Babak Baru Hubungan China-Tunisia : Seberapa Penting Kerjasama Kedua Negara?

Artikel Populer

Kopiah.Co — Pada 28 Mei 2024, Presiden Kais Saied bertolak dari Tunisia menuju China untuk lakukan kunjungan kenegaraan atas undangan dari Presiden Xi Jinping. Kunjungan ini dilakukan selama lima hari dari 28 Mei sampai 1 Juni 2024. Presiden Saied berpartisipasi sebagai tamu kehormatan dalam pertemuan tingkat menteri kesepuluh Forum Kerja Sama Arab-China yang akan diselenggarakan pada 30 Mei 2024 di Beijing.

Kehadiran Presiden Kais Saied ini juga untuk memperingati 60 tahun hubungan bilateral Tunisia dan China sekaligus menegaskan bahwa hubungan kedua negara semakin erat dari masa ke masa.

Selain Presiden Saied, turut hadir sebagai tamu kehormatan adalah Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, Presiden Mesir Abdul Fattah Sisi dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selain tentunya hadir juga para Menteri dari 22 negara yang tergabung dalam Liga Arab.

Sejak terjalinnya hubungan diplomatik Tunisia-China pada tahun 1964, China dianggap sebagai mitra paling strategis bagi Tunisia di kawasan Asia. Menurut data Kementerian Luar Negeri, sejak tahun 1961 hingga 2023 tercatat sudah ada 60 penandatangan kesepakatan antara kedua negara di berbagai bidang. China juga tercatat telah memberikan beberapa hibah yang memungkinkan penyelesaian sejumlah proyek infrastruktur, seperti gedung Arsip Nasional, Kompleks Kebudayaan dan Olahraga di Menzah 6, dan gedung Akademi Diplomatik, yang didanai oleh sumbangan sebesar $30,6 juta/85 juta dinar.

Hubungan kedua negara ini belakangan semakin erat. Puncaknya adalah ketika diberlakukan bebas visa bagi warga negara China pada Agustus 2023 lalu dengan harapan wisatawan China yang datang ke Tunisia terus meningkat. Pemerintah Tunisia juga mempercayakan beberapa proyek-proyek strategis ke perusahaan China. Seperti yang terbaru adalah penyelesaian renovasi Stadion Olimpiade Menzah yang sudah lama mangkrak dan pembangunan jembatan utama di Bizerte.

Dalam sektor Ekonomi, nilai ekspor fosfat Tunisia ke China juga meningkat tajam mencapai 1,4 milyar dinar, 50% lebih tinggi dibandingkan tahun 2022. Inilah salah satu alasan yang menjadikan China sebagai mitra dagang terpenting keempat bagi Tunisia setelah Prancis, Italia dan Jerman.

Sebagaimana diketahui pula, bahwa saat ini Tunisia sedang berada di dalam krisis ekonomi. Komoditas utama yang sedang gencar dan dimaksimalkan oleh pemerintah sebagai penopang kebangkitan ekonomi Tunisia saat ini adalah fosfat, minyak zaitun, kurma dan pariwisata. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,4 milyar jiwa ditambah hubungan diplomatik yang semakin baik tentu saja China dinilai sebagai pasar yang menggiurkan bagi Tunisia.

Dengan kunjungannya ke China ini, Presiden Saied ingin menjalin kerja sama dan menarik investasi yang lebih besar lagi yang kemudian bisa didiversifikasikan ke dalam berbagai sektor, seperti transportasi, pendidikan, teknologi, kesehatan dan lain-lain.

Selain itu, melihat betapa strategis posisi China dalam panggung global saat ini dan kemajuan negara-negara Asia lainnya, beberapa pengamat kebijakan politik luar negeri Tunisia juga telah mengkampanyekan agar Tunisia segera membuka poros baru bagi geopolitik dan geoekonomi internasionalnya supaya tidak terlalu bergantung lagi terhadap Eropa. Mereka menilai bahwa negara-negara Asia kedepan akan menjadi pemain terpenting dalam percaturan global. Masa depan yang lebih cerah akan berada di Asia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muslim Progresif : Paradigma Berpikir Omid Safi Tentang Keadilan, Gender dan Pluralisme

Oleh : Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah Kairouan Tunisia Kopiah.Co — Di era modern yang semakin...

Artikel Terkait