Penulis: M. Faqih Harlian Lc. Mahasiswa pascasarjana universitas al-Azhar Kairo, Mesir.
Wilhelm Dilthey lahir di Biebrich, Jerman, pada 19 November 1833, dari keluarga yang lekat dengan tradisi teologi Protestan. Ia menempuh pendidikan filsafat dan teologi di Universitas Heidelberg dan Berlin, kemudian mengajar di berbagai universitas hingga akhirnya menetap di Berlin. Sepanjang hidupnya, Dilthey dikenal bukan sebagai filsuf yang menghasilkan satu risalah besar dan tuntas, melainkan sebagai pemikir yang terus-menerus menulis ulang gagasannya, mencari fondasi paling kokoh bagi apa yang ia sebut Geisteswissenschaften—ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Ia wafat pada 1911, meninggalkan warisan pemikiran yang kelak akan memengaruhi tokoh-tokoh besar seperti Weber, Heidegger dan Gadamer.
Gagasan hermeneutika Dilthey tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul sebagai respons kritis terhadap dominasi cara pandang positivistik yang pada abad ke-19, telah merambah jauh ke dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Positivisme sendiri dicetuskan secara oleh Auguste Comte pada paruh pertama abad ke-19. Comte berpendapat bahwa pengetahuan manusia berkembang melalui tiga tahap: teologis, metafisis, dan akhirnya positif—tahap ketika penjelasan hanya didasarkan pada fakta yang teramati dan hukum yang dapat diuji, tanpa mengandaikan sebab-sebab tersembunyi atau entitas metafisis[i].
Cara kerja positivisme bertumpu pada observasi, eksperimen, kuantifikasi, dan generalisasi menuju hukum-hukum universal, cara tersebut persis terlihat seperti fisika. Bahkan, comte sendiri yang menyebut sosiologi adalah fisika sosial. Dalam ilmu sosial, semangat ini terwujud misalnya pada sosiologi awal yang berupaya menemukan “hukum-hukum masyarakat” melalui statika dan dinamika sosial. Sehingga, manusia, dalam kerangka ini, menjadi objek yang dibaca hanya memalalui tumpukan rumus dan data yang kaku, serta diperlakukan tidak berbeda dari partikel atau organisme yang diamati dari jarak jauh[ii].
Senjakala Positivisme
Bagi Dilthey, cara pandang positivime menyimpan kekeliruan mendasar yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia menolak positivisme bukan dengan menyangkal nilai ilmiah pada metodenya sendiri, melainkan dengan menggugat klaim positivisme bahwa satu metode—ilmu alam—berlaku universal untuk segala jenis objek pengetahuan, termasuk manusia dan masyarakat.
Melalui karya-karyanya seperti: Introduction to the Human Sciences, The Formation of the Historical World in the Human Sciences dan Hermeneutics and the Study of History, Dilthey menyampaikan persoalan mendasar: kompleksitas pikiran dan perasaan sebagai inti dari kemanusiaan itu sendiri. Bagi Dilthey, positivisme memiliki kekeliruan elementer ketika memotret manusia hanya dari permukaan tindakan yang tampak, lalu mengira telah memperoleh gambaran yang utuh. Padahal, inti kehidupan manusia tidak terletak pada gerak lahiriah semata, melainkan pada jalinan rumit antara pikiran dan perasaan yang membentuk kesadaran lalu kemudian terejawantahkan pada setiap laku lampah keseharian berupa: ritual keagamaan, adat, budaya dan lain sebagainya. Hal tersebut bukan sekadar hasil kalkulasi rasional atau dorongan biologis semata. Ia lahir dari penghayatan akan agama, adat, budaya dan nilai yang melibatkan ingatan masa lalu, imajinasi tentang masa depan serta segala hal yang melingkupinya.
Kritik Dilthey atas positivisme dapat kita pahami dengan baik melalui tiga lapis struktur sebagai berikut[iii]:
Pertama, distorsi ontologis; positivisme gagal memahami bahwa setiap eksistensi memiliki ciri dan kekhasannya sendiri. Eksistensi sebongkah batu cukup dipahami melalui pengamatan fisik lahiriahnya—bentuk, komposisi, dan tampilannya menggunakan ilmu alam sebagai kaca mata. Namun eksistensi manusia tidak bisa diperlakukan serupa, sebab manusia memiliki dua dimensi sekaligus: dimensi lahiriah yang tampak lewat data biologis dan tingkah laku, dan dimensi batiniah yang bersumber dari pikiran dan perasaan—nilai, norma, dan kepercayaan yang dianutnya. Dengan menyamakan cara memahami batu dan cara memahami manusia, positivisme sesungguhnya telah salah sejak dari akar ia keliru memahami apa itu “ada” pada manusia[iv].
Kedua, Monisme epistemis, yakni monisme metode yang menutup jalan lain. Kesalahan positivisme di sini terletak pada keyakinannya bahwa hanya ada satu jalan sah menuju pengetahuan. Ia menutup kemungkinan bahwa objek yang berbeda menuntut metode yang berbeda pula. Dengan memaksakan pendekatan eksternal dan kuantitatif ke semua bidang, positivisme secara metodologis membutakan diri terhadap dimensi-dimensi realitas manusia–dimenisi batin–yang hanya bisa diakses lewat interpretasi dan pemahaman makna[v].
Ketiga, reduksi aksiologis; karena dimensi makna dan nilai telah disingkirkan sejak akar ontologis maupun epistemis, positivisme pada akhirnya mengeluarkan nilai-nilai dari wilayah pengetahuan yang dianggap sah. Ilmu sosial kehilangan kemampuannya untuk memahami dan mempertimbangkan dimensi etika, estetika dan spiritual manusia. Nilai diperlakukan sebagai sesuatu yang subjektif dan karenanya tidak ilmiah, sehingga ilmu hanya bisa berbicara tentang “apa yang terjadi”, bukan “apa yang bermakna” atau “apa yang seharusnya”. Ilmu semacam ini kaya data namun miskin makna[vi].
Kemudian, hal yang tak kalah penting adalah ketiga kekeliruan ini perlu dibaca dalam konteksnya yang lebih luas. Positivisme lahir dari pergumulan panjang melawan dominasi metafisika atas ilmu alam—suatu masa ketika penjelasan tentang gejala-gejala alam masih bertumpu pada spekulasi abstrak dan retorika, bukan pada pengamatan dan pengujian yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari pergumulan itulah muncul gerakan positivisme, yang ingin membaca dan menjelaskan alam dengan cara kerja sains, bukan lagi dengan cara kerja metafisika dan retorika. Dalam konteks itu, positivisme sesungguhnya adalah kerja intelektual yang sah, bahkan penting, ketika ia diterapkan pada objeknya yang sesuai, yakni alam.
Namun, ketika sains menerobos pada ilmu sosial humaniora, genderang kritik perlu untuk digemakan. Sehingga, dalam konteks ini kritik atas positivisme bukanlah menolak atau bahkan membunuh sains, melainkan kerja intelektual kritis untuk mencegah arogansi sains yang berubah menjadi tirani bagi manusia dan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebensphilosophie: Menyelami Belantara Pikiran dan Perasaan Manusia
Di sinilah kita sampai pada satu paradoks mendasar tentang manusia: ia dibekali pikiran dan perasaan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya, namun pada saat yang sama, persoalan-persoalan itu sendiri kerap kali justru lahir dari pikiran dan perasaan itu. Manusia berpikir dan merasa untuk mengatasi ketakutan, namun ketakutan itu sendiri adalah buah dari pikiran dan perasaannya. Manusia menimbang dan menghayati untuk memutuskan mana yang benar, namun keraguan dan penyesalan yang menyertainya juga lahir dari kemampuan menimbang dan menghayati yang sama.
Positivisme yang datang dengan menyingkirkan dimensi batin dari manusia itu sendiri, sesungguhnya menyingkirkan pula kunci untuk memahami paradoks ini, sebab paradoks semacam itu tidak mungkin dijelaskan dari luar, ia hanya bisa dipahami dari dalam, dengan menyelami jalinan rumit antara pikiran dan perasaan yang sekaligus menjadi sumber masalah dan sumber penyelesaiannya.
Dari titik inilah Dilthey membangun apa yang kemudian dikenal sebagai Lebensphilosophie, filsafat kehidupan, yang menjadi fondasi bagi hermeneutikanya. Langkah pertama yang ia tempuh adalah memisahkan secara tegas dua ranah pengetahuan yang selama ini dicampuradukkan oleh positivisme: Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften[vii].
Naturwissenschaften adalah ilmu-ilmu alam yang berurusan dengan objek-objek yang berada di luar dan asing bagi kesadaran manusia seperti benda, gerak, energi dan fenomena alam, sehingga metode yang tepat baginya adalah Erklären yang sarat akan paradigma mekanistis dengan menjelaskan lewat sebab-akibat dari luar seperti cara kerja fisika, kimia, geografi dan lain sebagainya.
Geisteswissenschaften, ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, sebaliknya, berurusan dengan ekspresi dan penghayatan kehidupan batin manusia yang terejawantahkan pada setiap laku lampah keseharian berupa ritual keagamaan, adat, budaya yang lahir dari pikiran dan perasaan lalu membentuk kesadaran manusia. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Geertz kelak bahwa pengetahuan senantiasa berakar pada simbol, makna dan praktik sosial yang khas[viii]. Dalam konteks ini, pembacaan atas manusia serta berbagai sisi yang melingkupinya dapat diakomodir dengan metode yang selaras dan dapat menangkap dimensi batiniah tersebut. Karena itu metode yang tepat baginya bukan menjelaskan dari luar, melainkan Verstehen, memahami dari dalam.
Untuk menjelaskan bagaimana proses memahami ini berlangsung, Dilthey merumuskan sebuah triad konsep yang saling berkaitan: Erlebnis, Ausdruck, dan Verstehen[ix].
Erlebnis, penghayatan, adalah titik tolak segalanya—pengalaman batin yang dijalani langsung oleh seorang subjek, sebelum diolah menjadi konsep atau kata-kata. Ia bukan sekadar peristiwa yang terjadi pada diri seseorang, melainkan peristiwa yang dihayati, dirasakan, dan diberi makna oleh yang mengalaminya sendiri; suka, duka, harap, dan cemas yang membentuk simfoni kesadaran yang hidup.
Ausdruck, ungkapan, adalah momen ketika penghayatan batin itu keluar dan mengambil bentuk lahiriah—lewat tindakan, karya seni, tulisan, institusi, ritual adat dan kegamaan atau lain seabaginya. Ungkapan inilah yang menjadi jembatan antara batin yang tersembunyi dan dunia yang bisa diamati bersama, sebab tanpa ungkapan, penghayatan batin seseorang akan selamanya terkunci dan tidak bisa diakses oleh orang lain.
Adapun Verstehen, memahami, adalah proses menafsirkan kembali ungkapan-ungkapan itu untuk menangkap penghayatan batin yang melahirkannya—sebuah gerak menelusuri jejak dari yang tampak menuju yang dihayati, dari teks menuju konteks batin penulisnya, dari tindakan menuju motif dan makna di baliknya.
Verstehen inilah yang kemudian ditegaskan Dilthey sebagai metode yang khas dan sah bagi ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, setara kedudukannya dengan metode empiris dalam ilmu sains, namun berbeda secara mendasar dalam cara kerjanya. Verstehen bukan sekadar menebak-nebak isi hati orang lain secara subjektif dan sembarangan, melainkan sebuah disiplin penafsiran yang bertumpu pada kemampuan manusia untuk mengenali sesamanya sebagai makhluk yang sejenis—bahwa penghayatan seorang penulis abad lampau, misalnya, masih bisa disentuh kembali oleh pembaca masa kini karena keduanya berbagi struktur kejiwaan yang sama sebagai manusia. Lewat Verstehen, sejarah tidak lagi dipandang sebagai rangkaian fakta mati yang perlu dijelaskan sebab-akibatnya secara mekanis, melainkan sebagai jalinan makna hidup yang menuntut untuk ditafsirkan dan dihayati kembali.
Pada titik inilah letak sumbangan besar Dilthey bagi filsafat dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Ia tidak menolak sains, tetapi mengingatkan bahwa sains punya batas ketika berhadapan dengan manusia sebagai makhluk yang bermakna, bukan sekadar objek yang berperilaku. Gagasan Dilthey ini di kemudian hari akan menjadi titik tolak dan diteruskan secara kritis oleh Weber, Heidegger, Gadamer, Habermas dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Dilthey, Wilhelm. Introduction to the Human Sciences. Diterjemahkan dengan pengantar oleh Ramon J. Betanzos. Detroit: Wayne State University Press, 1988.
Dilthey, Wilhelm. The Formation of the Historical World in the Human Sciences. New Jersey: Princeton University Press, 2002.
Geertz, Clifford. Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology. New York: Basic Books, 1983.
Hardiman, F. Budi. Seni Memahami Hermeneutika. Yogyakarta: Kanisius, 2015.
Ritzer, George, dan Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi Modern. Cetakan ke-6. Jakarta: Kencana, 2010.
[i] Teori sosiologi modern, George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Jakarta kencana, Cet.keenam,2010, Hal. 16-20.
[ii] Ibid.
[iii] Kritik ini tidak disampaikan oleh Dilthey secara langsung dan tersusun secara berurutan; ontologi, epistemologi dan aksiologi, seperti yang penulis kemukakan, melainkan kesimpulan yang penulis pahami dari beberapa karyanya.
[iv] Introduction to the human science, Wihelm Dilthey, tranlated with an introduction essay by Ramon J. Betanzos, Wayne State University Press, Detroit, 1988, Hal. 77-88.
[v] The Formation of the Historical World in the Human Science, Wihelm Dilthey, Pricenton University Press, New Jersey, 2002, Hal. 91-92 , 109 dan setelahnya.
[vi] Ibid., Hal. 91-97.
[vii] Seni Memahami Hermeneutik, F. Budi Hardiman, Kanisius, Yogyakarta, 2015, Hal. 66.
[viii] Local Knowlage, Clifford Gertz, Basic Book, New York, 1983, Hal. 73-93 dan 167-234.
[ix] Opcit., F. Budi Hardiman, Hal. 82-91.
Editor: Rafi Erlangga Kadarusman

