Perempuan Kok Memimpin?

Artikel Populer

Kunti Zulva Russdiana Dewi
Kunti Zulva Russdiana Dewi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Redaktur Ahli Bedug Media | Fatayat Study Club Mesir | Anggota kajian di Sekolah Tinggi Filsafat Girinata | Anggota kajian Salon Budaya PCINU Mesir

Kopiah.coTingginya semangat keberislaman masyarakat Indonesia, membawa kegembiraan sekaligus polemik yang sulit di bendung. Kegembiraan itu muncul ketika ritual peribadatan mulai kembali disemarakan.

Sedangkan, polemik lainnya yang muncul adalah semangat keberislaman yang tidak memiliki arah dan pijakan, semangat mereka tumbuh disebabkan oleh doktrin agama yang terikat pada dua otoritas, yakni al-Quran dan Hadis.

Tanpa sadar, masyarakat Indonesia, terutama kaum agamais borjuis, tumbuh dengan pola pikir eksklusif, sehingga sulit menerima pendapat selain dua otoritas tersebut.

Terlebih, dalam memandang hukum. Agamawan borjuis kerap terbelenggu oleh narasi-narasi teks agama yang disangkanya selalu menjadi pijakan hukum, seperti dalam pembacaan hadis misoginis.

Misalnya, narasi hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah dalam Sahih Bukhari, Hadis no.5709 menyatakan, jika suatu kekuasaan dipimpin oleh seorang perempuan, maka kekuasaan tersebut tidak akan berhasil. Acap kali kita menemukan narasi pelarangan perempuan untuk dapat memimpin.

Menyoal narasi Hadis yang terlanjur bebas dimaknai, mengakibatkan banyak masyarakat Indonesia yang menganggap, jika terjadi chaos dalam dunia perpolitikan atau kekuasaan, agaknya sering mengarah pada tuduhan seperti ini, “Oh pantas saja, yang memimpin perempuan, to.”

Lantas bagaimana kita dapat mendamaikan situasi seperti ini? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, saya menggunakan pendekatan Hermeneutika Gadamer, mengenai interpretasi peleburan horizon-horizon. Saya juga menyematkan beberapa catatan penting dalam kitab Al-Mar’ah wa Al-Huqûqu As-Siyasiyyah karangan Majid Mahmud Abu hajir.

Interpretasi Hadis Misoginis

Dalam teori Gadamer, Horizon sering dimaknai sebagai realita (zaman, tradisi, otoritas) yang mempengaruhi seseorang dalam melahirkan teks, yang dianggap sebagai respons atas kondisi tertentu.

Horizon ini dimiliki oleh dua dimensi, yakni teks dan pembaca itu sendiri. Maka perlu digarisbawahi, teks dan pembaca tentu mengalami ketegangan zaman, lampau dan sekarang –dengan bahasa, kondisi, dan realita yang sama sekali berbeda.

Maka, hadirnya Fusi Horizon adalah upaya mendamaikan antara masa lampau (dimiliki oleh teks) dan sekarang (dimiliki oleh pembaca). Dalam hal ini, akan terjadi peleburan antara horizon teks dan pembaca. Sehingga pembaca dapat mengkontekstualisasikan apa yang diungkapkan oleh teks.

Masyarakat Arab era Jahilliyah, dalam kitab Al-Mar’ah wa Al-Huqûqu As-Siyasiyyah menerangkan, perempuan saat itu sama sekali tidak memiliki porsi kedudukan di ranah politik.

Perempuan pada saat itu, sedang terpenjara oleh situasi zaman yang mempengaruhi tindakan mereka. Saat itu perempuan tidak mendapatkan hak asasi kemanusiaan; hak berkehidupan, hak waris, hak dalam  memilih pasangan, bahkan hak untuk sekadar berpendapat.

Jika ditelaah, kita bisa melihat ketika Nabi datang membawa risalah, konteks dan realita masyarakat pada saat itu —tanpa sadar, akan selalu berpengaruh pada sesuatu yang dinisbatkan pada Nabi, dalam hal ini Hadis.

Dengan begitu, kita tentu boleh menyatakan Hadis adalah respons kondisi zaman masyarakat era Jahiliyah. Tak ayal, narasi dalam Hadis tampak sering menyudutkan perempuan, ini ranah bagaimana horizon teks akan dilahirkan.

Dalam hal ini, di zaman kenabian, mulanya narasi-narasi Hadis yang tampak menyudutkan perempuan tidak banyak dipersoalkan. Sebagaimana kita tahu, Nabi masih bersedia untuk memberikan klarifikasi atas narasi yang diungkapkan.

Namun perlu kita sadari, konflik mengenai narasi Hadis misoginis mulai bermunculan setelah wafatnya Nabi. Kita juga perlu menyadari, narasi Hadis yang didengungkan hingga hari ini, juga tidak lepas dari zaman pasca wafatnya Nabi, yakni masa sahabat, dan tabiin.

Tentu, jika menyoal zaman, tradisi, kondisi sosial, dan otoritas pasca wafatnya Nabi akan sama sekali berbeda, dengan respon dan kondisi masyarakat Arab saat Hadis itu dinarasikan.

Maka, patut dicurigai tindakan sahabat dan tabiin yang berupaya untuk menginterpretasikan Hadis pada saat itu. Hal ini menggambarkan, bagaiman horizon Hadis sedang bergerak bersama sejarah dari masa kenabian menuju masa sahabat dan tabiin (horizon Hadis bergerak bersama zaman yang terikat oleh kondisi sosial, otoritas dan tradisi tertentu).

Dengan begitu, jika kita kembali kepada intrepretasi Hadis yang diriwayatkan Al-Bakrah, perlu ditelaah terlebih dahulu. Sayangnya narasi yang sampai pada sebagian masyarakat awam, kerap dikaitkan dengan sejarah kepemimpinan Aisyah dalam Perang Onta, yang sebenarnya interpretasi ini juga merupakan interpretasi-kembali.

Sedangkan, interpretasi ini diperkuat oleh zaman, tradisi serta otoritas yang selalu bergerak pada dimensi sejarah, sehingga muncul tudingan-tudingan, terhadap kepemimpinan Aisyah sebagai bukti ketidakpantasan perempuan dalam memimpin.

Jika pemaknaan seperti ini terus diperdengarkan, implikasinya akan selalu menuai pertentangan mengenai ruang kepemimpinan perempuan. Maka kita perlu membaca Horizon Hadis tersebut, yakni realitas saat Hadis itu dinarasikan, sehingga kita dapat mendeteksi kasus yang hendak diselesaikan.

Dalam kondisi ini, Nabi telah mendengar informasi atas kematian raja Persia yang telah dibunuh oleh seorang teroris. Kemudian, kepemimpinan pada saat itu diambil alih oleh putri raja, sehingga Nabi mengomentari kasus ini dengan menarasikan Hadis tersebut.

Ada yang perlu kita cermati di sini, narasi Hadis ini bukanlah sebuah larangan, namun lebih kepada bentuk kecemasan.

Mengapa? pertumbuhan pola pikir yang melingkupi kehidupan Nabi pada saat itu, adalah perempuan-perempuan pasca Jahiliyah, di mana belum banyak perempuan-perempuan yang piawai dalam mengendalikan kuasa kepemimpinan (walaupun Aisyah kerap menjadi keabsahan atas sosok pemimpin perempuan saat itu).

Dalam hal ini, meski secara tidak langsung Nabi mengarahkan maksudnya pada Putri Persia.

Dari sini lah, kita dapat menemukan adanya kejanggalan yang membelenggu otoritas sehingga mempengaruhi cara pandang masyarakat saat ini. Lantas bagimana kita dapat mendamaikannya?

Sebagaimana yang saya sebutkan di atas, jika menggunakan pembacaan Gadamer, seharusnya kita dapat membaca terlebih dahulu kasus yang dibawa dalam periwayatan Al-Bakrah. Yaitu Adanya kekhawatiran Nabi. Karena dalam teori Gadamer, Gadamer tidak ingin berupaya untuk memosisikan diri sebagai pengarang Hadis tersebut.

Pada dasarnya kita tidak akan pernah sampai pada maksud otentik pengarang. Ia menitikberatkan pada kasus yang hendak diselesaikan.

Dalam hal ini, kekhawatiran Nabi dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu dikhawatirkan adanya ketidakmampuan Putri Persia dalam memimpin, kedua adanya kemampuan dalam memimpin.

Dari sini kita bisa mendapatkan titik terang, faktanya narasi Hadis ini adalah respons serta komentar atas tindakan kemampuan dan ketidakmampuan perempuan dalam memimpin.

Maka tidak heran, kerap kita menemukan banyak pertimbangan dan kualifikasi atas standar kepemimpinan seseorang. Karena mempimpin erat kaitannya dengnan sikap dan tindak kesanggupan seseorang atas amanah yang diemban.

Membaca Hadis dengan horizon kita saat ini, dimana sedang berada pada zaman yang penuh dengan kompleksitas pendapat ulama, dengan kondisi masyarakat yang bersemangat dalam keberislaman, maka perlu adanya argumentasi-argumentasi pembacaan Hadis secara kontekstual.

Yaitu, membaca secara subtansial atas kasus yang hendak diselesaikan. Barangkali tudingan-tudingan dari era Aisyah hingga saat ini, berbicara perempuan di kancah politik tidak lagi dipandang sebelah mata.

Untuk itu, masyarakat perlu adanya semacam filter informasi dari interpretasi Hadis. Seperti memahami Hadis secara kritis, terutama yang banyak didokumentasikan oleh Abu Hurairah, kemudian memahami Hadis secara kontekstual.

Dalam upaya ini, setidaknya semangat keberislaman masyarakat Indonesia akan mengalami keseimbangan antara ritual sebagai tindakan, dan kritis membaca atas interpretasi-interpretasi sejarah sebagai pijakan dan perkembangan pola pikir. Puncaknya, sindiran atas perempuan dengan bertopeng Hadis misoginis, lambat laun akan semakin memudar.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait