Sejauh Mana Kita Mengenal Islam yang Autentik?

Artikel Populer

Kunti Zulva Russdiana Dewi
Kunti Zulva Russdiana Dewi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Redaktur Ahli Bedug Media | Fatayat Study Club Mesir | Anggota kajian di Sekolah Tinggi Filsafat Girinata | Anggota kajian Salon Budaya PCINU Mesir

kopiah.co – Minggu lalu, saya dan teman-teman kajian membahas mengenai buku yang sedang kami persoalkan, yakni Fajrul Islam kepunyaan ahmad Amin sebagai magnum opusnya dalam membaca sejarah Islam. Dalam bukunya, beliau menggunakan akal Arab sebagai pisau analisa.

Terlepas dari pisau analisa beliau, akhirnnya pembahasan kajian saya sudah sampai pada pembahasan yang selama ini saya nantikan. Bermulanya eskpansi Islam ke berbagai wilayah, dan proses pertemuan budaya-budaya lainnya sehingga mengekspresikan berbagai macam wajah kaum Muslim saat ini.

Pada kajian tersebut saya menyoal seperti ini, seberapa jauh kita mengenal Islam yang autentik? Setidaknya pertanyaan ini mewakili saya sebagai Muslim yang jauh dari dilahirkannya Islam ke dunia, Arab, yakni sebagai Muslim Indonesia.

Lantas sampai di mana saya mengenal Islam yang sesungguhnya di ketersituasian saya yang telah terseret oleh budaya yang jauh dengan kondisi sosial Arab?

Membahas Islam yang autentik, menurut saya, sebagaimana dinyatakan oleh beberapa sejarawan Muslim, ia adalah yang lahir dari rahim masyarakat Arab, sebagaimana ia hadir sebagai sebuah solusi untuk penawar masyarakat Arab yang sedang sakit atas kemanusiaannya, yakni sebagai petunjuk jalan untuk menuju yang Esa.

Sampai pada pemaknaan ini, saya kemudian harus berhati-hati pada ketersituasian Islam sebagai respon masyarakat Arab, sekaligus sebagai agama yang memberikan penawaran sebagai sebuah jalan Thuruq untuk menuju kepada Allah yang esa. Dari sini lah, setidaknya saya haru berani memilah posisi Islam.

Mengapa saya perlu bertindak demikian? Sebagaimana dalam bab yang telah saya bahas di kajian, ada proses ekspansi Islam ke beberapa wilayah dengan menggunakan strategi-strategi ke-badui-annya masyarakat Arab.

Ada dua startegi yang telah dilakukan pada proses itu, pertama, Tatajadal bil Qaul bersifat argumentatif, dan startegi kedua adalah menggunakan saif pedang sebagai wajah praktik berperang.

Dari dua proses ini, menurut saya, proses ekspansi Islam saat itu memang masih lekat dengan watak masyarakat Arab. Sebagaimana pada bab sebelumnya dijelaskan, masyarakat Arab yang terkungkung oleh wilayah Sahara, mereka setidaknya terpaksa untuk nomaden mencari kesuburan demi bertahan hidup Ke-badui-an mereka mempertahankan hidup, tak ayal menggunakan perampasan hingga peperangan.

Dari sini lah, saya rasa dua startegi ini, jika dibaca sebagaimana Habermas dalam hermenutikanya, refleksi-kritis, yakni “Bagaimana suatu otoritas-tradisi—dalam hal ini adalah Islam dan proses Muslim sebagai masyarakat Arab melakukan ekspansi, dianggap sebagai kenormalan (yang diandaikan tidak memiliki suau permasalahan), hendak membongkar sesuatu yang sebenarnya telah dikuasai oleh hubungan-hubungan kekuasaan di dalam kenormalan tersebut,” adalah sebagai bukti bahwa ada kepentingan-kepentingan tertentu yang turut menunggangi Islam.

Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, latar belakang masyarakat Arab pada saat itu belum mapan atas kondisi politik, sosial, bahkan filsafatnya. Maka, masyarakat arab tentu butuh pengembang-pengembangan terhadap kondisi mereka dengan bertemu dan barangkali menggunakan Islam sebagai medianya.

Maka tidak heran, jika pada misi ekpansinya, masyarakat Arab yang telah masuk Islam saat itu menawarkan dua hal besar, yakni bahasa Arab dan agama Islam.

Terlebih, kondisi wilayah yang telah berhasil ‘dibuka’ oleh Islam, mengharuskan masyarakat pribumi untuk membayar pajak misal, sebagai bentuk ketetapan masyarakat yang enggan menerima Islam. Sehingga tidak sedikit, masayrakat pribumi yang masuk Islam, dengan  alasan ia tidak ingin membayar pajak.

Dari sini lah, saya rasa penyampaian Islam pada saat itu, yang kita rasakan dampaknya hari ini, tampaknya tengah mengalami miis understanding/communication atas substansi apa yang hendak ditawarkan Islam. Baik dilihat bagaimana masyarakat Arab Muslim sebagai penyampai, atau masayrakat non-Arab Muslim sebagai penerima.

Tidak heran, saya tengah meghadapi masyarakat Indonesia yang gagal paham dengan kondisi dan fakta sejarah yang demikian. Setidaknya, saya tengah menghadapi masyarakat Indonesia Muslim yang mengkafir-kafirkan masyarakat Indonesia non-Muslim.

Maka sebagaimana saya mencoba memahami Islam dengan memilahnya sebagai risalah yang tengah dibawa Rasul, dengan Islam-Arab yang kadung melekat dengan budaya dan watak masyarakat Arab.

Maka, sampai di sini kita harus mengenali sifat Islam sebagai solusi yang identik dengan  sifat fleksibel. Artinya, ia tidak dijadikan sebagai lembaga yang kaku dan otoriter.

Islam sejak awal, berusaha mengenalkan idenya thuruq secara kompromistis. Tidak memaksa, tidak ujugujug. Islam pada dasarnya, membawa semangat kemoderatan, yakni menahan sesuatu yang berlebihan, menambah sesuatu yang kurang.

Maka, sebagaimana kelanggengan Islam dengan Indonesia yang tengah mencapai 80 persen mayoritas masayarakat Muslim. Islam pada siatuasi ini, telah menunjukan keautentikannya berkat pendekatannya dengan budaya.

Islam menawarkan ajaran dan syariat-syariatnya melalui budaya Indonesia yang sama sekali berbeda dengan kondisi Arab sebagai bumi kelahirannya.  

Sehingga, tanpa perlu kita mengakfir-kafirkan yang liyan, Islam yang telah mengakar pada tubuh masyarakat Indonesia (yang dibalut dengan berbagai macam budaya) setidaknya tampak autentik.

Maka, setidaknya kita bisa menggunakan jendela ini untuk bisa melihat sejauh mana Islam yang kita maknai sebagai Muslim di wilayah Indonesia hingga saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait