Mengingat Nabi, Kok Pas Maulid Aja?

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Kopiah.co – Kalau boleh saya bertanya, sekalipun pertanyaan itu sengaja saya peruntukan untuk diri sendiri, “Mengapa kita harus mengingat Nabi?” Benarkah selama ini kita telah mengingat Nabi, atau jangan-jangan kita hanya mengingat Nabi pas maulid aja? Karena kita tumbuh di lingkungan Muslim, sehingga sungkanrasanya jika tidak merayakan maulidan. Jika memang demikian, maka maulidan hanyalah semacam agenda kebudayaan yang perlu dilaksanakan sesuai gilirannya.

Dari Maulid, sebenarnya apa yang hendak kita rayakan? Maulidannya, yakni tanggal atau hari yang mebngikuti pergerakan pada rotasi bumi sehingga menghasilkan waktu, atau seperti apa? Saya mengharapkan jawaban apa saja, namun yang pasti peristiwa maulidan dapat dimaknai sebagai simbol yang telah lahir dari pemaknaan mengenai cinta.

Bagaimana mungkin, kita yang sepanjang hari disibukkan dengan kepentingan diri,  tiba-tiba saja ketika bulan maulid datang mengingat hari kelahiran sang Nabi?

Peristiwa kelahiran Nabi, adalah bukti jawaban dari segala misteri kehidupan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT sejak para Nabi terdahulu. Jawaban sebagai kabar gembira yang disampaikan Nabi Isa As. kepada umatnya.  Bahkan tidak hanya kaum nasrani saja, jika berkenan, mari kita baca sejarah pergerakan manusia dari purba kala, mereka tak henti mencari sesuatu yang menyangkut hakikat.  

Sayangnya, mereka tak kunjung mendapatkan jawaban yang tepat. Sehingga, mereka terjebak pada pencarian makna mengenai apa itu kehidupan, apa itu kebenaran, di mana kah letak kebenaran dan bagaimana cara kita berjalan menuju yang esa, jawabannya tak kunjung utuh dan tak bisa menyeluruh.

Maka ketika Muhammad SAW lahir,  semenjak itu lah ada cahaya yang hadir sebagai penerang gulita sejarah yang dicari selama ini. Kelahirannya, mampu menjelaskan kepada manusia apa-apa tentang esensi kemanusiaan yang telah lama terkepung oleh gelap dan keterasingan. Jadi, peristiwa maulid adalah peristiwa eksistensial. Sang kekasih semesta raya yang di tunggu-tunggu dan dipuja-puja,  mampu mengisi ruang hampa kehidupan kita.

Muhammad SAW sebagai sosok guru kebenaran, mampu menghabisi sisi kejahiliahan kita. Karena terkadang, seringkali kita tidak mengindahkan ilmu yang kita miliki. Seperti contoh, kita tahu merokok tidak dianjurkan demi kesehatan kita, tapi setelah tahu, faktanya kita masih saja merokok. Atau, seorang pengidap penyakit, dilarang dokter untuk makan makanan tertentu, namun karena keinginannya untuk tetap memakannya, ia tetap saja memakan dan melawan larangan tersebut.

Berkat dirinya, kita, makhluk duniawi berkesampatan mengenal dan mengerti apa itu syariat yang diturunkan dari langit, yang terkadang makhluk duniawi juga sering menerobos batas kepatuhannya. Namun, bukan berarti apa yang dibawa Nabi berupa ilmu-ilmu pencerahan dan ajaran kebijaksanaan itu tak berguna.  Bukan sama sekali. Namun Nabi memiliki posisi lebih dari itu.

Nabi tidak hanya sebagai pengajar untuk menjadi contoh yang baik ( uswatun hasanah), namun ia juga sebagai penyedia cahaya yang selalu kita butuhkan, sehingga kita dapat beralih dari sisi gelap kehidupan. Dialah cahaya. Keindahan. Warna-warni keelokan. Kesejatian. Kedamaian. Dialah wewangian purbani yang berasal dari kebenaran itu sendiri.

Personifikasi seperti ini, lantas tidak menjadikan status kemanusiaannya berubah menjadi anak tuhan, sebagaimana dipahami dalam konsep agama kristiani. Atau, seperti pemujaan kepada dewa-dewa (panteisme) seperti yang terpahami dalam konsep dewa-dewa misalnya.

Bukan, Muhammad adalah manusia biasa seperti kita.

” Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu”. ( Surat al Kahfi: 110)

Ia adalah Nabi, manusia yang membuka titik pertemuan antara langit dan bumi; pembawa risalah Tuhan yang suci sebagai wejangan ilahi, untuk dapat dipahami oleh makhluk yang berjasad seperti kita ini.

Maulid tidak hanya tentang bagaimana peristiwa kelahiran yang menjadi tonggak sejarah kenabian, atau dipahami sebatas hari-hari dan bulan yang kuantitatif  belaka. Tapi maulid adalah perayaan pencerahan universal yang harus dirawat atas kesadaran dan prinsip secara terus menerus.

Sebagaimana kita mengenal, bahwa Islam bukan sebatas agama dan sejarah yang sampai kepada kita dengan tiba-tiba. Ada proses perjuangan di sana: melibatkan air mata, darah dan bahkan nyawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait