Penulis: Hadi Wijaya, Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunis, Tunisia
Kopiah.co – “Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme.” Sukarno.
Pada saat ini dunia merasakan geopolitik yang dinamis, potret imperialisme dan kolonialisme wajah baru kian menggeliat dengan ancaman senjata moncong tank maupun rudal canggih. Tidak hanya itu, ancaman terus berlanjut secara sistemik dengan melakukan penetrasi terhadap algoritma, aliran modal, dan kontrol atas komoditas strategis. Kelangkaan energi menjadi tantangan global dalam menjaga kestabilan negara, kondisi ekonomi yang kian memburuk mengerogoti sektor strategis membawa krisis yang dirasakan seluruh kalangan.
Sukarno memaknai Nekolim (neokolianisme dan imperialisme) sebagai penjajahan gaya baru oleh negara barat atas negara berkembang. Jika dulu imperialisme ditandai dengan penguasaan tanah, pada saat ini bertransformasi dari ranah teritorial menjadi penguasaan terhadap struktural. Seperti apa yang dilakukan AS terhadap penculikan presiden Venezuela yang ingin mengganti struktural negara itu secara total. Manuver Debt-Trap Diplomacy yang dilakukan AS dengan penguasaan kedaulatan negara melalui jeratan utang yang sulit dilunasi, yang berujung pada penguasaan aset-aset strategis nasional oleh kekuatan asing. Masalah ini kian meluas dengan ekspansi imperialisme terhadap hegemoni budaya yang berusaha mengubah standar nilai hidup lokal menjadi penyeragaman standar hidup barat yang materialistik, konsumtif, serta pengikisan nilai luhur kearifan lokal.
Sukarno memandang geopolitik barat lekat dengan praktik kolonialisme dan imperialisme yang obsesif terhadap perluasan wilayah tanpa melihat sisi kemanusiaan. Pemikiran Sukarno adalah kritik tajam terhadap kolonialisme barat yang mengampanyekan hak asasi manusia, tetapi dalam kenyataannya hanya sekedar pepesan kosong. Menurutnya teori geopolitik yang digagas Karl Haushofer, Mahan, MacKinder, Hector Charles Bywater dan Ernest Reinhard memberi sumbangan besar pada lahirnya ekspansi kolonialisme dan imperialisme. Sukarno memberi kritik gambaran secara ril terhadap sumbangsih imperialisme kolonial invasif dan ekspansionis yang termaktub digambarkan pada “Peta Garis Hidup Imperialisme” yang terbentang mulai dari Selat Gibraltar, melewati Laut Tengah, Terusan Suez, Laut Merah, Samudra Hindia, Laut China Selatan terus hingga ke Laut Jepang. Garis Hidup Imperialisme tersebut menjadi asas atas pentingnya kekuatan kolektif dan solidaritas bangsa-bangsa Asia Afrika melalui KAA.
Konstruksi pemikiran geopolitik Sukarno tidak lahir dari ruang hampa, melainkan hasil dari sintesis mendalam antara latar belakang genealogi yang plural dan proses dialektika pengalaman hidup yang ekstensif. Akar intelektual beliau dapat ditelusuri melalui dua pilar utama dalam struktur keluarganya yang merepresentasikan keberagaman budaya dan filosofi Nusantara.
Secara sosiologis, Soekarno merupakan produk dari persilangan budaya yang sangat kontras namun komplementer. Ayah beliau, Raden Soekemi Sosrodihardjo, merupakan seorang aristokrat Jawa sekaligus pendidik yang berafiliasi dengan ajaran Theosofi. Afiliasi ini memberikan pengaruh signifikan pada pola pikir Soekarno yang cenderung sinkretis, universal, dan melampaui batas-batas primordialisme. Di sisi lain, ibunda beliau, Ida Ayu Nyoman Rai, merupakan bangsawan dari Kerajaan Singaraja, Bali. Kehadiran figur ibu tidak hanya memberikan legitimasi trah kebangsawanan, tetapi juga memperkaya dimensi spiritual dan kearifan lokal dalam memori kolektif Soekarno muda. Perpaduan antara rasionalitas-universalitas dari sisi paternal dan spiritualitas-kultural dari sisi maternal membentuk landasan awal bagi pandangan dunia yang inklusif.
Pada saat kecil Sukarno dididik ibunya menanamkan budi pekerti dan Sukarno kecil diceritakan epos jiwa kesatria tokoh pewayangan yang lekat dengan perjuangan rakyat tertindas menjadi pondasi kesadaran dan semangat untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penindasan. Dari ayahnya, Sukarno mendapatkan pembelajaran tentang karakter, keterbukaan, kecintaan pada alam dan pemahaman terhadap nilai keutamaan tat twam asi, yang artinya aku adalah engkau, yang melandasi kuatnya komitmen Sukarno terhadap kelestarian alam atau ekologi. Sementara itu daripengasuhnya, Sarinah menginspirasi Sukarno untuk mencintai dan mengasihi orang kecil, kepedulian terhadap wong cilik.
Geopolitik Tat Twam Asi ala Sukarno merupakan kristalisasi intelektual yang berakar dari dialektika hidupnya dalam keluarga plural hasil sintesis antara nilai universalitas-Theosofi sang ayah dan spiritualitas-kultural sang ibu yang kemudian ia transformasikan melalui refleksi kritis terhadap hubungan kausalitas sejarah. Pemikiran ini memandang bahwa nasionalisme Indonesia tidak boleh berdiri secara chauvinistik, melainkan harus hidup dalam “taman sari internasionalisme,” di mana prinsip “Aku adalah Engkau” menjadi fondasi untuk menentang segala bentuk imperialisme dan kolonialisme wajah baru di tengah dinamika dunia multipolar saat ini. Dalam realitas kontemporer, visi ini bermanifestasi sebagai diplomasi yang emansipatoris, menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai objek kepentingan global, melainkan sebagai subjek berdaulat yang aktif membangun keadilan iklim, kedaulatan ekonomi, dan solidaritas kemanusiaan universal demi tercapainya tatanan dunia yang setara dan harmonis.
Tat Twam Asi merupakan fundamen etika yang mengajarkan bahwa setiap individu memiliki keterhubungan satu sama lain. Hal ini menjadi arah pemikiran geopolitik Sukarno yang bertujuan untuk merealisasikan tatanan dunia baru yang damai dengan menjunjung tinggi kemanusiaan dan penuh rasa persaudaraan sebagai tugas seluruh manusia. Prinsip ini ditransformasikan menjadi keyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak akan sempurna selama bangsa-bangsa lain di Asia dan Afrika masih terbelenggu kolonialisme. Komitmen untuk mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa yang terbelenggu penjajahan dapat dilihat dari dukungan Indonesia pada perjuangan rakyat Kashmir dan Pakistan, perjuangan rakyat Palestina, perjuangan rakyat Aljazair dan seluruh negara Asia Afrika dan Amerika Selatan yang berjuang untuk membebaskan diri dari penjajahan.
Berangkat dari filosofi Tat Twam Asi, Sukarno merumuskan geopolitik Indonesia sebagai sebuah konstelasi geografis (geografische constellatie) berbentuk negara kepulauan (archipelago country) yang strategis di antara dua benua dan dua samudra. Secara sosiologis, ribuan pulau tersebut tidak dipandang sebagai entitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang diikat oleh kesamaan nasib serta cita-cita kolektif untuk lepas dari belenggu kolonialisme. Dalam paradigma ini, laut bukan sebagai pemisah fisik, melainkan sebagai elemen pemersatu yang mengintegrasikan keragaman nusantara menjadi sebuah kekuatan geopolitik yang utuh dan berdaulat. Gagasan Bung Karno tentang konstelasi geografis negara kepulauan kemudian direalisasikan dalam Deklarasi Juanda dengan laut sebagai pemersatu daratan kepulauan Indonesia.
Kajian pemikiran geopolitik Sukarno memiliki skala tujuan makro dan mikro. Arah tujuan kajian geopoltik makro bertujuan agar Asia-Pasifik menjadi pivot atau pusat dunia. Dalam skala mikro, pemikiran geopolitik Bung Karno berfokus pada kepentingan nasional dan pertahanan negara. Tujuan pemikiran geopolitik Bung Karno selalu diselaraskan dengan kepentingan negara serta menghubungkannya dengan pembangunan pertahanan negara. Sukarno sadar bahwa faktor geopolitik suatu negara akan menentukan sistem pertahanan negara.
Menurut Sukarno, geopolitik adalah sebuah gerak hidup yang menyatukan tekad ideologis dengan kesadaran sosial manusia (social consciousness of man). Melalui kacamata ini, Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelago country) tidak dilihat sebagai barisan pulau yang terpisah oleh air, melainkan sebuah kesatuan rasa yang dipersatukan oleh laut demi mencapai cita-cita kemerdekaan. Inilah esensi organik dari filosofi “Aku adalah Engkau” bahwa kedaulatan nasional kita hanya akan bermakna jika selaras dengan nafas internasionalisme, perdamaian dunia, dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Di tengah realitas global yang kini kian kompetitif, gagasan ini menjadi pengingat bahwa nasionalisme Indonesia tidak tumbuh untuk mengisolasi diri, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kemanusiaan universal.

