:
Ahmad Sukarno pernah menegaskan bahwa kesamaan agama, ideologi, maupun suku bukanlah syarat utama untuk bersatu, melainkan adanya kepentingan yang sama. Jika prinsip tersebut mampu menggemparkan dunia, maka seharusnya prinsip itu pula yang mampu menyatukan kita di sel yang sempit ini.
Strategi retorika yang menggunakan pemikiran Sukarno tersebut berhasil meruntuhkan sekat ideologi di antara mereka, yang berakhir pada persahabatan antara Khamenei dan Bani Sadr. Bagi Khamenei, esensi pemikiran Sukarno tetap relevan dalam konteks geopolitik saat ini, di mana negara-negara Islam memerlukan persatuan sebagai respons atas ancaman global dan imperialisme.
Sejalan dengan pandangan tersebut, pendahulu Khamenei, Imam Khomeini, dalam karyanya Wilayatul Faqih, juga mengakui kebesaran Sukarno. Ia secara spesifik mengapresiasi gagasan Sukarno terkait pembentukan negara, semangat kemandirian, serta posisi anti-imperialisme yang tegas.
Kini keduanya telah tiada, tapi sejarah telah mencatat, warisan pemikiran kedua tokoh besar tersebut menjadi salah satu fondasi filosofis di balik kesuksesan Revolusi Iran tahun 1979 dalam meruntuhkan rezim yang didukung oleh Amerika Serikat.
Lekas Pulih, Iran.
Penulis: Muhammad Fither, Peneliti KOPIAH.CO

