Menyemarakkan Tradisi Hari Raya Bersama Keluarga Tunisia

Artikel Populer

Kopiah.Co – Allahu akbar! Allahu akbar! La ilaha illallahu wallahu akbar! Allahu akbar walillahil hamd!

Takbir berkumandang memecah keheningan, beriringan dengan rasa syukur atas nikmat dan rahmat dipertemukan kembali dengan hari nan fitri ini.

Bagi saya, mengalami hari raya yang ketiga kalinya selama merantau di Negara paling utara benua Afrika ini, nyatanya memberikan nuansa yang begitu berbeda. Pagi hari berbondong-bondong menuju jami’ Zaytunah bersama teman-teman, menjadi hal langka sekaligus istimewa dan menjadi kebahagiaan yang tak terhingga. Sebab, momen kebersamaan ini sedikit mengobati rasa rindu akan keluarga nan jauh di seberang benua sana.

Lebaran tahun ini sangat berbeda dan membahagiakan, karena saya dan teman-teman bisa melaksanakan salat di jami’ atau masjid agung. Mengingat dua tahun terakhir akibat pandemi covid-19, membuat pemerintah Tunisia melarang warganya melaksanakan salat idulfitri di jami’.

Sekadar informasi, bahwasanya di Tunisia makna Jami’ dan masjid berbeda. Bagi warga Tunisia, jami’ digunakan untuk shalat lima waktu, shalat jum’at, dan dua hari raya (idul fitri dan idul adha). Sedangkan masjid hanya diperuntukkan untuk shalat lima waktu saja.

Setelah menjalani beberapa rangkaian sakral hari raya bersama teman-teman Indonesia di Tunisia, dengan memulai salat idulfitri bersama, bersalaman, saling meminta dan memberi maaf, lalu ditutup dengan halalbihalal di Sekretariat Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia, kegiatan pun saya lanjutkan dengan melakukan perjalanan dari kota Tunis menuju kota Binzerte untuk silaturahmi ke rumah teman Tunisia sekaligus menyelami tradisi warga Tunisia dalam menyemarakkan hari raya.

Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam 30 menit perjalanan dari kota Tunis sehingga sampai di Manzl Bourgiba, salah satu wilayah yang berada di kota Binzerte.

Seperti biasa, kedatangan saya selalu disambut dengan penuh kehangatan oleh keluarga besar teman Tunisia saya ini. Kunjungan kali ini pun menjadi kunjungan kelima kalinya.

Namanya Eyya. Teman Tunisia saya yang sangat ramah dan apa adanya. Persahabatan antara saya dan Eyya pun sudah berlangsung sedari awal saya berkuliah di Zaitunah. Ya, ia merupakan mahasiswi di Universitas Al-Zaitunah juga, sama seperti saya.

Kembali dengan keunikan tradisi warga Tunisia. Bagi warga Tunisia, hari raya tidak dijadikan sebagai momentum untuk saling bermaaf-maafan kepada teman atau sanak saudara, melainkan hanya sekedar untuk berkumpul bersama keluarga ditemani dengan meminum teh dan halawiyat (manisan).

Ucapan yang akan kita dengar ketika berjumpa dengan warga Tunisia ialah “id mabruk atau id mubarak”, yang berarti selamat hari raya yang penuh berkah. Kemudian acapkali dijawab dengan “snin deyma kol aam wnty haya bkhir raby yaahik lamthlou”, yang artinysa semoga setiap tahun kamu hidup dengan baik, begitu juga tahun-tahun berikutnya.

Yang menarik, warga Tunisia menghidangkan manisan atau kue-kue lebarannya dengan hasil buatannya sendiri. Mereka membuat berbagai macam jenis kue-kue manis sehari sebelum hari raya. Seperti jouza, makrud, bachlawa, ghuraibah, dan lain sebagainya.

Juga ada makanan spesial seperti Mloukhia, daging sapi yang dibalur dengan bumbu khas Tunisia bernama Mloukhia. Jika di Tanah Air, bagaikan rendangnya Indonesia. Tetapi rasa dan tampilannya sangat berbeda.

Molukhia ini warnanya hitam dan rasanya sedikit pahit. Sehingga, membuat saya tidak begitu meliriknya. Namun sangat disukai oleh warga Tunisia. Terlebih makanan ini hanya dimasak setiap ada perayaan tertentu atau hari-hari besar, seperti maulid nabi, hari raya, atau walimatul ursy (pernikahan).

Tradisi hari raya di Tunisia lainnya adalah adanya tradisi bagi-bagi uang kepada sanak saudara. Di Indonesia, kita mengenalnya dengan sebutan angpao idul fitri. Biasanya, anak-anak kecil akan menerima uang mulai dari 500 milim, satu dinar Tunisia, hingga 20 dinar Tunisia. Memang tidak ada patokan khusus terkait jumlah angpao yang diberikan, melainkan makna didalamnya adalah kasih sayang dan penuh cinta.

Selain itu, warga Tunisia juga mengunjungi dan menjumpai tetangga di sekitar rumahnya, sekadar untuk mengucapkan selamar hari raya dengan mencicipi kue-kue buatan tetangganya itu. Kemudian, mereka akan berkumpul dengan keluarga besar di rumah nenek dan kakek bersama kerabat terdekat lainnya sembari bercengkrama, berbincang-berbincang, dan berfoto bersama.

Fakta tradisi di Tunisia lainnya, jika terdapat anggota keluarga yang bekerja di luar negeri, mereka tidak pulang ke Tunis untuk merayakan hari raya bersama. Sebab, memang tidak ada tradisi mudik seperti di Indonesia. Mereka para diaspora Tunisia akan memilih liburan musim panas untuk kembali ke rumahnya atau pulang kampung.

Tunisia, sebagai negara yang kecil, sehingga jarak antar kota di Tunisia tidak begitu jauh, membuat hari raya ini tidak menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk pulang kampung bagi warga Tunisia. Karena mereka biasa pulang kampung setiap liburan musim dingin, musim semi, dan musim panas.

Negara yang berbatasan dengan Italia ini memang kaya akan budaya. Khususnya dalam menyemarakkan hari raya idul fitri ini. Sejak malam takbiran sampai malam-malam setelahnya, warga Tunisia menghidupkannya dengan bersuka cita. Mereka mendendangkan banyak lagu-lagu dan nasyid seraya menari dengan tarian chtih — tarian khas warga Tunisia.

Itulah sedikit cerita tentang tradisi hari raya di Tunisia yang sangat mengesankan. Meski baru saya nikmati pada tahun ini, karena tahun-tahun sebelumnya segala kegiatan terbatas akibat pandemi.

Namun begitu, nuansa ini memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi saya. Sebab, akan ada lembaran kisah yang menarik dari setiap tahunnya, yang akan selalu saya ingat dan ceritakan nantinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ambisi Putin Merengkuh Mitos Sejarah

Beragam sanksi dan ancaman bertubi-tubi datang kepada Rusia, namun tidak ada iktikad baik dari Putin untuk mengakhiri invasi militernya...

Artikel Terkait