Paham Al-Quran Tidaklah Sulit, Jika Tahu Seninya

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Saya pernah menemukan pengguna Facebook yang menyatakan dirinya sebagai sosok sekuleris, menulis status pendek berisi kritikan terhadap Al-Quran. Ia menilai, Al-Quran sebagai kitab suci teramat sulit dipahami oleh manusia biasa. Butuh kaidah yang banyak dan aturan yang njelimet untuk bisa memahami kitab suci tersebut, dan bagi dirinya, itu sebuah masalah.

Saya sebagai seorang muslim, ketika membaca Al-Quran sedikit banyak dapat memahami ayat-ayat tersebut karena terdapat kejelasan makna. Namun saya tidak menyangsikan, memang ada banyak ayat-ayat yang tidak bisa langsung saya tangkap maknanya.

Sama halnya ketika saya tak mampu menjelaskan sebuah gejala dari penyakit tertentu. Saya tahu diri, karena saya bukan dokter, lantas saya harus berkonsultasi untuk mendiagnosa penyakit saya. Jadi biasa saja, tak perlu diambil pusing. Dengan begitu, saya tidak harus menyelami profesi dan keahlian lain. Karena pada hakikatnya, segala hal di dunia ini ada batasannya.

Bahkan, jika kita sadari lebih jauh, ada jutaan muslim Indonesia yang tak mengerti kandungan makna ayat-ayat Al-Quran. Lantas, apakah hal itu menjadi sebuah masalah besar di kehidupan mereka? Bukankah kesibukan pekerja kantoran misal, atau seorang dokter dituntut untuk turut paham dari kandungan Al-Quran, akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam hidup? Untuk itu mereka sadar, bahwa tuntutan paham kandungan Al-Quran bukan diperuntukkan kepada mereka. Mereka bukanlah sosok seperti Habib Quraish Syihab, mereka juga bukan Gus Baha, apalagi merasa seperti Syekh Mutawali Asy-Sya’rawi sebagai pakar tafsir. Saya dan jutaan muslim Indonesia bukan bagian dari yang ahli. Jadi, kami pun tahu, sadar dan paham betul, persoalan makna dan pemahaman, bukanlah berada di gramatika Al-Quran. Jadi, persoalannya adalah di diri orang tersebut yang tak mengerti gramatika dan kaidah Al-Quran, terlebih maknanya. Tahu?

Ada lagi yang tak kalah lucu. Seseorang juga meledek Al-Quran. Menurutnya, surah An Nur ayat 61:
“Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri.”
menjadi ayat yang aneh, karena sekadar membahas soal makan-memakan. “Boleh makan bersama-sama atau makan sendiri-sendiri, apakah tidak ada alternatif lain?”

Keanehan yang diduganya seperti, mengapa ayat Al-Quran yang diturunkan sebagai kitab suci, memiliki karakter sebagai hidayah dan diturunkan oleh Tuhan yang begitu dahsyat, ternyata hanya mengurusi soal makan-memakan.
Padahal, justru letak kedahsyatannya di persoalan sekecil ini. Perihal makan, Tuhan turut memberitahukan etika dan aturannya, itulah mengapa Al-Quran datang menyempurnakan segalanya.

Seandainya, orang-orang sekularis itu tidak malas membaca, atau sekadar meluangkan waktu untuk bisa menyelidiki ayat tersebut, seperti ditelisik melalui Tafsir Qurtubi, akan terlihat secara gamblang: ayat tersebut diturunkan untuk memutus tradisi jahiliah, yakni mereka bangsa Arab enggan nimrung untuk makan Bersama orang-orang yang cacat.
Atau, setidaknya orang-orang sekularis juga perlu membaca ayat sebelumnya, yang sengaja diabaikan, bagaimana ayat tersebut sengaja dipotong dan tidak dibaca oleh mereka:

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu.”
Berarti konteksnya jelas, dong! Di sini Al-Quran hadir sebagai kritik atas tradisi jahiliah untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam pendapat lain, ayat diatas diturunkan untuk me-naskh ayat 29 dalam surah an-Nisa:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”

Saat itu, kaum muslimin merasa kaku dan tidak berani untuk makan bersama orang lain karena mengacu pada ayat ini. Hal itu tersebab perhatian dan kehati-hatian mereka dalam menjaga harta agar tidak terjerumus ke dalam kebatilan sebagai yang diterangkan dalam Al-Quran. Lalu Allah SWT menurunkan ayat dalam surat an-Nur diatas sebagai izin agar bisa makan bersama dan berkumpul satu sama lain.

Lalu apa problemnya? Ya jelas, pemalas dan tak tahu diri, sejauh itu pula mereka tak mengerti seninya memahami Al-Quran. Beda dengan saya, meski pemalas tapi tahu diri. Jadi walaupun ada banyak hal yang belum saya ketahui, ada upaya saya untuk bisa menelisik melalui bacaan yang komprehensif hingga berkonsultasi ke pakarnya, yakni ulama. Permasalahan beres! Hati damai dan Bahagia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait