Api Islam: Membedah Relevansi Pemikiran Bung Karno dalam Dialog Internasional di Tunisia

Artikel Populer

Penulis: Fikran Munawwar, Peneliti Pusat Studi Islam dan Soekarno Kopiah.Co.

KOPIAH.CO – Pemikiran Sukarno kian tidak habis surutnya untuk dibahas. Relevansinya selalu bernafas dalam perkembangan zaman. Hal demikian terjadi karena pemikiran Bung Karno selalu mengambil sendi-sendi nilai yang utuh. Pemikirannya tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari rahim dinamika dan tekanan. Maka, tak heran jikalau daya kritis yang dikandung pemikirannya selalu terasa.

Pada 02/05/2026, di Elkram, Tunis, Tunisia, Indonesia di Paviliunnya menambah bahan bakar kobaran Pemikiran Bung Karno. Dialog antara Mohammed al-Haddad dan Zuhairi Misrawi menjadi kayu bakar terbesar dalam mengobarkan Pemikiran Bung Karno. Dialog dibungkus dengan tema “Api Islam: Pemikiran-Pemikiran Sukarno mengenai Keislaman, Kebangsaan, Kemanusiaan, dan Keadilan Sosial”.

Haddad mengungkapkan bahwa pemikiran Bung Karno memiliki rantai yang sejalan dengan pemikiran Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Arkoun. Ketika kita membaca ketiga pemikiran mereka; Bung Karno, Arkoun, dan ‘Abduh, maka kita sedang menerawangi bagaimana kebangkitan sesuatu umat terwujud dengan rasionalitas dan kesadaraan kebangsaan.

Frasa yang memiliki sorotan tajam pada dialog kali ini, yaitu Ruh al-Islam ; Api Islam. Frasa tersebut sejatinya mulai digemakan kembali ketika Revolusi Arab-Islam. Ketika nilai kemanusiaan ditindas, maka akan lahirlah sebuah revolusi. Api Islam menjadi bumbu kesadaran umat untuk meraih kembali kejayaan nilai kemanusiaan. Islam sejatinya tidak bertentangan dengan haluan kemanusiaan. Maka, ketika Api Islam digaungkan, seketika itu pula nilai kemanusiaan berusaha diraih.

Api Islam menjadi salah satu magnum opus pemikiran Bung Karno. “Dengan Api Islam, terlihat bahwa Bung Karno bukan hanya sebagai politikus biasa, melainkan Ia memiliki jiwa Filsuf dan Inklusif. Ketika karakter tersebut bergumul di dalam jiwa Sukarno, karakter tersebutlah yang mendorong untuk menempatkan Nasionalisme berada di titik puncak” ucap Mohammad Haddad.

Lulusan Universitas Sorbonne, Paris, Prancis tersebut sangat senang dengan adagium yang lahir dari mulut Si Singa Podium, yaitu Ambil apinya Islam, bukan abunya”. Bung Karno kerap berbicara bahwa Islam bukanlah agama yang penuh ritual dan simbol belaka. Maka, yang perlu kita ungkap dibaliknya adalah nilai-nilai Islam yang hendaknya dipahami dan dipraktikan.

Sukarno memang politikus ulung. Tetapi, baginya politik bukanlah semata-mata berbicara mengenai kekuasaan. “Di mata saya, Bung Karno mengajarkan bahwa politik adalah cara terbesar untuk memanifestasikan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Dan Bung Karno berhasil menaruh politik pada jalan hakikinya” pungkas murid Mohammad Arkoun tersebut.

Berbicara mengenai kebangsaan, Haddad menyoroti bagaimana terdapat keharmonisan antara ambisi Bung Karno dan Habib Burguiba. Sukarno, Sang Proklamator Indonesia dan Burguiba, Sang Proklamator Tunisia memiliki ambisi untuk memerdekakan bangsanya dari belenggu kolonialisme. Kolonialisme merupakan tantangan eksternal terberat yang dihadapi keduanya.

Terlepas dari tantangan eksternal, Bung Karno memandang bahwa tantangan internal adalah hal terberat yang harus dihadapinya. Indonesia merupakan sebuah negeri yang terdiri dari suku-suku dan bangsa-bangsa. Bung Karno tidak ingin Indonesia hanya terdiri dari satu suku dan bangsa saja, tetapi Bung Karno juga menginginkan persatuan. “Fenomena tersebut yang melahirkan sintesis pemikirannya bahwa Nasionalisme Indonesialah yang harus menjadi mesiu pemersatunya. Sehingga bangsa Indonesia terlatih untuk memiliki jiwa Bhinneka Tunggal Ika” ucap Haddad.Ia sangat tercengang tatkala membandingkan fenomena tersebut dengan apa yang terjadi di Lebanon. Lanjutnya, “Rasanya Lebanon hendaklah belajar dari Indonesia. Pasalnya, Lebanon hanya memiliki sedikit keragaman masyarakat dibandingkan dengan Indonesia yang berkali-kali lipatnya di segi perbedaan suku, bangsa, dan agama. Tetapi, Lebanon sangat sulit untuk bersatu bahkan hingga hari ini perang saudara terus berkecamuk”.

Ketika mendalami sosok Bung Karno, maka kita akan mendapatkan berlian bahwa keyakinan untuk memandang masa depan yang cerah harus selalu kita miliki. Dalam Islam, ajaran syahadat dikhususkan untuk individu; asyhadu. Mengapa tidak memakai dhomir ‘kita’ ; nasyhadu ? Hal tersebut dikarenakan bahwa keyakinan hendaknya dimulai dari sendiri dan harus tertanam selalu dalam relungan jiwa. Ketika kita memeluk Islam, maka kita juga harus yakin bahwa cerahnya hidup di dunia dan akhirat senantiasa menanti.

Untuk menyongsong kemerdekaan, perlu memiliki keyakinan untuk melihat masa depan yang cerah bagi bangsa kita. Bagi Bung Karno, kemerdekaan tidak bisa menunggu masyarakat sebuah bangsa untuk paham dan siap menerima kemerdekaan. Layaknya muallaf, jika seseorang menunggu paham mengenai Islam terlebih dahulu, maka seseorang tersebut akan semakin lama untuk yakin melihat masa depan yang cerah pada ajaran Islam.

Begitulah jika dikaitkan dengan siklus kemerdekaan pula. Jika terus dinanti, maka kemerdekaan senantiasa lama terwujud, bahkan suatu bangsa terlanjur makin diinjak. “Sebuah bangsa tidak akan berubah, kecuali masyarakatnya yang merubah nasib bangsanya. Begitulah firman Allah SWT pun berbunyi” ucap Zuhairi Misrawi ketika menanggapi kekaguman Mohammad Haddad.

Tentunya suatu umat menginginkan keadilan sosial dan kesejahteraan terwujud. Haddad sangat kagum dengan Muhammadiyah, selaku organisasi Islam yang kian memuncak di dunia Internasional karena kiprahnya dalam menginisiasi nilai-nilai kemanusiaan dan berkarakter inklusif. Ia juga kagum bahwa Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama selalu mengajarkan bahwa agama tidak boleh bersifat bahaya dan membahayakan, terkhusus di Indonesia. Agama hendaklah dijadikan acuan bahwa perdamaian senantiasa terwujud selalu.

Melalui pembacaannya terhadap Pemikiran Bung Karno, Haddad mendapatkan kesimpulan bahwa kebebasan jiwa, akal, dan pengetahuan menjadi kunci kemajuan sebuah umat. Ketika salah satu diantara ketiganya bernilai nol, hasilnya pun akan nol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Indonesia Bersinar di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40: Bedah Buku Ayyam fi Bali dan Filosofi Tri Hita Karana

Penulis: Fither Ahladzikri, Peneliti Pusat Studi Islam dan Soekarno, Kopiah.CO Kopiah.Co - Pada hari ke-6, di Pameran Buku Interasional ke-40...

Artikel Terkait