Membangun Peradaban Pancasila

Artikel Populer

Penulis: Hadi Wijaya, Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis, Tunisia.

Tunisia, Kopiah.co — Kopiah.co (Pusat Studi Islam Sukarno), melakukan kunjungan ke perhelatan Pameran Buku Internasional Tunisia (Foire Internationale du Livre de Tunis) ke-40 yang bertempat di Parc des Expositions d’El Kram, Tunisia, pada Minggu (26/4/2026).

Pameran tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi diplomasi kebudayaan kedua negara. Indonesia terpilih sebagai Tamu Kehormatan (Guest of Honour), sebuah predikat prestisius yang menegaskan kedekatan hubungan bilateral antara Jakarta dan Tunis. Mengangkat tema besar “Indonesia dan Tunisia Sahabat”, partisipasi ini bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi dari akar sejarah yang telah terjalin sejak dekade 1960-an.

Tajuk “Indonesia dan Tunisia Sahabat” adalah sebuah tajuk yang merepresentasikan kedalaman historis kedua bangsa. Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi menyatakan bahwa “diplomasi buku” merupakan jembatan penting untuk menguatkan hubungan bilateral yang sudah terjalin sejak lama.

Dipilihnya tema “Sahabat” merujuk pada relasi erat yang diletakkan oleh para pendiri bangsa, khususnya Presiden Sukarno dan Habib Bourguiba. Sejarah mencatat Indonesia sebagai salah satu negara yang paling vokal mendukung kemerdekaan Tunisia di forum internasional. Di samping itu, ada benang merah sejarah yang ditarik dari era Presiden Sukarno hingga hari ini, di mana kedua bangsa terus bertukar gagasan melalui karya tulis dan pemikiran intelektual.

Paviliun Indonesia menampilkan berbagai buku yang merepresentasikan hubungan erat antara kedua bangsa, seperti kitab-kitab karya karya ulama Tunisia seperti Ibnu Khaldun, Muhammad Thahir bin ‘Asyur, dan Abdul Aziz al-Tha’alabi. Selain itu, adapula buku-buku karya Ulama Indonesia, buku-buku pemikir para guru bangsa yang berbahasa Arab, Inggris, Indonesia, bahkan Prancis.

Tidak hanya menampilkan berbagai buku, paviliun Indonesia juga menyelenggarakan diskusi, pagelaran budaya, serta mengenalkan kuliner Nusantara.

Dalam diskusi yang diselenggarakan pada pada Minggu (26/4/2026) adalah salah satu diskusi yang menarik, karena merupakan diskusi yang membahas Pancasila sebagai falsafah Indonesia dalam perspektif kosmopolit.

Dalam diskusi tersebut menyoroti beberapa hal, yaitu menyoroti bagaimana literatur menjadi jembatan penghubung nilai-nilai perjuangan. Sejarah mencatat bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Tunisia merupakan salah satu tonggak penting dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.

Dalam perspektif internasional, Pancasila merupakan dasar moral Indonesia yang menjadi karakteristik masyarakat Indonesia di kancah dunia. Berfungsi sebagai filter budaya, identitas bangsa, dan panduan moral dalam diplomasi di era globalisasi. Ia menawarkan nilai kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah sebagai model alternatif untuk menghadapi tantangan global seperti radikalisme, konsumerisme, dan ketimpangan sosial. Pancasila memperkuat posisi Indonesia dalam pergaulan dunia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai universal.

Zuhairi Misrawi, yang akrab disapa Gus Mis oleh kalangan mahasiswa, menyoroti bahwa kekuatan utama Indonesia terletak pada karakter bangsa yang tertuang dalam Pancasila. Menurutnya, Pancasila adalah manifestasi dari pandangan hidup yang melampaui sekat-sekat primordial seperti ras, etnik, budaya, maupun bahasa.

Dalam diskusinya, Gus Mis menekankan bahwa perspektif humanis yang diusung Pancasila menempatkan martabat manusia di atas segala perbedaan. Nilai-nilai ini menjunjung tinggi kemanusiaan dan keharmonisan, yang menjadi kunci utama mengapa bangsa Indonesia yang sangat majemuk dapat terus hidup berdampingan dalam kedamaian.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa Pancasila merupakan falsafah hidup yang sangat relevan terhadap tantangan global saat ini, termasuk krisis kemanusiaan dan polarisasi ideologi. Ia meyakini bahwa nilai-nilai Pancasila dapat menjadi jawaban bagi bangsa-bangsa lain dalam mencari titik temu (common ground) di tengah perbedaan politik dan sosial.Relevansi Pancasila di mata dunia internasional, khususnya di kawasan Afrika Utara seperti Tunisia, terlihat dari tingginya minat pengunjung terhadap literatur yang mengulas pemikiran Sukarno dan dasar negara Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa visi “Membangun Peradaban Pancasila” memiliki daya tarik universal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Kartini dan Kita yang Lupa Cara Menulis

Oleh Mohammad Husnul Labieb Hari ini, ketika setiap orang dapat "bersuara" melalui media sosial, ketika konten video pendek mendominasi lanskap...

Artikel Terkait