Etika sebagai Pedoman Berpolitik

Artikel Populer

Arini Saila Haq
Arini Saila Haq
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir

Kopiah.co – Pada umumnya, manusia seringkali merasa bahwa dirinya sudah baik dan benar, sebab dalam diri manusia memang ada dorongan untuk melakukan kebaikan. Meski begitu, manusia pun dapat dengan mudah melakukan keburukan atau kejahatan. Dalam praktik politik, sikap ambigu seperti ini nyatanya tidak sulit kita temukan.

Ketika kampanye berlangsung, para politisi seringkali bermanis muka, tampil di hadapan publik dengan memakai jubah kepahlawanan demi mendapat penilaian publik bahwa ia sanggup menyelesaikan problematika yang ada. Kebanyakan dari mereka masih dikuasai keinginan untuk berkuasa, ketimbang berusaha menjadi pemimpin yang baik sekaligus penyalur aspirasi bagi rakyatnya. Mereka kerap melupakan begitu saja janji-janji manis kampanye setelah mendapat kekuasaan.

Dari sini, politik dinilai identik dengan cara-cara bagaimana kekuasaan dapat diraih. Nilai etis politik kita seolah fokus pada kompetisi antar calon pemimpin sekaligus mengabaikan nilai moral yang ada. Harga jabatan politik dinilai setara dengan jumlah uang yang harus ditanggung politisi. Hal ini menjadi salah satu contoh menjalankan pemerintahan tanpa diiringi etika politik yang pada dasarnya memiliki urgensi untuk dikaji kembali.

Etika politik dapat dimaknai sebagai filsafat moral mengenai dimensi politik kehidupan manusia, menyangkut kewajiban moral dalam berpolitik dengan mempertanggungjawabkan seluruh tindakan politiknya sesuai norma yang berlaku di kehidupan manusia.

Dalam praktiknya, etika politik diwujudkan melalui perilaku politik berupa sikap toleran, tidak arogan, tidak melakukan kebohongan pada publik, dan menjauhi berbagai tindakan tidak terpuji lainnya. Etika politik tentu harus menjadi pedoman utama dalam menjalankan politik yang santun, cerdas, dan menempatkan kepentingan bangsa serta negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Pemikiran seorang filsuf sekaligus politikus zaman Renaisans yang terkenal dengan sebutan bapak politik modern sempat membuat saya bertanya-tanya. Beliau adalah Niccolo Machiavelli. Karyanya banyak menuturkan tentang etika dalam berpolitik, meskipun ia juga dikenal sebagai politikus yang menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. Machiavelli berpendapat bahwa seorang penguasa tidak perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan moral dalam menjalankan kekuasaaannya. Tentu pendapat ini muncul sebagai refleksi atas fenomena politik yang berlangsung ketika ia hidup.

Dari sini, saya justru penasaran, apakah Islam memiliki konsepsi perpolitikan yang erat kaitannya dengan etika secara umum?

Menurut pandangan Islam, kepemimpinan sesungguhnya adalah amanah dan tanggung jawab yang tidak hanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan sesama anggota atau golongan tertentu, melainkan juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sehingga, pertanggungjawaban kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal-formal sesama manusia, tapi juga vertikal-moral kepada Allah SWT.

Dengan senantiasa mengingat bahwa kekuasaan dalam Islam adalah amanah, maka kekuasaan politik bukanlah tujuan akhir dalam kontestasi perpolitikan. Kekuasaan justru menjadi alat perjuangan dari cita-cita moral dan kemanusiaan, di samping menjadi sarana beribadah serta ber-fastabiqul khairat. Prinsip ajaran Islam berupa sifat atau kualifikasi seorang pemimpin inilah yang merupakan bagian dari etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wabakdu, bentuk negara dan pemerintahan menurut konsepsi pemikiran politik Islam tidaklah mutlak, yang bersifat mutlak ialah moralitas kemanusiaan atau akhlak karimah. Membangun sebuah negara berarti menyusun sistem politik di mana keadilan, musyawarah, dan kebebasan berpikir dapat hidup serta berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Etika dalam berpolitik harus senantiasa berpegang pada nilai-nilai tersebut. Sehingga dalam praktik kehidupan politik, politisi tidak memahami hakekat politik secara sempit dan konservatif. Moral politisi tentu merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih calon pemimpin, mengingat di tangan merekalah segala kebijakan publik yang menyangkut kehidupan rakyat dipertaruhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait