Kopiah.Co – Sebagai umat yang telah berusia empat belas abad, kita telah menemui jalan buntu. Islam dewasa ini bukanlah sebuah peradaban yang kuat, kreatif, canggih, dan indah seperti dulu. Sebaliknya, sekarang, Dunia Islam termasuk salah satu wilayah yang paling terbelakang dan tertinggal di dunia. kekayaan kita sedikit kecuali minyak dan begitu pula ilmu sains, pengetahuan, keadilan, dan kebebasan kita.
Kita ditekan oleh rezim-rezim otoriter, yang digantikan oleh rezim-rezim baru yang sering berubah menjadi kekecewaan baru. Kita juga terkoyak oleh perpecahan penuh kebencian dan konflik kekerasan; belum lagi para ektrimis yang melakukan kejahatan keji dengan mengatasnamakan agama dan umat kita.
Tentu saja kekuatan luar seperti kolonialisme dan imprealisme memiliki andil signifikan dalam membuat krisis Muslim modern. Tetapi, sering hanya faktor itulah yang terus-menerus ingin kita dengar dan lihat. Kita tidak ingin fokus pada satu-satunya hal yang bisa kita ubah: perilaku kita sendiri, pola pikir kita sendiri, pandangan-dunia kita sendiri.
Hari ini, hampir empat belas abad kemudian, sudah lewat waktunya untuk mengatasi sikap ini dan menghadapi tantangan kita.
Bung Karno tidak hanya dikenal sebagai proklamator, tetapi juga seorang pemikir keislaman yang komprehensif. Salah satu kontribusi intelektualnya yang paling signifikan adalah artikel panjang berjudul “Memudakan Pengertian Islam” yang dimuat di majalah Panji Islam pada tahun 1940. Pemikiran ini lahir dari kesadaran historis, sosial-politik, dan geopolitik Bung Karno dalam melihat posisi Islam di tengah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
banyak sekali gagasan-gagasan penting Bung Karno, bagaimana Bung Karno melihat Islam itu seharusnya menjadi sebuah nafas yang selalu berkelindan bagi masyarakat di setiap zaman dan juga setiap tempat. menurut Bung Karno bahwa Islam itu harus selalu dikontekstualisasikan dalam berbangsa dan bernegara, kemudian juga harus selalu relevan dengan keadaan masyarakat.
Kemerdekaan dalam Beragama
Menarik perspektif Bung Karno, dalam hal beragama, kita seharusnya senantiasa mempunyai tiga fondasi utama kemerdekaan: Pertama, kemerdekaan jiwa; merupakan puncak kemerdekaan di mana umat kita harus memiliki mentalitas pemenang dan terbebas dari mentalitas inferior atau mental budak penjajah. Maka, Bung Karno mengatakan, kemerdekaan sesungguhnya adalah semangat kemerdekaan jiwa.
Kedua, Kemerdekaan Akal (Rasionalisme): Bung Karno sangat menekankan pentingnya rasionalitas dalam beragama, umat kita harus mengedepankan akal sehat dan budi pekerti dalam mencapai cita-cita beragama. Kita harus mengingat bahwa Tuhan memberkati kita tak hanya dengan wahyu, tetapi juga akal. Akal memang tidak sanggup menemukan kebenaran metafisika secara utuh-menyeluruh, tetapi dapat memberikan pengertian yang rasional dan masuk akal, misalnya apa yang secara moral “baik” dan “buruk”. Atas dasar itu, kita bisa menafsirkan kembali wahyu dan mereformasi tradisi kita.
Terakhir, adalah Kemerdekaan Ilmu Pengetahuan: Di era modern, kemajuan umat sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bung Karno memandang ilmu pengetahuan sebagai jembatan emas untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan dalam beragama.
Kritik terhadap Taklidisme dan Urgensi Ijtihad
Bung Karno melontarkan kritik tajam terhadap taklidisme, yaitu sikap mengikuti pemahaman keIslaman dari negara lain secara buta tanpa mempertimbangkan karakteristik lokal. Beliau menolak penerapan konsep seperti Khilafah secara mentah-mentah di Indonesia karena setiap negara memiliki ciri khasnya masing-masing.
Sebagai solusinya, Bung Karno mendorong adanya ijtihad atau Rethinking of Islam. Islam harus dipahami secara dinamis sehingga tetap “muda” dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan kontemporer seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender.
Upaya Bung Karno untuk “memudakan pengertian Islam” adalah ajakan untuk melepaskan diri dari kejumudan berpikir. Dengan memiliki jiwa yang merdeka, akal yang rasional, dan penguasaan ilmu pengetahuan, umat Islam dapat berperan aktif dalam kemajuan bangsa dan tidak menjadi penghambat perubahan zaman.
Sebagai seorang Muslim biasa yang peduli dengan krisis ini dan yang mencoba melakukan sesuatu tentangnya, entah benar atau salah, menurut hemat penulis, inilah saatnya bagi kita untuk mulai berpikir ulang. Untuk membuka kembali pikiran kita. Untuk lebih banyak mendukung nalar, kebebasan, dan toleransi.
Oleh: Muhammad Fither, Peneliti Pusat Studi Islam dan Sukarno Kopiah.Co

