Mengenal Albert Memmi ; Pemikir Yahudi-Tunisia yang Mengkritik Privilege

Artikel Populer

Oleh : Mansurni Abadi, Kontributor kopiah.co

Kopiah.Co — Bagi yang berkecimpung dalam ranah pemikiran anti kolonialisme atau yang sekarang popular dikenal dengan istilah dekolonialisasi, nama Albert Memmi tentu tidak asing. Pemikir Yahudi asal Tunisia yang wafat pada tahun 2020 silam ini bahkan dianggap sebagai pemikir Yahudi paling berpengaruh di dunia ilmu sosial.

​“Albert Memmi: The Most Important Jewish Thinker of the Twentieth Century “ tulis Ngo Yahudi Dorothy and Elmer Kirsch Endowment Fund for the Hofstra Cultural Center beberapa waktu lalu di forum dekolonialisasi yang digagas oleh Universitas Ibrani, Yerussalem. Tidak hanya buku-buku yang akademik, Memmi juga menulis novel yang buat saya pribadi sangat enak dibaca, seperti Pillar of Salt yang bercerita soal kepahlawanan seorang Yahudi asal Tunisia, Alexandre Mordekhai Benillouche melawan penindasan dan The Colonizer and the Colonized yang menceritakan ketergantungan antara dua kelompok yang salah satunya menghisap sementara yang satu di hisap.

​Perihal kolonialisme, rasanya kita harus sepakat jika itu merupakan praktik yang paling menjijikkan dalam sejarah umat manusia.


​Seindah apapun kontruksi yang coba dibangun oleh kolonialisme terhadap yang dikoloninya, tetap saja tidak mampu untuk menutup fakta jika daya rusaknya melebihi asam sulfat dan laku eksploitasi yang dilakukannya menjadi yang mengkoloni bertambah gemoy sementara yang dikoloni menuju lubang kubur.

​Adapun yang menjadi ciri khas dari pemikiran anti kolonialnya Albert Memmi adalah keberaniannya dalam mengkritik hak istimewa atau yang kita kenal saat ini sebagai “Privilege”. Kebetulan isu ini sedang hangat menjelang pemilu yang dibumbui dengan adegan pencabutan spanduk di mana-mana.

Namun, sebelum lebih jauh melangkah ada baiknya kita sedikit mengenal siapa itu Albert Memmi.

Lahir Yahudi Tanpa Privilege

​Di sebuah negeri nan jauh dengan hakimnya yang penuh intrik, kaum Yahudi dicitrakan sebagai kaum yang mengendalikan segala gerak dunia dari toilet yang mampet, kondom yang bocor, sampai ekonomi yang jatuh tentu ada kesalahan Yahudi di samping China, Setan, dan Komunis.

​Artinya, Yahudi yang kita imajinasikan tanpa interaksi secara langsung itu, selalu melekat dengan “privilege”, padahal sama seperti golongan manusia lainnya, tidak setiap kelompok berada pada posisi yang sama meskipun berada pada etnis yang sama, apalagi jika persoalan itu menyangkut kelas sosial.

Misalkan “Kita boleh sama-sama muda, tapi belum tentu ada lebih dari lima partai politik yang mau mencalonkan kita menjadi pemimpin berikut”, begitulah kiranya jika kita berbicara privilege di level kenyataan yang berbeda di level imajinasi sebagaimana petuah dari motivator “jika kita semua pasti bisa, asalkan keluar dari zona nyaman” yang mereka sendiri berbicara dari zona yang nyaman.

Memmi lahir pada tahun 1920 di Tunis, sosoknya dibesarkan di sebuah pemukiman Yahudi yang amat miskin ,berdekatan dengan lingkungan masyarakat Muslim.
Meskipun Miskin, keluarganya mengajarkan Memmi agar mampu berbahasa Ibrani dan Arab, di samping bahasa Prancis yang kala itu masih menduduki Tunisia.

Pengetahuan agama Yahudi juga ditekankan oleh keluarganya sehingga identitas ke-Yahudiannya sangat kuat yang mempengaruhi sikapnya dengan zionisme meskipun dirinya anti terhadap kolonial Prancis.

Singkat cerita, dikarenakan penguasaan bahasa Prancis, Memmi muda kemudian menerima beasiswa ke Prancis.

Arus Balik Kehidupan

Namun hidup di bawah kuasa penjajah, meskipun menikmati apa yang diberikan penjajah, bagi Memmi bukanlah suatu kenikmatan. Alih-alih terjebak stockholm syndrome, Memmi mengembangkan perasaan ketertindasan.

​Apalagi sebagai seorang Yahudi, dia merasakan penindasan yang double. Dengan begitu, Albert Memmi Sama Seperti semua tokoh intelektual perjuangan antikolonial, mulai dari Franz Fanon hingga Edward Said, Aimé Césaire dan banyak lainnya, termasuk di Indonesia kita mengenal HOS Tjokroaminoto, Semaun , Soekarno, dan lain sebagainya yang pemikirannya muncul dari tubuh yang setiap hari mengalami penindasan yang berulang-ulang dan terus-menerus yang identitasnya kemudian melekat sebagai “subjek yang dijajah”.

Novel dan esai sosiologisnya menggambarkan kehidupan imajiner dan nyata, yang terjalin secara kompleks dengan setiap trauma, penipuan, kekerasan, dan kesalahpahaman antar karakternya dan antar bab secara tersirat maupun tersurat mengammbarkan sejarah panjang tentang bagaimana sebuah negara, Tunisia, bermutasi dari kolonialisme ke kemerdekaan.

Pada tahun 1957, karyanya yang paling banyak dibaca dan diterjemahkan, The Colonizer and the Colonized, muncul dengan kata pengantar dari Jean-Paul Sartre. Buku Memmi, dengan konsepsinya yang luas membongkar perihal hak istimewa kolonial dan rasisme, sehingga menjadi bacaan penting dalam teori radikal hingga tahun 1970-an, lalu berkembang lagi di era sekarang saat dekolonialisasi mencuat di dunia akademis meskipun hanya berujung pada persoalan per-scopusan.

Privilege menurut Memmi

​Privilege sebenernya tidaklah negatif, hal ini bisa tidak menyebalkan jika kita menggunakannya dengan penuh kesadaran diri, tidak asal main langkah. Bagi Memmi, “Gagasan tentang hak istimewa (privilege) adalah inti dari hubungan kolonial,” tulisnya dalam The Colonizer and the Colonized.

Hak istimewa berarti lebih dari sekedar status ekonomi. Memmi menghapus asumsi Marxis bahwa kolonialisme pada dasarnya adalah sebuah sistem ekonomi.

Menurut Memmi yang dibutuhkan adalah analisis terhadap rasisme . Rasisme bagi Memmi melampuai sekatan perbedaan biologis dan kontruksi etnis tetapi merupakan campuran perilaku dan refleks yang diperoleh dan dipraktikkan sejak masa kanak-kanak, ditetapkan dan diukur melalui pendidikan,” dan “dimasukkan bahkan dalam tindakan dan kata-kata yang paling sepele sekalipun.”

“Penaklukan obyektifnya, bukan semata-mata bersifat ekonomi. Bahkan penjajah termiskin pun menganggap dirinya—dan sebenarnya—lebih unggul dibandingkan mereka yang terjajah” tegasnya dalam buku The Colonizer and the Colonized.

Jika kita cocoklogikan dengan empat fase kolonialisme dari Franz Fanon, kita tentu dapat memikirkan peran penyalahgunaan privilege di dalamnya, empat fase itu sebagai berikut.

Pertama, masuknya penjajah secara paksa ke wilayahnya untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan penduduk. Kedua, penjajah memaksakan budayanya, menghancurkan budaya Pribumi. Ketiga, penjajah digambarkan lebih beradab, sedangkan yang terjajah digambarkan liar, buas, dan tidak beradab dan sudah menjadi tanggung jawab penjajah untuk mengawasi, menjinakkan, dan membudayakan.

Sementara itu, yang keempat, terbentuknya suatu masyarakat di mana lembaga-lembaga politik, sosial dan ekonomi dirancang untuk menguntungkan dan mempertahankan keunggulan pihak penjajah sambil terus menundukkan pihak yang dijajah.


Tetapi Memmi juga tidak menyalahkan mereka yang memiliki Privilege, penekanannya di sini adalah membongkar penggunaan privilege untuk tujuan yang bisa menimbulkan kezaliman.

Kita yang memili privilege bisa menggunakan yang kita punya untuk tujuan baik menjadi anak-anak cahaya atau menjadi anak-anak gelap sebagaimana yang taurat istilahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muslim Progresif : Paradigma Berpikir Omid Safi Tentang Keadilan, Gender dan Pluralisme

Oleh : Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah Kairouan Tunisia Kopiah.Co — Di era modern yang semakin...

Artikel Terkait