Sukses Marcos dan Yang Perlu Kita Lakukan

Artikel Populer

Oleh Mansurni Abadi  

Kopiah.Co – Menjelang pemilihan presiden Filipina pada tahun 2022 silam, atmosfer ketidakpuasan, kesukaran ekonomi, dsb telah terasa. Sebagian besar pemilih sudah tidak lagi mengalami 21 tahun kepemimpinan Marcos (1965-1986). Sebagian rakyat Filipina memang masih mengingat jaman Marcos sebagai jaman kleptokrasi yang kejam dibawah payung Darurat Hukum. Pernah ada 70 ribu tapol, 34 ribu jiwa disiksa, dan 32 ribu jiwa dibunuh. Pembunuhan paling terkenal adalah penembakan pemimpin oposisi Aquino, pada tahun 1983. Tapi sebagian besar rakyat Filipina, terutama generasi muda yang lahir pasca Marcos, mudah sekali melupakan sejarah kelam yang tidak pernah mereka alami itu. 

Dalam Pilpres 2022 lalu, putera Ferdinand Marcos, Bongbong (lahir 1957) berpasangan dengan Sara Duterte (lahir 1978), mantan walikota Davao dan putri presiden Duterte yang sudah selesai menjabat 2 periode. Keluarga Bongbong sangat berpengaruh di utara dan juga tengah, keluarga Duterte berpengaruh di selatan (Pulau Mindanao dan sekitarnya, kota Davao). Dengan kombinasi ini pasangan capres dan cawapres (di Filipina mereka kampanye terpisah) itu bisa memanfaatkan sentimen kedaerahan.

Dalam Pilpres 2022 di Filipina capres dan cawapres kampanye sendiri- sendiri. Ada tujuh kali debat capres yang diselenggarakan, sedangkan Bongbong hanya mengikuti dua kali, juga ada tiga kali debat cawapres yang diselenggarakan, namun Sara (wakilnya) tidak pernah mengikutinya sama sekali. 

Pasangan ini sangat percaya pada efektivitas kampanye berbasis media sosial, dan terbukti, tanpa muncul dalam debat kandidat, Marcos mendapat 58,77% suara, dan Sara mendapat 61,53%. Bagaimana mereka berhasil memenangkan Pilpres dengan mendapat begitu banyak suara?

Bongbong pernah ikut pilpres sebelumnya, 2016. Walaupun kalah popularitasnya meningkat. Pengikutnya di Facebook dan TikTok sudah mencapai jutaan orang. Kemenangan Bongbong dan Sara pada Pilpres 2022 karena mereka efektif sekali menggunakan media sosial tersebut sebagai alat utama kampanye.

Tema utamanya dua. Pertama, disinformasi untuk merehabilitasi sejarah presiden Marcos. Kedua, menyebarkan discontent, ketidakpuasan. Tim kampanye Bongbong-Sara mengedit ratusan video, diunggah di Youtube lalu di posting ulang di FB dan TikTok. Dengan dana yang besar sekali mereka menguasai Medsos.

Tema utama DISINFORMASI yg disebarkan secara masif dan sistematis. Timnya mengedit ratusan video, diunggah di Youtube dan kemudian di posting ulang di media sosial seperti TikTok dan Facebook. Taktiknya sederhana, mereka menyangkal sejarah kekejaman, korupsi, pelanggaran HAM, dll. Mereka sebarkan itu sebagai berita bohong yang nyatanya tidak pernah terjadi.

Disinformasi pada dasarnya Dikenal   sebagai, “a systematic and well-oiled disinformation campaign.”

Tema kedua adalah DISCONTENT, atau ketidakpuasan, yang memang ada dasarnya. Setelah people power yang berhasil menggulingkan Marcos pada tahun 1986, tidak banyak kemajuan ekonomi. Ada 64% rakyat Filipina yang masih tidak cukup makan. Apalagi setelah pandemic Covid. Orang jadi lebih mendambakan datangnya “orang kuat” seperti Marcos dulu. Disebar postingan yang menunjukkan jaman Marcos lebih baik, lebih aman, dst.

Tema ketidakpuasan itu terbukti efektif terutama di kalangan generasi muda yang tidak pernah mengalami sendiri kepemimpinan Marcos, dan juga di kalangan mereka yang justru mendapat keuntungan selama zaman Marcos itu. 

Kembalinya trah Marcos Di filipina  adalah hasil dari operasi besar media sosial, yang ditujukan terutama kepada anak muda Filipina yang lahir setelah era darurat militer berakhir. Ternyata capres dan cawapres tidak harus tampil di depan massa. Tidak harus menang debat juga apalagi adu gagasan . Cukup dengan  Penampilan di medsos, siar ulang Youtube di Facebook, TikTok, Instagram, X (Twitter), atau memasang banyak baliho   meskipun konten dari iklan politik itu tidak berfaedah, bisa jadi keutamaan.

Dalam konteks Indonesia, hal itu bisa saja terjadi. Namun bisa kita cegah dengan terus memperkuat basis pemilih yang kritis dan rasional. Jangan asal terjebak slogan “penak jamanku too “.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait