Menggugat Nafas Kasih Sayang dalam Ruang Multipolar

Artikel Populer

Melihat situasi politik internasional terkini, rasanya menjadikan sebuah negara tertentu sebagai arbiter mulai surut kepercayaannya. Kesimpulan sementara tersebut dikarenakan keadidayaan sebuah kekuasaan panggung dunia bukan hanya bipolar saja; melainkan multipolar. Tentunya, kepentingan antara satu negara dengan yang lainnya sulit ditarik benang merahnya untuk berjalan menuju visi perdamaian dengan bergotong royong. Ketidakpastian arah politik multipolar hari ini sebenarnya bisa direfleksikan kembali pada tonggak sejarah KTT Asia-Afrika yang dilaksanakan di Bandung, Indonesia pada tahun 1955, di mana ketidakpercayaan pada hegemoni Barat mulai disuarakan.

Malik Bin Nabi, cendekiawan bertanah air al-Jazair, melalui bukunya berjudul “Fikroh al-Ifriqiyya al-Asiyawiyyah fii Dhoui Mutamar Bandung” berpendapat “psikologis yang dimiliki oleh barat adalah rasa kolonialis”. Tesis tersebut masih relevan sedari dulunya hingga sekarang. Wajar, jika KTT Asia-Afrika menjadi fenomena serta momentum untuk menjawab ketidakpercayaan terhadap negeri Barat dan “bagaimana negeri terjajah/dunia ketiga mampu melepaskan penderitaannya yang dihujamkan oleh para penjajah?”. Aksi ini juga adalah tonggak utama yang menjadikan arus geopolitik global menjadi multipolar.

Jika kita menelisik KTT Asia-Afrika yang terhimpun 29 anggota dengan 5 pemrakarsa: Indonesia, India, Pakistan, Myanmar, dan Sri Lanka, mereka membuat aksi ini menggelisahkan dua blok negara adidaya; AS (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) yang berlomba-lomba menginjak rasa kemanusiaan dengan tujuan menjadi aktor utama panggung dunia.

Terdapat sebuah keajaiban dari kacamata ekonomi. Rata-rata pendapatan per kapita (per tahun) blok Barat kala itu; AS memiliki total $1823 dan Inggris $765. Pendapatan tersebut terpaut sangat jauh dengan para anggota KTT Asia-Afrika; yang memiliki rata-rata pendapatannya hanya $56 bahkan lebih kecil. Angka tersebut menunjukkan bahwa negeri Asia-Afrika menjadi objek eksploitasi sumber daya para kolonialis sehingga angka kemiskinan selalu terjadi bahkan meningkat.

Meski kelompok Kolombo (negara persemakmuran Inggris) memberikan $3 miliar dolar untuk menginvestasikannya melalui industrialiasasi di negara-negara Asia Tenggara, hal tersebut akan berada di tingkat maslahat tahsiniyyat karena maslahat dhoruriyyat di negeri ini belum tercukupi; kesenjangan ekonomi, taraf hidup yang mencekam, dan tingginya kemiskinan. Kesadaran akan kondisi tersebut yang membuat para pemimpin negara-negara anggota KTT Bandung berpendapat bahwa bantuan asing bukanlah satu-satunya kekuatan; melainkan internal masyarakatnya pun harus sadar dan melawan keadaan yang mencekam tersebut.

Menurut Bin Nabi, kekuatan dunia kala itu tergantung pada pendapatan perekonomiannya. Maka, secara ‘di atas kertas’ negara-negara Asia-Afrika tidak mampu melawan hegemoni barat. Tetapi realitanya, kekuatan himpunan ini mampu membangun solidaritas politik dan massa hingga melumpuhkan kekuatan Blok Barat-Timur.

Diantara 5 pemrakarsa, terdapat Indonesia yang dipimpin kala itu oleh Ir.Sukarno. Melalui kacamatanya, ia berpendapat bahwa “sesungguhnya kekuatan dunia ada pada negara yang memiliki sumber daya terbanyak”. Maka, dunia ketiga yang berhak untuk menguasai dunia; bukan dieksploitasi. Tetapi, psikologis Bangsa Indonesia bukanlah bersifat ekspansif-eksploitatif layaknya bangsa Barat.

Ia merumuskan bahwa sinyal antar negara harus memakai tower “Progressive Geopolitical Coexsistence”. Jika kita terjemahkan sinyal tersebut, selaras dengan teologi al-’Asr dan al-Ma’un yang berpendapat bahwa negeri yang kaya akan menjadi penguasa dunia, tetapi ia jangan lupa akan nilai luhur kemanusiaan yaitu saling menjalin perdamaian dan kasih sayang antar negara, supaya antar negara senantiasa terangkat derajatnya.

Dalam kacamatanya juga, Bung Karno berpendapat bahwa sebuah negara harus mengimplementasikan Trisakti; berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan. Dalam keadaan Vivere Pericoloso (hidup secara berbahaya), terkadang kita hanya mampu menjalankan sakti pertama, yaitu berdaulat secara politik.

Seringkali kita tersandung dalam sakti kedua dan ketiga. Berdikari secara ekonomi janganlah kita mengharapkan bantuan asing sebagai satu-satunya pertolongan. Sebuah bangsa harus sadar bahwa taraf hidup yang aman nan sentosa secara ekonomi harus dibangun melalui internal bangsa tersebut. Terkadang bantuan asing menjadi aksi manipulatif untuk masuknya neo-kolonialisme terhadap bangsa kita sendiri.

Berkepribadian dalam kebudayaan menjadi tantangan selanjutnya. Kita hidup dalam keadaan “gado-gado” atau “multikultural”. Takdir tersebut tidak bisa kita lawan, karena memang Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia dalam kondisi berbeda-beda. Dalam konteks diaspora mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri, hendaknya apa yang telah dipelajarinya disesuaikan dengan kondisi kognisi, sosial, psikologi orang Indonesia. Bung Karno memandang bahwa jadi Hindu jangan menjadi orang India, jadi Islam jangan menjadi orang Arab, kalau Kristen jangan menjadi Yahudi. Maka, tetaplah menjadi orang Indonesia dengan adat-budaya Nusantara yang kaya raya.

Penulis: Fikran Munawwar (Mahasiswa S1 Universitas Zaitunah, Fiqh wa Ushuluhu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Demokrasi di Persimpangan: Antara Kedaulatan Rakyat dan Dominasi Elite

Demokrasi sering kali diagungkan sebagai sistem pemerintahan terbaik yang pernah diciptakan manusia. Berakar dari kata Yunani, yaitu demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan). Narasi utamanya adalah kedaulatan berada di tangan rakyat. Namun,...

Artikel Terkait