Bias Sosiologi Negatif; Analisis Pemikiran Hassan Hanafi

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Apa tujuan dari sosiologi?

Apa standardisasi yang mungkin dipakai dalam mengukur keakuratan teori sosiologi, khususnya dalam ilmu pengetahuan? Pertanyaan ini perlu diajukan karena melihat beberapa fakta dalam kajian Islam kontemporer, yang mana seringkali dalam berwacana berfokus pada sisi sosio-historis dibanding ilmu itu sendiri. Sebagai contoh, kita bisa melacaknya pada kerja pemikiran Hasan Hanafi, seorang pemikir besar dari Mesir yang begitu terkenal dengan proyeknya berjudul ” Al-Turats wa al-Tajdid“.

Secara sederhana, Al-Turats wa al-Tajdid yang digagas Hasan Hanafi berangkat dari kegelisahannya atas realitas masyarakat muslim Arab yang kian terbelakang.  Persaingan (pertarungan) dunia modern, selain bertumpu pada persaingan ekonomi dan militer, tapi yang paling penting dan menjadi asas dari keduanya bagi Hasan Hanfi adalah persaingan dan pertempuran dalam pemikiran. Kekalahan dan ketertinggalan bangsa Arab tersebab kesalahan mereka dalam masalah nalar pemikiran yang hal itu disebabkan pula karena warisan pemikiran yang telah tertanam kuat dalam mental masyarakat Arab.

Krisis kemanusiaan kontemporer tidak hanya terlihat dari fakta keterjajahan atau kehilangan Tanah Air, tapi bahkan lebih parah dari itu, ialah matinya  kemerdekaan sejak dalam pikiran yang ia sebut sebagai kematian ruh. ( lihat Al-Turats wa al-Tajdid, hal. 174, cet. al-Hindawi)

Bagi Hasan Hanafi, yang melatarbelakangi perlunya wacana al-Turats wa al-Tajdid setidaknya berangkat dari dua krisis besar yang menimpa bangsa Arab. Pertama, krisis reformasi masyarakat. Kedua, krisis metodologi kajian ilmu-ilmu Islam.  Perihal krisis dan gagalnya masyarakat Arab melakukan reformasi, baik melalui prasarana turas masa lalu atau yang masa kini, itu memiliki beberapa faktor, dan diantaranya di bawah ini:

  • Dominasi nalar teologis dalam pemikiran umat
  • Mandegnya upaya dakwah melalui jalur pemikiran
  • Gagalnya merubah ranah teologi menjadi ranah rasionalitas, kemudian ditransformasi lagi menjadi ranah Ideologi
  • Kecenderungan memerangi segala hal yang berbau pembaharuan
  • Merubah realitas melalui kekuasan, bukan malah memfungsikan kuasa dan potensi rakyat (umat)

Selain krisis reformasi sosial, Hasan Hanafi juga menyoroti dengan tajam krisis metodologis yang membuat umat kian terpuruk. Salah satu poin utama dari metodologi turas yang musti ditajdid adalah karena kecenderungannya pada pengulangan-pengulangan pasif sebagaimana terlihat dalam model kitab-kitab matan, syarah dan hasiyah.

Model pengulangan semacam ini tidak akan membawa kebaruan yang berarti bagi kenyataan hidup umat Islam. Dari titik ini, akhirnya ia beranjak pada langkah-langkah al-Turats wa al-Tajdid yang berkonsekuensi pada rekonstruksi atau penyusunan kembali ilmu-ilmu Islam. Karena kajian Hasan Hanafi meluas ke berbagai fenomena mutakhir bangsa Arab, maka hal itu berdampak pada meluasnya proyek al-Turats wa al-Tajdid yang ia gagas. Mulai kajian humaniora, filsafat atau ilmu aqliyat, sampai pada ilmu-ilmu naqliyat.

Kita ambil satu saja contoh penerapannya dalam ilmu naqliyat misalnya, yang dalam hal  ini mencakup empat disiplin Ilmu: ulmul quran, ulumul hadis, tafsir dan fikih. Bagi Hasan Hanafi, perlu adanya pembahasaan ulang dari istilah-istilah yang dipakai pada turats. Seperti konsep asbab nuzul yang lebih pas diartikan sebagai kefundamentalan realitas di atas teks (awlawiyatul waqi’ ala nash), dan konsep nasikh mansukh yang diartikan ulang menjadi konsepsi waktu dan evolusi.

Kemudian dalam tafsir, hendaknya kita meninggalkan gaya penafsiran lama yang cenderung pada penafisran ayat-ayat dan dari surat ke surat. Begitu juga gaya menafsirkan teks yang berkutat pada pendeketan bahasa, sastra dan fikih, itu semua mesti diganti. Yang lebih pas untuk saat ini adalah dengan menghidupkan “kesadaran” penafsir agar ayat bisa hadir ke tengah-tengah kehidupan dan bisa memberi inspirasi dalam sistem kehidupan yang beragam.

Dalam ilmu hadis, kita perlu menganalisis kesadaran seorang perowi dalam memberikan riwayat, lalu beralih kepada kritik rasional dan empiris secara langsung terhadap matan suatu hadis. Lalu dalam ilmu sirah nabawiyah, perlu ada pengalihan dari kajian eksistensi personal menjadi eksistensi ide. Dari sini, kita akan berhasil mempersonalisasi ide-ide kenabian secara aktual dan relevan.

Adapun dalam bidang fikih, rekonstruksi bisa dilakukan cukup dengan mengedepankan kajian-kajian muamalat dari pada kajian ubudiah dan mermuskan undang-undang negara sesuai ahwal al syakhsiyah. ( lihat hal. 178)

Tidak sampai di situ, Ilmu Kalam pun tak luput dari upaya rekonstruksi Hasan Hanafi. Baginya, kajian ilmu kalam yang sampai kepada kita adalah warisan dialektika masa-masa awal Islam yang berkutat seputar esensi dzat, sifat-sifat dan menegaskan tanzih (kesucian) pada dzat Tuhan. Itu wajar terjadi karena tantangan umat pada masa itu ialah hal-hal semacam itu, akan tetapi hal tersebut tidak dibutuhkan lagi pada masa sekarang karena yang lebih dibutuhkan adalah spirit revolusi untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.

Oleh karena itu, jika objek ilmu kalam pada masa lalu adalah dzat Tuhan, maka untuk saat ini, terpaksa hal itu harus dirubah, yaitu diri manusia itu sendiri (insan kamil), yakni beralih dari teosenstris berubah menjadi antroposentris.

Apa yang dituliskan di atas, adalah gambaran kecil dari proyek besar Hasan Hanafi perihal al-Turats wa al-Tajdid. Dan tidak bisa dipungkiri, wacananya itu memancing gemuruh perdebatan wacana pada masa-masa setelahnya. Pro dan kontra tidak bisa dihindari. Karena saking maraknya wacana tajdid

pemikiran Islam, sampai-sampai Al Azhar bikin muktamar khusus mebahas tema ini.

Mari kembali pada pertanyaan di atas, apa standarisasi dari sosiologi ilmu pengetahuan sebagaimana yang dirintis oleh Ibnu Khaldun. Hal ini menjadi penting, karena dalam pemikiran Hasan Hanafi misalnya, teori-teorinya berangkat dari gabungan analisis antara ilmu dan realita, turas dan umat, warisan dan mental masyarakat dan seterusnya.

Apa jadinya ketika kita melihat sesuatu bukan dari dirinya secara langsung, melainkan dari faktor-faktor yang lain. Misalnya, kita asumsikan bahwa santri adalah faktor kemunduran umat muslim Indonesia karena kecenderungannya pada nilai dan sistem tradisional.

Atau yang dalam fakta yang aktual, yakni mengei hancur leburnya Palestina karena dibombardir oleh zionis Israel. Dimanakah kekuatan Islam? Mana kekuatan bangsa Arab? Atau spesifiknya, mana peran al Azhar dalam memecahkan krisis kemanusiaan yang menimpa bangsa Palestina dan umat muslim di sana? Jangan-jangan, ketidakberdayaan kita karena model pembelajaran yang khas ilmu-ilmu tradisional? Kalau benar demikian, perlukah kita melakukan tajdid dengan cara merubah bangunan-bangunan keilmuan tersebut?

Meski mungkin untuk diajukan, tapi pertanyaan di atas jelas menyimpan kenaifan belaka, karena bagaimana mungkin suatu model doktrin dan pembelajaran dibebani dengan hal-hal yang justru tidak berkaitan secara langsung dengannya. Tapi untuk melawan asumsi-asumsi tersebut, kita juga butuh nilai-nilai utama yang bisa menjadi acuan. Sekali lagi, kita mesti bertanya, adakah nilai-nilai absolut dari sosiologi ilmu pengetahuan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait