Kartini dan Kita yang Lupa Cara Menulis

Artikel Populer

Oleh Mohammad Husnul Labieb

Hari ini, ketika setiap orang dapat “bersuara” melalui media sosial, ketika konten video pendek mendominasi lanskap informasi, dan ketika kecepatan merespons lebih dihargai daripada kedalaman berpikir, pertanyaan fundamental muncul: Apakah kita benar-benar telah mewarisi semangat Kartini? Ataukah kita justru terjebak dalam ilusi emansipasi—merasa bebas berekspresi namun sesungguhnya kehilangan substansi?

Paradoks ini terasa kian pedih di bulan April 2026. Tepat setahun lalu, pada 17 April 2025, UNESCO menetapkan arsip surat-surat R.A. Kartini sebagai bagian dari Memory of the World. Ini adalah pengakuan tertinggi bagi warisan dokumenter umat manusia. Ironisnya, pengakuan global terhadap kedalaman literasi seorang perempuan Jawa abad ke-19 itu terjadi di tengah krisis literasi mendalam yang melanda masyarakat modern: krisis kedalaman berpikir. Kita merayakan Kartini di museum dan acara kebaya, tetapi kita gagal merayakannya di dalam cara kita berkomunikasi sehari-hari.

Ada sebuah kesalahpahaman besar yang terus direproduksi setiap tahun: bahwa Kartini berjuang agar perempuan boleh bersuara. Padahal, jika kita membaca kembali surat-suratnya yang kini diakui dunia, suara bukanlah persoalan utama. Kartini tidak pernah merasa kurang vokal. Masalahnya terletak pada isi dan makna dari suara itu.

Dalam sebuah surat kepada sahabatnya, Stella Zihandelaar, tertanggal 6 November 1899, Kartini menulis kritik yang sangat modern: “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.”

Kalimat ini adalah pukulan telak bagi ekosistem digital kita saat ini. Kita hidup di era banjir informasi, tetapi krisis pemaknaan. Generasi “skrol”—istilah yang merujuk pada kebiasaan menggulir layar tanpa henti—adalah generasi yang diajar membaca teks, tetapi tidak diajar untuk menangkap konteks. Kartini mengajarkan bahwa kebebasan sejati tidak terletak pada kemampuan untuk mengunggah status atau membuat utas viral, melainkan pada kemampuan untuk merenung, memahami, dan kemudian merangkainya menjadi narasi yang koheren.

Transformasi terbesar Kartini terjadi bukan ketika ia keluar dari rumah, melainkan ketika ia masuk ke dalam teks. Dalam pertemuannya dengan Kiai Sholeh Darat, ketika untuk pertama kalinya makna Al-Fatihah dijelaskan dalam Bahasa Jawa yang ia pahami, Kartini berseru, “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya.”

Bagi Kartini, menulis dan memahami adalah jalan keluar dari kegelapan kognitif. Ini adalah pemberontakan sunyi. Sementara hari ini, banyak dari kita memberontak dengan berisik di kolom komentar, tetapi tetap gelap terhadap makna dari isu yang kita ributkan.

Mengapa kita harus khawatir ketika tradisi menulis esai dan surat tergantikan oleh konten video berdurasi 15 detik? Untuk menjawabnya, kita perlu mundur ke abad ke-14, kepada seorang pemikir besar dari Tunisia, Ibnu Khaldun.

Dalam magnum opus-nya, Muqaddimah, Ibnu Khaldun menegaskan bahwa peradaban (umran) bertumpu pada akumulasi pengetahuan yang terstruktur dan tercatat. Ia menyebut kemampuan menulis dan mengarsipkan pengetahuan sebagai salah satu pilar utama yang membedakan masyarakat beradab dari masyarakat primitif. Dalam perspektif Khaldunian, masyarakat yang hanya mengandalkan transmisi lisan atau komunikasi instan adalah masyarakat yang rapuh. Ia tidak memiliki ketahanan historis.

Jika kita tarik ke masa kini, fenomena “generasi skrol” adalah antitesis dari umran. Konten video pendek dirancang untuk memancing reaksi cepat, bukan refleksi dalam. Algoritma media sosial melatih kita untuk menjadi impulsif, bukan kontemplatif. Ketika seorang individu hanya terbiasa mengonsumsi informasi dalam bentuk fragmen, kapasitasnya untuk menyusun argumen yang rumit dan koheren perlahan-lahan akan tergerus. Ibnu Khaldun tentu tidak membayangkan media sosial, tetapi ia telah memperingatkan kita: ketika suatu bangsa kehilangan tradisi literasi mendalamnya, di situlah awal keruntuhan solidaritas sosial dan kualitas pemerintahan. Kita sedang berada di persimpangan itu: menjadi bangsa yang bersuara keras, tetapi miskin gagasan.

Warisan Kartini tentang menulis dan berpikir mendalam ini menemukan gema terkuatnya dalam diri Soekarno. Ada satu kutipan Bung Karno yang sering disalahpahami: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Banyak yang mengira ini adalah glorifikasi terhadap tenaga fisik muda. Padahal, ini adalah glorifikasi terhadap energi intelektual. Soekarno tidak membutuhkan pemuda yang hanya bisa berteriak di jalanan; ia membutuhkan pemuda yang telah mengenyam literasi ideologi dan sejarah. Ia sendiri adalah produk dari tradisi menulis dan membaca yang tak kenal lelah. Pidato-pidato monumentalnya bukanlah hasil improvisasi dadakan, melainkan hasil dari perenungan panjang di atas tumpukan buku dan surat-surat kabar.

Melanjutkan garis pemikiran ini, Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Kartini 2026 menegaskan bahwa perempuan Indonesia harus menjadi “cahaya penerang peradaban bangsa,” dan ia secara spesifik mendorong kader bangsa untuk mempelajari pemikiran Soekarno dalam buku Sarinah.

Apa yang dilakukan Megawati adalah sebuah ajakan untuk kembali ke teks. Ini adalah pengakuan bahwa perjuangan politik dan sosial di abad ke-21 tidak bisa hanya bermodalkan survei popularitas atau jumlah pengikut media sosial. Perjuangan yang berkelanjutan membutuhkan fondasi pemikiran yang kokoh—sesuatu yang hanya bisa dibangun melalui kebiasaan membaca yang serius dan menulis yang bertanggung jawab. Baik Soekarno maupun Megawati, dalam konteks masing-masing, menegaskan bahwa tanpa tulisan, sebuah gerakan hanyalah kerumunan yang mudah dibubarkan angin.

Jika Kartini hidup hari ini, kemungkinan besar ia tidak akan menjadi selebritas media sosial dengan jutaan pengikut. Ia mungkin akan tetap menjadi penulis yang tinggal di sudut sunyi, menuangkan pikirannya dalam esai-esai panjang di blog pribadi atau kolom opini di media cetak. Dan justru di situlah letak kekuatannya.

Algoritma media sosial hari ini dirancang untuk membuat konten menjadi basi dalam hitungan jam. Video viral pagi ini akan menjadi sampah digital sore nanti. Tetapi surat-surat Kartini? Ia bertahan lebih dari satu abad dan diakui UNESCO sebagai memori dunia. Itu adalah bukti paling telak bahwa kedalaman dan kejujuran intelektual dalam menulis memiliki daya tahan yang tidak bisa ditandingi oleh konten viral sekalipun.

Sudah saatnya kita berhenti merayakan Kartini hanya sebagai ikon yang terpampang di baliho ucapan selamat. Saatnya kita merayakannya dengan cara yang paling ia dambakan: duduk, membaca, merenung, dan menulis. Sebab di tengah dunia yang semakin bising, menulis adalah bentuk pemberontakan paling elegan. Dan di tengah generasi yang kecanduan berbicara, menulis adalah satu-satunya cara agar suara kita tidak hilang ditelan waktu.

Kartini telah menulis. Kini giliran kita. Ataukah kita akan tetap menjadi generasi yang hanya pandai bersuara, tetapi lupa cara menulis?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Geopolitik Tat Twam Asih Sukarno

Penulis: Hadi Wijaya, Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunis, Tunisia Kopiah.co - "Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam...

Artikel Terkait