Cara Jitu Menuju Sukses

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Kopiah.co– Saat ini, saya mulai menyadari bahwa manusia di mana pun itu sama saja. Semua orang sukses sama-sama berangkat dari pikirannya. Ras tak begitu berimbas. Status kelas tidak melulu soal struktural, meski acapkali memang dikuatkan oleh dukungan semacam itu. Manusia adalah apa yang dia miliki dalam asal manusiawinya yang kemudian berkembang menjadi rancangan-rancangan egonya sendiri.

Mari kita lihat, tak usah jauh-jauh, di desaku saja, orang-orang kuno yang kaya pada generasi bapakku dulu, sekarang terbalik melahirkan orang-orang yang tak kaya. Artinya, status kekayaan sekarang bergeser dipegang oleh turunan mereka yang dulu tak kaya. Itu misalnya mengenai soal kaya dan tak kaya dalam skala desa.

Coba kita lihat dalam skala yang lebih besar yakni peradaban. Bangsa Arab yang pada masanya mengalami masa-masa kejayaan, bagaimana nasibnya kini?

Tak usah anda pertanyakan lagi. Kalau anda tak percaya, datang kepadaku, bakal saya ceritakan perihal Arab dan kearaban yang tak akan ditemui selain di sini.

Pada abad 17 masehi, Francis Bacon pernah menganjurkan, bahwa orang-orang eropa yang ingin menjadi bangsa yang maju, hendaknya mereka belajar berbahasa Arab. Tersebab Bahasa Arab  merupakan simbol kemajuan pada masa lalu. Konon, Bahasa Arab mampu menampung warisan-warisan filsafat Yunani kuno, bahkan sampai pada tahap dikolaborasikan dengan ilmu-ilmu keislaman yang pada gilirannya menghasilkan bangunan keilmuan dan kebudayaan yang luar biasa. Bayangkan, itu terjadi baru empat abad yang kemarin.

Betapa bangganya menjadi orang Islam saat itu. Sekarang, mari kita kita jujur, apa daya tarik Bahasa Arab bagi dunia masa kini?

Jangan-jangan, pertanyaan semacam ini sudah kedaluarsa untuk diperhatikan lagi saat ini, karena secara tidak langsung pertanyaan semacam ini menunjukkan inferioritas rasial tertingal  dengan ras yang maju, dan ulasan seperti ini adalah ulasan kolonial yang sudah basi dan tak relevan lagi.

Memang demikianlah dunia pemikiran. Ia tak bisa terlepas dari kebaruan, atau katakanlah tren. Dunia pemikiran tak melulu dipahami sebagai sesuatu yang selalu mewah, asal itu menyangkut manusia yang berpikir dan merdeka itulah dunia pemikiran. Faktanya, kebaradaan manusia yang berpikir  pada akhirnya dipaksa tunduk pada pikiran berpola, pikiran yang membentuk struktural ini-itu, semacam kuasa pikiran.  Kemudian struktur ini melebur pada ruang sosial yang kemudian diformalisasikan dalam fenomena struktur akademis pikiran.

Tapi, bukan itu yang ingin kumaksudkan. Lebih kepada status keasalan manusia itu sendiri. Dari keasalan tersebut, kita akan mengenal bentuk-bentuk kelanjutan. Keasalan manusia itu sama, yakni sama-sama manusia yang tak bisa terlepas dari unsur-unsur kemanusiaannya. Ada pikiran, ada hati, ada jiwa, dan ada juga hasrat.

Seringkali yang terlihat secara gamblang dari sisi manusiawi masa kini adalah hasrat. Lihat isi-isi konten youtube, instagram dan tiktok. Tak usah banyak-banyak. Meski tidak semuanya, namun yang lebih dominan adalah sisi hasrat. Manusia yang memiliki ini dan itu, manusia yang sedang melakukan ini dan itu; segala pertunjukan yang mana saat kita melihatnya menjadi begitu berhasrat. Memancing hasrat diri untuk meniru, mengetahui lebih jauh, dan berangan menjadi di posisi yang kita saksikan itu. Kita menjadi begitu berhasrat, meski aneh sekali mengapa menusia bisa betah berjam-jam menggenggam gawai dan fokus menyaksikan semua gambar dan video itu. Manusia menonton manusia. Manusia menyimak manusia. Dan manusia ingin menjadi manusia (orang lain).

Begitulah jadinya saat manusia saling dipertemukan satu sama lain oleh ekosistem bernama hasrat. Nyaring sebegitu nyaringnya hingga kehidupan tak terlihat sisi luasnya, pandangan kesadaran berusaha menembus lebih jauh di luar sana, berharap menemukan sebuah ruang elok nan sejati yang tak terbatas, tapi apa boleh buat, semua pandangan sehari-hari dikelilingi oleh pembatas hasrat yang kokoh, merah nan megah itu. Dan peristiwa bertolaknya Adam dan Hawa dari surga kini menjadi mitos, orang-orang masa kini enggan menyimak hal-hal yang berbau langit.

Bagi orang sekarang, Adam dan Hawa bukan dari langit, tapi memang sudah lahir dan kemudian terjebak pada zona nyaman duniawi. Lebih-lebih, orang sudah tak percaya dan merasa asing dengan Adam, sang muasal sejarahnya itu.

Jangankan sadar sejarah, wong dunia saat ini, khususnya anak muda, tak henti-hentinya keranjingan kata “sukses”. Dan jelas, kata itu  mengarah pada materi. Materi bukannya tidak penting, bahkan ia adalah pokok paling jujur dari eksistensi kehidupan.  Sudah, soal itu tak perlu dibahas lagi, karena anak TK (Taman Kanak-Kanak) saja sudah mengerti, tanpa uang ia tidak bisa membeli permen.

Yang kumaksud ialah lebih mengarah pada fenomena strukturalisasi ragam makna kehidupan terhadap satu pola bernama sukses.

“Sukses adalah…… Dan cara menempuhnya adalah dengan… maka yang harus kita lajukan adalah…..” singkatnya begitu.

Memang mengerikan sih, kalau sudah main-main dengan kata sukses itu. Ketika kata ini menjadi kata tertinggi dalam pola pikiran seseorang, maka keadaan yang tak berdekatan dengannya akan dipahami sebagai kemalangan semalang-malangnya, kemudian menjadi sefrustasi-frustasinya dan sepesimis-pesimisnya.

Unik kan! Manusia merumuskan dan membuat pikirannya sendiri, tapi kemudian tejatuh sejatuh-jatuhnya oleh rumus buatannya sendiri. Dan yang sudah membuktikan ini banyak sekali. Kalau tidak percaya, silakan coba dan buktikan sendiri!

Makanya, orang bahagia adalah mereka yang merdeka dengan dirinya sendiri, yang tak habis-habis merumuskan sekaligus mengkritik dan tak jenuh melakukan evaluasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait