Perempuan Jangan Terbelenggu Tradisi

Artikel Populer

Kopiah.co“Setelah lulus nikah An?” Pertanyaan serupa ini, sekarang lebih sering saya dan teman-teman sebaya dengar. Lama-kelamaan membuat saya gerah. Karena seperti dipaksa, mengikuti siklus yang sudah menjadi tradisi. Perempuan kalau sudah lulus sarjana, harus menikah, hamil, punya anak, membesarkan anak, mengurus rumah, pintar masak dan punya anak lagi.

Membuat saya berpikir, sudahkah para perempuan di negeri Merah Putih ini benar-benar merdeka. Dahulu dalam kesulitannya, RA. Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan dan mendobrak tradisi yang tidak ramah perempuan, serta memasung hak-hak pendidikan bagi perempuan.

Sekarang, pintu pendidikan sudah terbuka seluas-luasnya untuk perempuan, namun adakah perempuan-perempuan yang masih terkekang dan belum merdeka?

Tanpa disadari, sebenarnya masih banyak perempuan yang belum merdeka, bahkan sejak dalam pikiran mereka sendiri. Mereka tanpa sadar, mengikuti logika masyarakat yang sudah menjadi tradisi.

Mereka juga sering kali terbelenggu, oleh banyak ketakutan dan tuntutan, pada hal yang tidak esensial, pada hal-hal yang sekadar aksidental. Misalnya, perempuan lebih bingung memakai baju apa, atau lipstik warna apa, pada suatu acara.

Karena merasa takut dipandang kurang menarik dan tidak tahu caranya berdandan sebagai perempuan. Daripada memikirkan, buku apa saja yang sudah dibacanya.

Mereka belajar di gedung-gedung megah. Akan  tetapi, buku-buku di perpustakaan tebal dengan debu. Mereka terbiasa dengan kursi-kursi sekolah.

Akan  tetapi, cita-cita mereka justru ‘hanya’ menikah dengan pria mapan. Seakan pendidikan yang mereka tempuh, hanya untuk tuntutan sosial dalam memenuhi kriteria perempuan idaman. Itu pikiran yang tidak merdeka.

Logika masyarakat yang memandang sinis perempuan yang telat menikah. Menjadi pupuk subur, dalam terus terwariskannya, tradisi masyarakat yang membelenggu perempuan. Seringkali, perempuan lupa, bahwa menikah bukan untuk menyenangkan masyarakat. Memangnya kenapa kalau telat menikah? Susah punya anak katanya. Belum tentu!

Logika lain dalam masyarakat, bahwa perempuan harus menerima kodrat apa adanya. Misalnya, perempuan jika sudah menjadi ibu, sepenuhnya wajib bertanggung jawab mengurus anak, dapur, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Banyak perempuan masih mengikuti logika ini. Mereka mengikuti banyak seminar- seminar menjadi istri ideal, menjadi ibu yang baik dan sebagainya untuk memenuhi standar logika dalam tradisi masyarakat. Padahal, tidak ada seminar serupa untuk laki-laki.  

Mengurus anak dan rumah tangga, itu bukan kodrat. Bukan juga hanya kewajiban perempuan. Akan tetapi, kewajiban laki-laki juga. Jika berbicara tentang kodrat, perempuan hanya memiliki empat kodrat, yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Selain keempat hal tersebut, perempuan sama dengan laki-laki. Jika laki-laki dapat melanjutkan S-2, S-3 dan mapan sebelum menikah tentu perempuan juga bisa.

Bahkan sebenarnya, perempuan mampu menjadi lebih hebat  dari laki-laki. Karena perempuan sudah terbiasa bekerja lebih keras dengan menjalankan banyak peran, misalnya menjadi ibu, istri, anak dari orang tua dan mertua, aktivis, pengajar dan lain sebagainya.

Jika laki-laki menjadi aktivis, dan dia meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan, atau tanpa memikirkan masakan apa yang hendak dihidangkan, masyarakat akan memakluminya.

Berbeda dengan perempuan, jika melakukan hal tersebut, akan dipandang negatif. Ibarat kata, lelaki hanya perlu mendobrak satu kali, sedangkan perempuan harus mendobrak berkali-kali.

Dalam acara Catatan Najwa, Agnez Monica dan Najwa Shihab pun membahas soal perempuan yang terkadang merendahkan diri mereka sendiri. Karena ketidakpercayaan diri mereka. Padahal sebenarnya,  para perempuan memiliki banyak sekali potensi.

Jadilah salah satu Kartini masa kini. Memanfaatkan pendidikan, untuk mendobrak adat budaya yang tidak relevan dengan era sekarang. Perempuan juga harus cerdas. Karena perempuan juga bagian dari masyarakat.

Bukankah kualitas hidup masyarakat, akan lebih cepat perkembangannya, jika banyak elemen masyarakatnya yang cerdas? Dengan hal itu, diharapkan dapat mengentaskan kemiskinan dan problem-problem  sosial yang lain.

Seorang teman pernah berkata, “sebagai perempuan, dipujii karena cantik memang menyenangkan. Akan tetapi, dikagumi karena cerdas itu lebih membanggakan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ambisi Putin Merengkuh Mitos Sejarah

Beragam sanksi dan ancaman bertubi-tubi datang kepada Rusia, namun tidak ada iktikad baik dari Putin untuk mengakhiri invasi militernya...

Artikel Terkait