Filosofi Komunikasi Efektif ala Taha Abdurrahman

Artikel Populer

Nizam Noor Hadi
Nizam Noor Hadi
Mahasiswa Universitas AL-Azhar Mesir

Komunikasi efektif itu penting. Ya, baik disadari atau tidak, komunikasi merupakan alat utama manusia untuk menyampaikan pemikirannya. Apalagi sebagai makhluk sosial, manusia ditakdirkan untuk hidup bersosial dan bermasyarakat, tentu dibutuhkan perantara berupa komunikasi agar tercipta interaksi sosial yang ideal. Seluruh isi pikiran sampai unek-unek yang dimiliki oleh seseorang akan tersampaikan secara tepat, ketika mampu menerapkan komunikasi yang benar-benar efektif. Nah, terkait urgensi filosofi komunikasi efektif ini, menurut Dr. Taha Abdurrahman, di dalam bukunya al-Hiwâr ufuqan li al-Fikr (Beirut: Arabiya Network) menyebutkan, “Komunikasi merupakan anugerah Tuhan bagi manusia agar ia mampu mempromosikan gagasan pemikiran (berikut menyampaikan landasan argumentasi) yang dimilikinya . . . (Oleh karena itu) komunikasi sebagai (fitrah) tanggung jawab kemanusiaan, seyogianya melingkupi seluruh golongan (manusia) dalam membahas topik apapun, dengan syarat mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku.

Sekalipun komunikasi merupakan pemberian Tuhan yang bersifat kodrati, mempelajari teori dan etika komunikasi efektif sudah menjadi keharusan. Lebih-lebih di era serba digital ini, komunikasi bisa berlangsung secara luas, masif, dan instan. Beberapa media komunikasi dengan beragam aplikasi, berikut fitur kecanggihan yang ditawarkan, menjadi sarana alternatif masyarakat modern untuk melakukan aktivitas interaksi sosial. Media telekomunikasi tersebut bak dua sisi mata koin, yang memiliki sisi positif dan negatif. Apabila pengguna media telekomunikasi tidak dibekali dengan nilai-nilai etika dan pengetahuan yang memadai, maka bukan tidak mungkin sarana komunikasi tersebut justru mengakibatkan disintegrasi sosial. Jadi, sekali lagi, mengetahui teori dan etika komunikasi efektif itu begitu penting di era keterbukaan informasi saat ini.

 Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima, komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih, sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sedangkan menurut Harold Lasswell, seorang ilmuwan politik terkemuka Amerika Serikat, sekaligus pencetus teori komunikasi, ia menuturkan dalam bukunya The Structure and Function of Communication in Society (New York: Harper & Row), “Komunikasi adalah suatu proses menjelaskan, siapa mengatakan (tentang hal) apa dengan saluran apa kepada siapa dan berakibat apa [who says what in which channel to whom and with what effect].” Definisi komunikasi klasik dari Laswell meniscayakan, bahwa setiap komunikasi memiliki upaya untuk memengaruhi lawan bicara. Sehingga, pengirim dan penerima pesan diasumsikan memiliki latar belakang pengetahuan, keyakinan, dan kecenderungan yang tampak berbeda.

Lewat dua definisi di atas, dapat disimpulkan sekurang-kurangnya komponen dalam keberlangsungan komunikasi efektif terbentuk dari dua unsur utama, pertama, komunikator sebagai pengirim atau penyampai pesan. Kedua, komunikan selaku pendengar atau penerima pesan. Agar terwujud interaksi sosial yang ideal, menurut Taha Abdurrahman, hubungan antara komunikator dan komunikan, seyogianya memerhatikan nilai-nilai batasan etika tertentu. Pentingnya mengetahui dan mempraktikkan nilai-nilai etika komunikasi, akan meningkatkan efektitas berikut kemampuan individu atau kelompok dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun literer.

Lebih lanjut, Taha Abdurrahman menjelaskan, baik komunikator dan komunikan, dalam keberlangsungan komunikasi efektif, secara normatif keduanya sama-sama memiliki hak serta kewajiban. Komunikator berhak untuk memiliki ideologi atau keyakinan tertentu, dan ia berhak juga untuk menyampaikan ideologi atau keyakinannya tersebut pada orang lain. Sedangkan bagi pihak komunikan, ia berhak untuk menggugat atau membantah bangunan ideologi yang telah disampaikan oleh lawan bicaranya. Kemudian, kewajiban komunikator dan komunikan adalah saling menghormati, serta mendengarkan pesan atau pendapat yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Berdasarkan demikian, etika dalam komunikasi efektif menghendaki agar perbedaan ideologi, gagasan, atau pendapat antar individu ataupun kelompok, tidak sampai menimbulkan konflik perpecahan. Akan tetapi, ketika teori dan etika komunikasi efektif dapat dipahami serta diterapkan, maka akan memunculkan dialektika intelektual dan kebudayaan.

Komunikasi Kontraproduktif dan Solusi Diskusi Kolektif

Sering kali kita temukan dalam realitas komunikasi sosial yang berujung pada perdebatan alot, bahkan meluas hingga menimbulkan pertengkaran publik. Selain paradigma tentang teori dan etika komunikasi efektif yang tidak berjalan baik, sikap egosentris merupakan latar belakang utama yang menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial. Komunikasi kontraproduktif pun berawal dari sikap egosentris tersebut. Gejala egosentris tampak ketika individu atau golongan tertentu, tidak mau menerima dan menghargai individu atau golongan liyan yang berbeda. Padahal, suatu perbedaan merupakan sunnatullah yang harus disikapi dengan bijaksana. Semisal perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan, hendaknya menjadi khazanah kekayaan perdaban manusia. Melalui ragam perbedaan itu juga, manusia mampu berkolaborasi dan bersinergi untuk saling mencukupi kebutuhan hidup masing-masing.

Fenomena komunikasi kontraproduktif semakin marak lagi kita temukan di jagat dunia maya. Perdebatan sengit yang terkesan rumit, semisal persoalan agama, politik, sosial, dan ekonomi, cukup masif dapat kita temukan di sana. Selain itu, obrolan yang cenderung remeh pun tak kalah ramai menjadi pusat topik perdebatan warganet. Seperti kasus perceraian oknum tokoh masyarakat, yang sebenarnya merupakan ranah privasi juga termasuk atensi masyarakat pengguna media sosial. Menyikapi fenomena tersebut, teori berikut etika komunikasi efektif dalam dinamika percakapan di dunia maya pun perlu diterapkan. Alasannya tidak jarang debat kusir yang awalnya berlangsung di media sosial, bisa berdampak pada pertikaian yang lebih luas lagi di kehidupan nyata.

Demi menanggulangi perdebatan publik yang cenderung berdampak destruktif, selain penekanan terhadap paradigma teori dan etika komunikasi efektif, Taha Abdurrahman juga menawarkan paradigma diskusi kolektif. Diskusi kolektif yang dimaksud adalah keberlangsungan komunikasi publik, dari berbagai latar belakang ideologi, agama, keyakinan, kepakaran, dan seterusnya, untuk membahas serta menggali secara bersama-sama solusi alternatif dari permasalahan krusial, yang muncul di tengah-tengah realitas kehidupan sosial. Diskusi kolektif merupakan kelanjutan dari penerapan prinsip komunikasi efektif. Ketika komunikasi efektif telah berlangsung secara masif, maka diskusi kolektif akan lebih mudah terealisasikan. Diskusi kolektif juga bukan sekadar ajang kontestasi komunikasi publik yang terhenti pada tataran wacana saja. Akan tetapi, diskusi kolektif menghendaki pula terwujudnya tindakan atau aksi nyata secara masif dan kolektif. Berdasarkan demikian, perubahan sosial ke arah yang lebih baik akan semakin mudah tercapai. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait