Indonesia Bersinar di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40: Bedah Buku Ayyam fi Bali dan Filosofi Tri Hita Karana

Artikel Populer

Penulis: Fither Ahladzikri, Peneliti Pusat Studi Islam dan Soekarno, Kopiah.CO

Kopiah.Co – Pada hari ke-6, di Pameran Buku Interasional ke-40 di El-Kram, Tunis, Tunisia (29/4). KBRI Tunis mengadakan seminar dan bedah buku berjudul Jours à Bali (Ayyam fi Bali), yang diisi langsung oleh penulis buku tersebut, Mohamed El Matri Smida dan Zuhairi Misrawi, Duta Besar RI untuk Tunisia.

Indonesia menjadi Tamu Kehormatan pada perhelatan Pameran Buku Internasional ke-40 ini, dengan mengusung tema “Indonesia wa Tunis Ashab”. Setiap hari, di pavilion Indonesia selain memamerkan ribuan buku mengenai keilmuan, dan hubungan diplomasi antara Indonesia dan Tunisia, KBRI Tunis turut menggelar seminar intelektual, bedah buku, dan pertunjukan kesenian serta makanan khas Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Indonesia banyak mendapat apresiasi dari berbagai tokoh publik; Presiden Tunisia, Yang Mulia Kais Said, Menteri Luar Negeri Tunisia, Yang Mulia Mohamed Ali Nafti, Mufti sekaligus Imam Besar Masjid AZ-Zaitunnah Syekh Hisyam bin Mahmud, dan masih banyak lagi Menteri dan Duta Besar dari negara sahabat yang mengapresiasi dan bergantian mengunjungi pavilion Indonesia di Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40.

Pavilion Indonesia, di Pameran Buku Internasional ke-40, El-Kram, Tunis, Tunisia, setiap harinya selalu menarik perhatian puluhan ribu pengunjung dari berbagai macam negara pada Pameran Buku Internasional tersebut. Terhitung, ribuan pengunjung menghampiri Pavilion Indonesia, untuk mengikuti rangkaian acara seperti: Seminar Intelektual, Bedah Buku, Pertunjukan Kesenian Indonesia ( Tarian Tradisional dan Band Musik Indonesia).

Pada acara Seminar dan Bedah Buku berjudul Jours à Bali (Ayyam fi Bali). Penulis, Mohamed El Matri Smida, memaparkan cerita tentang perjalanannya ke Pulau Dewata dan bagaimana Bali baginya bukan hanya sebagai suatu daerah geografis belaka. Lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan; cinta hidup damai, akhlak, dan saling menjaga dengan sesama makhluk Tuhan.

Zuhairi Misrawi, menjelaskan bahwa buku Ayyam fi Bali merupakan buku berbahasa arab pertama yang menerangkan tentang Bali, dan Mohamed El Matri Smida yang merupakan sahabat karibnya adalah orang Tunisia pertama yang menulis buku tentang Bali.

Menurut Matri Smida, udara di Bali terasa berbeda, bukan karena sekadar kehangatannya atau semerbak aromanya yang wangi, melainkan karena jiwa pulau yang merasuk ke setiap jengkal tanahnya.

Senyum dari setiap orang yang ditemui; baik di jalanan, di pasar, maupun di kafe, membuat perjalanan di Bali terasa lebih hangat. Seolah-olah Bali memeluknya bahkan sebelum ia melangkahkan kaki pada pertama kali.

Zuhairi Misrawi, Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, memaparkan Filosofi Tri Hita Karana pada pembukaan seminar tersebut. Ia, menuturkan kepada audiens yang hadir pada saat itu, untuk mengamalkan filosofi Parahyangan: Hubungan manusia dengan Tuhan, Pawongan: Hubungan manusia dengan sesama, palemahan: Hubungan manusia dengan alam lingkungan.

Menurutnya, wilayah lain termasuk Tunisia; karena ada beberapa daerah di Tunisia yang mirip dengan Bali, harus belajar dari bali: filosofi hidup, cinta hidup damai, dan akhlak.

Di Bali, orang-orang hidup berbarengan dengan alam dan seluruh makhluk Tuhan. Salah satunya adalah bagaimana memahami rumah pohon di Bali yang tidak bisa lepas dari cara masyarakat memandang alam sebagai sesuatu yang sakral.

Selain Bali mempunyai hari khusus untuk upacara memuliakan tumbuh-tumbuhan yang disebut Tumpek Wariga, membangun rumah pohon bagi orang Bali adalah bentuk Palemahan. Alam tidak dianggap sebagai objek yang dieksploitasi, melainkan “rekan” hidup, ujar Zuhairi Misrawi, DUBES asal Sumenep, Madura.

Acara ini, menyadarkan bahwa setiap detik di pulau Bali, mulai dari gelak tawa anak kecil, hiruk-pikuk pasar, kengahatan warga lokal di jalanan, hingga kesunyian Pura saat matahari terbenam memberikan kesan mendalam pada jiwa: bahwa senyuman, dan saling menghargai adalah rahasia kebahagiaan yang sejati di dunia ini.

Dalam kesempatan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40, kiranya kita dapat terus merawat ke-intelektualan serta warisan terbaik dari budaya dan para leluhur kita.

Wajib bagi kita selaku anak muda, agar selalu menjaga semangat intelektual serta kejujuran, juga berjanji untuk terus menjaga dan mengembangkan seluruh kekayaan warisan bangsa kita ke seluruh penjuru dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Krisis Kompetensi dalam Dunia Kerja: Ketika Loyalitas Lebih Diutamakan daripada Kapabilitas

Penulis: Muhammad Haekal (University of Manouba, Tunisia) Kopiah.co - Di berbagai sektor pekerjaan, baik pemerintahan, perusahaan swasta, organisasi sosial, maupun...

Artikel Terkait