Mahasiswa Yang Utuh dan Pancasilais

Artikel Populer

Kopiah.co – Momen krusial dalam membangun sebuah bangsa yaitu menentukan dasar-dasar terbentuknya Negara. Dasar-dasar ini yang akan menentukan arah geraknya sebuah bangsa. Dalam konteks Indonesia, dasar-dasar Negara bergumul pada Pancasila. Pancasila lebih dari sekedar lima nilai karena di dalamnya terselubung cara pandang hidup masyarakat bangsa Indonesia di era dahulu, kini, dan yang akan datang. Oleh karena itu, Pancasila diberi istilah Weltanschaung.

Ketika buah galian Sukarno tersebut hadir, sejatinya bangsa Indonesia telah tertanam dalam jati dirinya sebuah titik temu; meja statis yang akan membuahkan kesatuan dan persatuan. Keistimewaan Indonesia terletak akan heterogenitasnya. Lebih istimewanya lagi, bangsa Indonesia inheren dengan keberagamannya yang mampu bersatu.

Mengenai fenomena tersebut, sejatinya, masyarakat Indonesia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan tabiat memiliki jiwa kebangsaan sedari dulunya. Berdirinya sebuah bangsa dimanapun, pasti memiliki unsur perbedaan. Tetapi, kebangsaan lahir dari jiwa yang satu; bersifat kasih sayang, gotong royong, dan menjadikan teritorial yang dipijak laksana baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur.

Selama masyarakat Indonesia tidak tergerus oleh perkara yang melunturkan kebudayaannya, Pancasila akan selalu bersemayam dalam jiwa bangsa Indonesia; baik era kini dan yang akan datang. Berbeda status; baik kelas sosial dan profesi, akan disikapi seutuh-utuhnya selaras dengan dasar, falsafah, dan tujuan Kebangsaan.

Mahasiswa Yang Seutuh-Utuhnya

Pancasila merupakan sebuah sistem yang sangat besar karena berkaitan dengan Kebangsaan. Karena Pancasila merupakan sebuah tujuan (maqshad), maka perlu wasilah-wasilah untuk menempa agar menjadi seorang Pancasilais. Berada di sistem yang menjadi wasilah Kebangsaan, perlu untuk dirangkaki agar mencapai tujuan tersebut. Tidak peduli sebagai status apapun, maka yang terpenting adalah bagaimana kita menjiwai dan menerjemahkan penjiwaan tersebut ke dalam aktivitas keseharian kita.

Menyandang status sebagai ‘mahasiswa’ merupakan anugerah terbesar. Sistem kemahasiswaan menjadikan kita berada di jalan yang tepat dalam segi rasionalitas demi tujuan Kebangsaan. Sebuah bangsa harus berdiri dengan pondasi rasionalitas. Maka, peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah bangsa dan menjadi generasi penerus sang tokoh-tokoh bangsa sebelumnya.

Sebuah refleksi yang patut kita pertanyakan ‘apakah kita telah benar-benar menjiwai karakter seorang mahasiswa’. Mahasiswa inheren akan ilmu pengetahuan. Sistem kemahasiswaan eksternal mengikuti ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu pengetahuan senantiasa menyongsong kebebasan dan bertransformasi setiap arus zaman. Maka, mahasiswa pun harus terus melaju. Mentalitas followers bukan ada pada jati diri seorang mahasiswa, melainkan mentalitas pembaharuan (Ibda’) yang harus terselubung di dalamnya.

Ilmu pengetahuan pun harus diuji kebenarannya di atas realitas. Hal tersebut juga yang harus disadari oleh para mahasiswa. Sebuah gagasan hendaknya tidak hanya mengendap di alam pikiran saja, melainkan harus diterjemahkan ke dalam aktivitas sosial. Kita menyadari bahwa kita hidup di alam yang nyata. Tugas seorang manusia yang diperintahkan oleh Tuhan, yaitu untuk mengelola segala hal yang ada di alam nyata agar menjadi terorganisir.

Keberhasilan akan sinkronisasi antara mahasiswa-ilmu pengetahuan harus berdiri di atas sistem kemahasiswaan internal. Kemahasiswaan internal meliputi aktivitas membaca, menulis, dan diskusi yang terus dipertahankan dalam praktik keseharian mahasiswa. Tanpa ketiga elemen tersebut, kita tidak bisa melangkah ke dalam sistem kemahasiswaan eksternal. Proses membaca, menulis, dan diskusi merupakan asupan untuk alam pikiran seorang mahasiswa. Maka, tidak mungkin akan ada elaborasi pada kenyataan yang riil, jika tidak ada asupan pada alam pikirannya.

Menjadi Mahasiswa Yang Pancasilais

Sebagai diaspora mahasiswa Indonesia, kita tidak bisa melepaskan kondisi psikologis-sosiologis bangsa yang teracik dalam Pancasila. Sejauh-jauhnya kita belajar, jiwa kita senantiasa terpatri pada bangsa Indonesia. Wajarlah, jikalau tantangan pertama yang akan dihadapi oleh seluruh diaspora yaitu perbedaan kebudayaan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya.

Ramuan agar cepat proses adaptasi akan hal tersebut, yaitu memaknai dan merenungkan Pancasila. Hasilnya, diaspora mampu beradaptasi secara apropriatif karena keteguhannya terhadap keyakinan psikologis-sosiologis Tanah Airnya. Disinilah kita akan menyadari bahwa Pancasila menjadi meja statis dan leitstar dinamis.

Mengenai leitstar dinamis, sebagai diaspora mahasiswa Indonesia, akan selalu dikelilingi oleh ilmu pengetahuan yang bermuara dari negeri tempat belajarnya. Jauh daripada itu, ketika kita belajar terkadang kita selalu kebingungan karena hasil bacaan tidak sesuai implementasinya di Tanah Air kita.

Merespon hal tersebut, yang perlu kita garis bawahi bahwa ilmu pengetahuan selalu memiliki metodologi-metodologi untuk menyimpulkan sebuah hasil. Metodologi-metodologi tersebutlah yang perlu kita simpan untuk menyimpulkan hasil yang baru. Hasil-hasil yang kita dapat bisa jadi telah usang, sehingga tidak relevan untuk diterjemahkan dalam bingkai Keindonesiaan. Bahkan, jika kita memaksa hasil yang tidak sesuai untuk diimplementasikan di Tanah Air kita, justru akan merusak tenun kebangsaan yang kita miliki.

Bung Karno menegaskan bahwa ‘Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat-budaya Nusantara yang kaya raya ini.’ Untuk itu, metodologi-metodologi yang kita bawa selepas belajar harus dipakai untuk menemukan hasil baru demi mewujudkan kehidupan berkebangsaan.

Hal tersebut berkaitan dengan Negara Pancasila sebagai Daar al-’Ahdi wa al-Syahadah. Indonesia merupakan sebuah negeri hasil konsensus para founding father Bangsa, supaya kita labuhkan didalamnya ‘ilmu ‘amaliyyah dan ‘amal ‘ilmiyyah. Tujuan akhirnya yaitu agar Indonesia merdeka secara politik, ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Mahasiswa sebagai agent of change sangat memiliki peran yang tinggi untuk mengimplementasikan tersebut. Di dalam karakternya, mahasiswa dituntut untuk memiliki kesadaran Teologi al-‘Asr dan al-Ma’un. Teologi al-‘Asr memberikan pelajaran bahwa mahasiswa harus menjadi golongan elite rasional. Dengan elitenya akan kerasionalan, mahasiswa dituntut untuk menjiwai Teologi al-Ma’un; mengangkat kaum proletar supaya berada dalam elite rasional.

Refleksi

Menjadi mahasiswa yang pancasilais merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika jati diri mahasiswa dan pancasila disintesiskan, maka kita akan menemukan bahwa mahasiswa yang utuh adalah mahasiswa yang akan menjadi kader-kader pemimpin bangsa, aktivis sosial, dan senantiasa bergotong royong untuk terus menenun kebangsaan.

Mahasiswa Yang Pancasilais tidak akan resistan terhadap perubahan, karena sejatinya mahasiswa secara dzatnya yang harus melakukan perubahan dan menggiring masyarakat menuju arah pembaharuan yang lebih sejahtera. Tetapi, perlu disoroti bahwa untuk menjadi agen perubahan, seorang mahasiswa harus merubah ‘apinya’ bukan ‘abunya’.

Perbedaan merupakan anugerah Tuhan. Tetapi, Tuhan menganugerahi akal pikiran kepada manusia untuk menemukan kesatuan dan persatuaan di dalamnya. Maka, Bhinneka Tunggal Ika merupakan sunnatullah yang harus tetap kita jaga. Sesuatu yang beda, jangan dipaksa untuk sama. Dan sesuatu yang sama, jangan dipaksa untuk berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Menakar Harga Sebuah Proyek: Ulasan Film “Pesta Babi” dan Nestapa di Tanah Papua

Penulis: Presinta Kusuma Wardani (University of Manouba, Tunisia) Kopiah.co, Tunisia – Pada Selasa, 12 Mei 2026, sebuah pemutaran film dokumenter...

Artikel Terkait