Mengapa Kita Masih Berdoa?

Artikel Populer

Ahmad Khotibul Umam
Ahmad Khotibul Umam
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir

kopiah.co – Mungkin sebagian orang masih banyak yang bertanya, mengapa kita masih berdoa jika takdir telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah?

Pertanyaan sederhananya, mengapa kita masih diutus menaati Tuhan, jika segalanya telah ditetapkan, bukankah hal ini akan menjadi sia-sia jika kita telah berbuat baik, namun ditetapkan masuk neraka?  

Menjawab pertanyaan-pertanyaan nakal semacam ini, akan menjadi sebuah perdebatan panjang bagi kalangan teolog Islam. Pada tulisan saya, hanya akan menjawab mengapa kita penting memanjatkan doa.  

Membahas mengenai ketetapan dalam kehidupan ini, maka kita akan berhubungan dengan iradah Tuhan, sebagaimana dalam firmannya:
“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitāb (Lauḥ Maḥfẓ).” (Ar-Ra’d : 39)

Secara tekstual ayat itu mengabarkan kepada kita, apa yang ditulis oleh Allah di Lauh alMahfuz, dapat dihapus dan dirubah, tetapi ini dalam konteks yang umum.

Artinya,  di sini masih ada ketetapan yang bersifat “dilematis” (dilematis yang saya maksud, bukan sifat yang berkonotasi negatif, seperti plin-plan, atau bingung menentukan sesuatu.

Namun, dilema di sini memiliki arti bahwa suatu hal belum ‘benar-benar’ ditentukan). Maka hal ini bermakna, bahwa takdir kehidupan atau apapun masih bisa dinegosiasikan.

Allah masih memberikan kesempatan kepada seluruh makhluknya, untuk diajarkan cara bernegosiasi yang baik, sebagaimana dituangkan dalam bentuk ritual yang kita kenal dengan nama ‘Berdoa’.

Berdoa adalah bentuk negosiasi manusia kepada Tuhan. Maka, saya mencoba mengkorelasikan dengan potongan ayat yang lain dalam surat yang sama, sebagaiamana firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d : 11)

Ayat ini menjadi pendukung pada ayat sebelumnya. Maka apa yang harus dilakukan seorang hamba? Di Islam, kita dikenalkan dengan istilah ikhtiyar,yang dimaknai sebagai sebuah pilihan.

Artinya, kita juga diberikan pilihan untuk memilih baik atau buruk. Dalam padanannya, ikhtiyar dimaksudkan sebagai sebuah syarat untuk mencapai suatu maksud.

Artinya, ketika kita sudah berikhtiyar, yakni dengan memilih jalan terbaik kita, maka ketentuan selanjutnya mengenai baik-buruk adalah hak prerogatif Allah.

Namun dengan beberapa catatan, kita harus mau berikhtiar secara totalitas, selain hanya berusaha menjadi baik, maka ritual peribadahan seperti berdoa, akan menjadi keniscayaan seorang hamba, yakni sebagai media untuk bernegoisasi kepada Tuhan.

Sebagaimana di beberapa firman Allah, siapa yang bersungguh-sungguh dalam hal berbuat kebaikan, niscaya Allah akan mengubahnya dengan balasan dan kehidupan yang baik pual.

Secara tidak langsung bahwa kita bisa bernegosiasi mengenai takdir kita kepada Tuhan, selaras apa yang hendak kita capaikan.

Contoh diumur 35 tahun saya ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi seorang guru, tetapi setelah saya mengenal musik, saya mulai belajar musik.

Pada akhirnya, di umur ke-35 saya ditakdirkan menjadi musisi. Karena di ayat tersebut tertulis (dapat mengubah keadaan) bukan yang lainya. Dan mungkin, jika Allah berkehendak, maka saya ditakdirkan menjadi guru dan musisi atau keduanya (guru seni).

Namun, beberapa orang masih menyatakan, saya sudah melakukan demikian, dan berusaha demikian, bahkan melakukan ritual berdoa juga tengah demikian, dan seterusnya. Sebagaimana dalam firman Allah:

 “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”(Al-Baqarah : 216)”

Ayat ini seringkali dijadikan jawaban terkait masalah-masalah kehidupan yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, serta menjadi jawaban yang dapat mewakili dan bisa diterima.

Karena pada dasarnya, jika kita kembali pada poros nama-nama Allah, semuanya merujuk pada sifat ar-Rahman dan ar-Rahim. Menunjukan bahwa Allah adalah  sang maha pengasih, siapapun yang mendekatkan diri kepada Allah, maka tentu ia akan direspon.

Sedangkan, pentingnya berdoa di dalam kitab Al-Hikam

 “Bagaimana mungkin doa yang datang kemudian mempengaruhi pemberian Allah yang sudah tertulis sejak zaman Azali”

Menandakan bahwa berdoa adalah identitas kita seorang hamba yang ditugaskan oleh Allah untuk beribadah dan berdoa,dan rasa selalu butuh kita kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait