Ketika Membaca Itu Menyebalkan

Artikel Populer

Apa yang saya maksud ‘menyebalkan’ di atas bukanlah sinonim ‘membosankan’ atau ‘tidak paham’. Pagi itu ketika sedang membaca, saya benar-benar merasa kesal. Hampir-hampir puasa saya ternodai. Untung saja saya urung mengumpat. Umpatan itu masih mengendap di lisan, belum keluar dari bibir. Kelar puasa, lidah saya terasa lebih ringan.

Ernest Hemingway dulu pernah bilang kalau ‘There is no friend as loyal as a book‘ (tidak ada teman yang lebih setia dari buku). Kata yang sama pernah keluar dari lisan pepatah Arab dulu, yang baru saya tahu kemudian ternyata ucapan al-Mutanabbi. ‘Khairu jalîs fî al-zamân kitâbun‘ (Teman terbaik sepanjang zaman adalah buku). Dan saya telah menghafalnya sedari SD karena sering muncul di bagian bawah buku tulis bersama kalimat motivasi lain.

Dua kalimat di atas begitu dramatis. Itulah yang membuatnya quotable. Sering muncul di beranda-beranda media sosial. Atau bahkan di status teman sendiri. Dalam frame, dirinya memegang buku yang pertama dan terakhir kalinya dibaca.

Kedua kalimat di atas juga menyimpan sebuah makna yang begitu dalam. Ada dua objek menonjol di sana. Buku dan teman. Buku disejajarkan dengan teman. Ia adalah sebaik-baiknya teman. Ia tidak akan pernah berkhianat. Justru kita yang berkhianat. Membaca dan melupakan semua, atau paling tidak menyisakan sedikit.

Makna buku sebagai teman bukan hanya kiasan. Ia nyata! Berinteraksi dengan buku tidak ada bedanya dengan berinteraksi dengan manusia. Tidak semua teman memiliki sifat sama dan bisa diperlakukan sama. Begitu juga buku, mereka semua berbeda. Interaksi dengan teman adalah soal komunikasi dan saling memahami. Berinteraksi dengan buku juga tentang bagaimana kau memahami, apa yang buku itu ucapkan kepadamu. Dan caramu memahami berbeda-beda.

Manusia adalah makhluk yang paling cengeng. Paling tidak bisa hidup sendirian. Ia akan mencari apapun untuk bisa menutupi lubang kesunyian di hatinya. Ia butuh manusia lain. Tak cukup, ia juga butuh lainnya. Ia butuh teman lain. Gawai, televisi, gitar, bola, tanaman hias, batu akik, buku, dan apapun yang kausuka. Di antara itu semua, termasuk manusia, berteman buku adalah yang terbaik.

Jika membaca berarti berteman, maka membaca begitu mengasyikkan. Memang, membaca itu benar-benar mengasyikkan. Tiap kalimat yang kau baca, masuk ke dalam lumbung yang terdapat di kepala. Lumbung itu tidak akan penuh. Semakin diisi semakin membesar. Kalau tidak pernah baca, tidak pernah diisi, ia tidak akan membesar justru mengecil. Sehingga diperlukan usaha ekstra untuk menenggak dua-tiga kalimat sederhana.

Mengisi lumbung itu adalah hal yang paling fundamental bagi manusia. Manusia adalah makhluk yang berpikir. Berpikir berarti menyusun informasi untuk mencipta sebuah ide, konsep, dan pemikiran. Artinya, informasi adalah kebutuhan di atas segalanya, melebihi sandang, pangan, papan. Sebagai manusia yang mengada, eksistensinya sebagai yang berpikir adalah hal yang paling mendasar. Sama saja seperti pembuat kursi yang membutuhkan kayu. Kayu itu ibarat kekayaan intelektual yang didapat dari membaca buku. Pembuat kursi tak bisa berbuat apa-apa tanpa kayu meskipun ia memiliki perkakas tercanggih di dunia. Seperti manusia, yang otaknya tak terpakai atau dalam kata lain ‘yang kemanusiaannya hilang’.

Tak hanya mengasyikkan, membaca juga kadang melelahkan. Itu terjadi ketika salah pergaulan dalam membaca. Seperti kau yang anak buruh tani berteman dengan putri raja. Beda kasta. Melelahkan. Kau tak sanggup. Kita berusaha memahami apa yang dimaksudkan penulis, tapi tak kunjung dapat. Bahasanya terlalu rumit, pembahasannya terlalu sulit, dan kepalamu terlalu sempit. Saya pun sering mengalaminya. Dua-tiga dibaca dan diulang. Melangkah ke kalimat berikutnya, tak paham. Lompat ke paragraf berikutnya, tak mengerti. Pergi ke halaman berikutnya, tak tahu mau apa. Kepala pusing. Namun, saya tetap menikmati. Bahkan, semakin pusing semakin mengasyikkan. Kau tak akan mahir bermain sepeda sebelum tahu rasanya jatuh. Kau tak akan merasakan nikmatnya membaca sebelum kepala pusing. Jika ketidakpahamanmu dalam membaca membuatmu bosan, itu artinya kau belum pusing, kau harus kembali membaca.

Namun pagi itu saya dibuat kesal. Membaca yang seharusnya asyik menjadi begitu menyebalkan. Di novel Cinta Tak Pernah Datang Tepat Waktu yang ditulis Puthut EA dan pagi itu saya baca, tokoh utama tak pernah berhasil dalam menjalin hubungan asmara. Selalu kandas oleh kata pernikahan yang diucapkan mantan-mantan pacarnya. Kata ‘pernikahan’ menjadi momok menakutkan. Ia tidak pernah siap, namun ibunya ngebet mengunduh mantu. Kemampuan merayu wanita yang dimilikinya hilang. Jangankan penikahan, pacaran pun selalu dihindarinya. Dirinya masih tenggelam dalam trauma yang dipenuhi kenangan. Sayangnya kenangan itu selalu hadir, dalam wajah-wajah cantik wanita yang pernah dicintainya. Ces. Seberkas darah menetes dari hatinya.

Di dalam kondisi yang demikian, seketika dalam suatu bab, tokoh utama berhasil berkenalan dengan seorang wanita. Begitu mudah. Berpacaran dan seketika menikah. Gila! Bagaimana bisa tiba-tiba dia menikah. Padahal berpacaran saja harus berpikir dua-tiga kali dan selalu saja berakhir dengan keengganan. Bukankah seharusnya jika akhirnya memutuskan berpacaran apalagi menikah, ada momen besar. Momen besar itu harus mengubah hidupnya. Traumanya harus raib. Dan kenangan tak lagi hadir melalui wajah-wajah cantik yang membawa luka dan sedih. Sedangkan hadiah untuk tokoh utama tak pernah dihadirkan dalam bentuk momen dan kejadian nyata hingga merubah pendiriannya. Walaupun di akhir bab saya sedikit lega ketika diceritakan bahwa tokoh utama hanya sedang bermimpi. Namun tetap saja, cerita ini benar-benar menyebalkan, dan saya ingin mengumpat untuk yang kedua kalinya.

Saya lanjutkan baca buku itu sampai tuntas. Sebab sayang, membaca terlalu mengasyikkan untuk disudahi.

Selamat Hari Buku, 23 April 2022.

Maaf, jika terlambat. Aku mencintaimu, meski tak tepat waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ambisi Putin Merengkuh Mitos Sejarah

Beragam sanksi dan ancaman bertubi-tubi datang kepada Rusia, namun tidak ada iktikad baik dari Putin untuk mengakhiri invasi militernya...

Artikel Terkait