Penulis: Veda Dhiyaulhaqqi Najech Lc. Alumnus universitas al-Azhar Kairo, Mesir.
Ada sebuah momen dalam sejarah yang diabadikan Al-Qur’an, bukan sekadar sebagai catatan perang, melainkan pelajaran tentang cara orang beriman membaca dunia. Ketika Persia mengalahkan Romawi di wilayah yang paling dekat dengan tanah Arab—fī adnal-arḍ—kaum musyrik Makkah bersorak. Bagi mereka, jatuhnya Romawi merupakan kekalahan “ahli kitab”—yang mereka gunakan sebagai pembenaran bahwa kekuatan iman tak memiliki tempat di panggung sejarah. Sementara itu, kaum muslimin yang masih lemah menyaksikan peristiwa tersebut dengan dada sesak; bukan semata karena Romawi kalah, melainkan karena kekalahan itu dirayakan oleh mereka (kaum musyrik Makkah) yang juga sedang memusuhi Islam.
Oleh karenanya, turunlah Qs. Ar-Rum ayat 1-4:
“Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat. Namun mereka, setelah kekalahan itu, akan menang kembali—dalam beberapa tahun. Segala urusan adalah milik Allah, sebelum maupun sesudahnya. Dan pada hari itu, orang-orang beriman akan bersukacita.”
Ayat ini turun tidak hanya untuk menenangkan kaum muslimin semata, tetapi untuk menegaskan prinsip ketuhanan: lillāhi al-amru min qablu wa min ba’d (segala urusan adalah milik Allah, sebelum maupun sesudah). Di akhir rangkaian ayat, Allah SWT berfirman: “wa yawma’iżin yafraḥu al-mu’minūn” (dan pada hari itu, orang-orang beriman akan bersukacita). Namun, kegembiraan macam apa yang dimaksud, dan atas dasar apa?
Imam Fakhr al-Dīn al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb mencatat dua riwayat penafsiran. Pertama, orang beriman bersukacita atas kemenangan Romawi melawan Persia sebagai balasan setimpal atas ejekan kaum musyrik. Kedua—yang oleh al-Rāzī disebut sebagai pendapat paling sahih—adalah bahwa sukacita itu bersumber dari kemenangan mereka sendiri: kemenangan kaum muslimin di Perang Badar.
Al-Rāzī menjelaskan lebih lanjut, kesahihan pendapat kedua dipilih karena kemenangan Romawi bertepatan dengan hari kemenangan kaum muslimin di Badar. Seandainya yang dimaksud adalah pendapat pertama, maka kurang tepat. Sebab pada hari itu berita kekalahan Persia belum sampai kepada kaum muslimin, sehingga kegembiraan tidak mungkin terjadi saat itu juga, melainkan baru datang setelahnya.
Di sinilah tafsir berhenti menjadi sekadar penjelasan teks dan mulai menjadi cermin. Al-Rāzī menunjukkan bahwa kegembiraan sejati orang beriman tidak bergantung pada berita luar, melainkan pada kesetiaan terhadap perjuangan yang mereka emban sendiri. Mereka bersukacita bukan karena menjadi “penonton setia” Romawi yang sama-sama memerangi kaum pagan, melainkan karena di hari yang sama, mereka berdiri, melawan, dan menang. Keberpihakan mereka bukan pada bendera negara lain, melainkan pada arah perlawanan dan misi ketuhanan.
Hari ini, Iran berdiri di bawah tekanan kompleks yang jarang dialami bangsa modern mana pun. Embargo ekonomi berlapis yang diarsiteki Amerika Serikat selama puluhan tahun telah mencekik sendi kehidupan rakyatnya. Iran ditekan bukan karena menyerang, melainkan karena menolak tunduk. Penolakan ini adalah pendirian teologis-kebangsaan yang konsisten sejak Revolusi 1979: bahwa diam di hadapan penindasan terhadap Palestina adalah pengkhianatan terhadap nilai Islam dan kemanusiaan.
Aliansi Amerika-Israel tidak lagi sekadar mengembargo, tetapi memerangi Iran secara terbuka—melalui rudal, sabotase, dan pembunuhan karakter di dunia internasional. Di tengah genosida di Gaza, pengepungan Tepi Barat, dan serangan ke Lebanon, Iran menjadi sasaran langsung karena berani menyebut kejahatan penjajah dengan nama yang sebenarnya.
Ironisnya, di tengah situasi ini, sebagian golongan justru sibuk mencerca Iran. Mereka mengangkat perbedaan mazhab sebagai argumen dan mempersoalkan motif politik untuk memperlemah legitimasi perlawanan. Kritik tersebut sering kali bukan refleksi jujur, melainkan “pintu keluar” dari tanggung jawab moral. Mencerca pihak yang melawan jauh lebih mudah daripada bertanya: di mana aku berdiri dalam sejarah ini?
Ketika Persia menang dahulu, kaum musyrik Makkah bersukacita karena kemenangan itu terasa seperti tamparan bagi Islam. Maka, mereka yang hari ini mencerca perlawanan Iran dengan dalih teologis, secara struktural menempati posisi yang sama dalam peta keberpihakan sejarah. Sebuah ironi pahit: mereka mempersoalkan mazhab Iran, sementara entitas yang mereka biarkan melenggang justru menghancurkan nilai-nilai agama itu sendiri. Jika Iran disebut Syiah, lantas apakah Amerika itu Sunni?
Al-Rāzī telah menjelaskan bahwa kegembiraan sejati orang beriman adalah soal ke arah mana kemenangan itu berpihak, bukan soal siapa yang menang. Al-Ghazali mengingatkan bahwa di saat genting, ahqad (kedengkian) seharusnya lenyap. Sekat Sunni-Syiah atau dendam Arab-Persia seharusnya runtuh di hadapan kenyataan sederhana: ada bangsa yang sedang dibantai, dan ada pihak yang memilih untuk melawan pembantaian itu.
Mereka yang mencerca perlawanan ini bukanlah sedang melakukan “kehati-hatian teologis,” melainkan membiarkan kedengkian lama berbicara lebih keras daripada panggilan iman. Berdamai yang sesungguhnya bukan hanya soal musuh lahiriah, tetapi berdamai dengan kedengkian dalam diri yang tanpa disadari telah menjadi sekutu bagi penindasan.
Lillāhi al-amru min qablu wa min ba’d. Segala urusan adalah milik Allah, sebelum dan sesudahnya. Tugas kita hanya satu: memastikan diri tidak salah arah dalam menentukan sikap yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

