Rasanya sungguh mencengangkan ketika melihat fenomena negeri Iran kini. Negeri sebagai ahli waris budaya Persia tersebut yang telah lama tidak tersorot oleh media Internasional, muncul seolah-olah tanpa tangga melainkan langsung berdampingan dengan pemeran-pemeran panggung Internasional. Iran memang jatuh dalam kacamata Internasional pasca revolusi Iran hingga kini, tetapi justru keadaan tersebut yang memaksa Iran untuk beresiliensi.
Terlepas dari fenomena tersebut, kita tidak boleh menegasikan peradaban dan kebudayaan yang melekat pada negeri Iran, yaitu Persia. Jika kita menelisik peradaban Persia, terdapat persamaan dengan peradaban China Kuno; peradaban agung yang pernah memainkan peran di panggung Internasional dalam sejarah umat manusia sebelum era modernisasi seperti sekarang.
Iran bukanlah sebuah negeri layaknya kertas putih dalam konteks peradaban dan kebudayaan. Mereka memiliki bekal untuk beradaptasi dalam perkembangan zaman. Persia, budaya yang melekat dengan masyarakat Iran, memiliki banyak benturan sehingga terbentuk menjadi peradaban besar. Maka, memang bukan ‘abu’ glorifikasi yang diwariskan, justru ‘api’ perjuangan sangat melekat dalam masyarakat Iran.
Peradaban Islam tentu harus kita kaitkan dengan peradaban Persia. Keduanya sedari dulu selalu bersinergi untuk memperlihatkan wujud peradaban yang harmonis nan berkemajuan. Memang, Nabi Muhammad SAW terlahir dari bangsa Arab. Tetapi, tanpa Persia, ajaran Tauhid yang diturunkan oleh Allah SWT melaluinya tidak akan bernafas.
Kita sering mendengar banyaknya ilmuwan Muslim, tiga diantaranya adalah al-Khawarizm, Ibn Sina, Nasir al-Din al-Thusi. Ketiganya memiliki darah keturunan Persia. Hingga kini, bangsa Persia dalam naungan negeri Iran, masih terus memperlihatkan jiwa-jiwa intelektualismenya. Maka, Iran pun menjadi salah satu negara yang mampu melahirkan teknokrat, militer unggul, fisikawan, dan kimiawan. Tokoh-tokoh Persia selalu menjadi representasi agama Islam sehingga dikenal sebagai agama inklusif, pendidik, dan rasional. Wajar;ah, jika peradaban Islam pernah terbentang di berbagai penjuru dunia.
Ketika kita membaca psikologi sebuah bangsa, kita juga sedang membaca cara bermain bangsa tersebut. Mentalitas Iran dalam membangun sebuah bangsa selalu belandaskan akal budi & ilmu pengetahuan. Mereka tidak khawatir ketika mendapat kucilan dari kacamata Internasional. Dengan keberpijakan mereka terhadap ideologi Islam-Syiah, akal-budi, dan ilmu pengetahuan menjadikan masyarakatnya loyal dan berani untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dalam konteks peradaban Islam, justru heran ketika melihat bangsa Arab; sebagai objek awal Islam muncul. Sedari dulu, bangsa ini memang memiliki mentalitas ‘kampungan’. Dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, beruntungnya bangsa Arab diberikan sosok Nabi Muhammad SAW yang memiliki pemikiran ‘metropolitan’. Dengan jihad, ijtihad, dan mujahadah yang dimiliki satu orang, bangsa Arab mampu tersorot dalam peradaban umat manusia.
Ketika kita kaitkan dengan fenomena di zaman kini, negara-negara yang berpenghuni bangsa Arab justru terombang-ambing dan memiliki mentalitas follower. Konsumerisme meradang dalam jiwa-jiwanya. Jika bukan karena kehendak Tuhan Yang Maha Esa menempatkan posisi geografinya yang kaya raya, sepertinya bangsa Arab tidak akan ada wujudnya hingga kini.
Islam merupakan agama yang penuh nilai dan spritualitas. Banyak pihak yang bercampur tangan dalam kehendak keislaman, yaitu Tuhan dan Hamba. Ketika hamba tidak mampu mengambil spirit dan nilai keislaman, maka hamba tersebut akan sulit untuk menjalankan tugas kekhalifahan yang diperintahkan oleh Tuhannya.
Bangsa Arab di era sekarang nampaknya kembali kepada mentalitas semulanya, yaitu ‘kampungan’. Justru bangsa Persia sedang memperlihatkan nilai-nilai keislaman yang metropolitan dan berkemajuan. Maka, benarlah apa yang dikatakan oleh Bung Karno, “ambillah apinya, jangan abunya”.

