Penanggulangan Penyakit Sosial dengan Agama di Era Modern

Artikel Populer

Oleh: Muhammad Fither, Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah, Tunisia

Kopiah.Co – Pada dasawarsa terakhir ini, dapat dikatakan bahwa penyakit sosial merupakan permasalahan kompleks yang sudah berlarut lama mengakar dalam masyarakat. Mulai dari narkoba, alkoholisme, perjudian, kriminalitas, kemiskinan, hubungan seks di luar pernikahan dengan segala implikasinya, [kerusakan rumah tangga, aborsi, penyakit AIDS, DLL.] Semuanya membawa dampak buruk kepada semua faktor kehidupan kita.

Penyakit sosial merupakan segala bentuk tingkah laku yang dianggap tidak sesuai dan melanggar norma-norma umum, adat istiadat, kebiasaan, hukum, serta agama. Dikatakan penyakit, karena gejala sosialnya yang terjadi di tengah masyarakat terus menerus dan semakin hari semakin menjadi-jadi. Dapat pula disebut sebagai struktur yang terganggu fungsinya, disebabkan oleh faktor-faktor sosial.

Adapun penyakit sosial membuat konsekuensi yang sangat luas, baik dalam skala individu, maupun masyarakat umum. Dampak utama yang dibawa oleh penyakit sosial ini adalah kerusakan moral, nilai-nilai etika juga moral masyarakat yang terkikis sehingga memunculkan perilaku menyimpang dan tindakan kriminal. kerusakan lingkungan sosial seperti menurunnya tingkat kepercayaan antar individu, dan meningkatnya konflik sosial, begitu menggerogoti kesejahteraan dan keharmonisan.

Pada acara perdebatan calon Presiden Amerika untuk pemilihan 5 November 1996, calon Partai Republik Bob Dole dan Partai Demokrat Bill Clinton sama-sama mengungkapkan prestasi partai masing-masing dalam menurunkan kriminalitas. Bill Clinton membanggakan program-program pemerintahannya yang telah membuahkan hasil dalam menurunkan angka kriminalitas di Amerika. Sementara Bob Dole secara lantang menangkis bahwa penurunan angka kriminalitas di Amerika yang terbesar justru terjadi di New York, berkat usaha gubernur yang menerapkan program Partai Republik. Bagi rakyat Amerika yang peduli akan peningkatan angka kriminalitas, isu ini merupakan salah satu faktor yang cukup berarti dalam penentuan pemilihan calon Presiden.

Belum lagi tuntas kubu mana yang patut mendapat pujian, suara lantang dari pihak ketiga mendengarkan prestasinya. Biarkanlah pihak lain saling memperebutkan pujian masyarakat, namun suatu yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa prestasi ini merupakan dampak positif dari Mlilion March [‘kebulatan tekad’] masyarakat Afro-Amerika, yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agama, semangat kebersamaan dan keprihatinan terhadap derita keluarga. Demikian Louis Farrakhan, pemimipin kelompok Nation of Islam.

Isu ini bergulir dan berkembang secara luas dan menjadi ajang pembicaraan masyarakat Amerika. Bukan saja penurunan angka kriminalitas tapi juga  merembet kepada isu lain yang dikelompokkan oleh masyarakat khususnya kelompok moralis atau agama, sebagai penyakit sosial yang harus ditanggulangi bersama.

Pemerintah diragukan keampuhannya dalam menangani penyakit sosial tersebut oleh banyak orang. Orang kemudian beralih kepada agama yang dianggap ampuh dalam menangani dan bisa mendapatkan jawaban dari masalah tersebut. Dalam salah satu edisinya, majalah US News mengangkat masalah ini sebagai laporan utamanya dengan judul “Can Churches Cure America’s Social III?”.

Sejak lahirnya agama di muka bumi ini, mungkin berbagai penyakit sosial merupakan garapan utamanya. Menuruti sejarah, bukannya para Nabi dan Rasul diutus ke muka bumi ini ketika suatu kaum sedang menghadapi kedunguan dan melakukan kerusakan yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, tentu saja bagi kaum agamawan, hal yang paling ampuh ialah kembali kepada nilai-nilai agama. Namun, mereka yang tidak atau belum meyakini keampuhan peran agama, selalu mencari jalan keluar lain untuk mengatasi penyakit ini. Hasil empiris menunjukkan bahwa cara rehabilitasi sosial yang dibentengi kelompok agama cukup memberikan hasil yang mengesankan. Seperti kita sebut program-program rehabilitasi yang dilakukan pesantren-pesantren salaf di Banten. Pemerintah selama ini enggan memberi peluang lebih besar kepada institusi keagamaan seperti Pesantren, Masjid, atau bahkan gereja dan sinagog. Dengan dalih klasik “tidak seiring dengan esensi konstitusi yang menetapkan pemisahan agama dari negara.”

Namun dewasa ini, akselerasi penyakit sosial yang menunjukan angka tinggi, memaksa pemerintah, akademisi, dan para pekerja sosial yang semula enggan melihat kepada faktor agama, harus mengaku peran positif agama. Penyakit sosial yang dihadapi masyarakat di Amerika, kata Imam Sarraj Wahhaj, seorang pemuka Islam Afro-Amerika dari Brooklyn New York, mengatakan, sebagai bangsa kita bagaikan penumpang-penumpang sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah lautan. Sebagian di antara kita sedang berusaha menghancurkan kapal ini dengan segala bentuk penyakit sosial. Apabila kita tidak berhasil mencegah perusak-perusak kapal ini, maka kita semua akan tenggelam hanyut dan akan dikenang oleh sejarah sebagai bangsa yang tidak bermoral dan bertanggung jawab.

Jika dilihat dari kutipan diatas, Imam Sarraj Wahhaj, beranggapan bahwa hendaknya para kaum agamis kembali kepada kitab suci masing-masing, Taurah, Injil, dan Al-Quran supaya dapat menuntun dan meluruskan yang menyimpang, memperbaiki yang keliru, serta menasehati mereka yang lupa supaya tidak melakukan kerusakan-kerusakan yang disebut penyakit sosial.

Adapun agama dengan nilai-nilai moral dan spiritualnya, telah lama menjadi pilar dalam membentuk perilaku individu dan masyarakat. Di era modern, di tengah kompleksitas masalah sosial, peran agama tetap relevan dalam upaya mengatasi berbagai penyakit sosial. Agama mengajarkan niali-nilai seperti kejujuran, keadilan, kasih sayang dan toleransi yang menjadi dasar perilaku moral manusia. Peran agama juga, dalam konsensus moral yaitu; menyediakan kerangka moral yang umum disepakati, sehingga dapat menjadi pedoman bersama dalam mengatasi masalah sosial. Lebih dari itu, agama dapat memberikan tujuan hidup yang lebih besar, sehingga individu memiliki motivasi untuk berbuat baik dan menghindari perilaku yang menyimpang. Bahkan, ajaran agama dapat memberikan ketenangan batin, sehingga individu lebih mampu menghadapi tantangan hidup.

Implementasi dalam praktik agama upaya mengatasi penyakit sosial di era modern, dapat berupa pendidikan agama sejak dini, sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual. Selepas itu, penguatan peran rumah ibadah dapat menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan. Tokoh agama di era modern ini harus menjadi role model di masyarakat, agar bisa dicontoh dengan baik oleh masyarakat. Bahkan ajaran agama perlu diinterpretasikan secara relevan dengan konteks zaman modern, agar dapat beradaptasi dengan zaman.

Terakhir, agama memiliki potensi besar dalam mengatasi penyakit sosial. Namun, peran agama harus dijalankan secara bijaksana dan sesuai konteks zaman. Seyogyanya, ada kolaborasi antara agama, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Karena korelasi agama dan pencegahan penyakit sosial sangat erat, maka keberhasilan upaya kita untuk menanggulangi penyakit sosial yang kita hadapi bersama berbalik kepada komitmen masing-masing umat kepada agamanya. Dengan bekal komitmen ini, yang dibarengi kerja sama antara pemuka agama, penyakit sosial di Indonesia Insya Allah dapat kita tanggulangi dengan baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Sektarianisme Islam dan Relativitas  Kebenaran

Oleh: Fither Ahladzikri, Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah, Tunisia Kopiah.Co - Konsep relativitas kebenaran dalam agama adalah topik yang kompleks dan terus...

Artikel Terkait