Pesan Soekarno Kepada Perempuan Indonesia (2)

Artikel Populer

Kunti Zulva Russdiana Dewi
Kunti Zulva Russdiana Dewi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Redaktur Ahli Bedug Media | Fatayat Study Club Mesir | Anggota kajian di Sekolah Tinggi Filsafat Girinata | Anggota kajian Salon Budaya PCINU Mesir

Jika diperhatikan, Soekarno menggambarkan sikap revolusioner perempuan pada kepribadian Sarinah, yang dianggapnya sebagai Marhaen versi perempuan. Marhaen merupakan seorang petani kecil yang ditemuinya pada tahun 1920-an, yang menjadi dasar ideologinya Marhaenisme, yakni sebuah ideologi politik sosialis yang dikembangkan oleh Sukarno sendiri.

Ideologi ini pada dasarnya adalah gagasan proletariat agraria, karena sebagian besar penduduk pada saat itu adalah petani, sehingga Marhaenisme dikatakan sebagai sosialisme Indonesia dalam praktik yang nyata. Pemikirannya ini berawal saat Soekarno memberikan kursus perempuan setiap dua minggu, ketika ia bermarkas di Jogjakarta pada masa transisi pasca 4 Januari 1946 saat pemerintahan Republik berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Soekarno sadar, ternyata sudah lama ia merasa gerakan nasionalis kurang memperhatikan peran perempuan secara lebih serius.

Terlepas dari kita membahas apakah revolusioner itu disimbolikkan dengan Sarinah atau bukan, yang terpenting adalah bagaimana pesan menjadi perempuan revolusioner itu kita terapkan dalam kehidupan kita. Meski situasi dan kondisi saat ini berbeda dengan masa penjajahan di era sebelum kemerdekaan, namun ketidaksetaraan nyatanya tetap saja terjadi. Penindasan perempuan masih saja terjadi, terlepas dari kenyataan bahwa mayoritas perempuan Indonesia telah membuat kemajuan yang sangat besar.

Naasnya, ini sama sekali tidak berpengaruh secara optimal. Faktanya, gerakan perempuan ini justru mengalienasi perempuan lainnya yang berada pada kasta terendah. Sebagaimana diafirmasi oleh Soekarno bahwa gerakan ini adalah tempat berkumpulnya perempuan kelas atas. Gerakan ini pada kenyataanya telah membentuk eksklusivitas baru di tengah kaum perempuan sendiri. Kebermanfaatannya tak bisa dirasakan secara merata, terutama perempuan miskin.

Maka posisi perempuan seperti saat ini tidak jauh berbeda dengan dulu. Lantas apa pentingnya sebuah gerakan dan pesan etis yang disampaikan Soekarno? Gerakan tentu saja masih sangat penting, meski tidak merata, namun setidaknya masih ada perempuan yang mencapai kebermanfaatan itu. Hal itu, paling tidak berguna untuk menyadari pentingnya gerakan sosialis perempuan di tengah arus kapitalisme kontemporer yang menggerus kehidupan sehari-hari. Atau paling tidak, perempuan Indonesia dapat mencerna secara utuh patriarki-kapitalisme secara lebih sistematis dan koheren.

Lalu, bagaimana dengan pesan Soekarno agar perempuan Indonesia menjadi sosok yang revolusioner demi menopang kemajuan bangsa dan negara? Apa pentingnya pesan itu diterapkan dewasa ini? Tentu saja penting. Pesannya memantik perempuan agar mangkat dari kesadaran primitif menuju kesadaran gender sebagai bentuk perubahan. Kita bisa ibaratkan dari bagaimana revolusi sosial politik di dalam sejarah manusia.  Mulai dari revolusi Prancis di abad 18 sampai dengan revolusi kemerdekaan Indonesia di awal sampai dengan pertengahan abad 20.

Berbagai bentuk revolusi tersebut selalu memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan tata dunia atau tata masyarakat yang baru, yang dianggap lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana juga pesan yang disampaikan Soekarno untuk perempuan. Soekarno ingin, tepatnya berharap, bahwa perempuan Indonesia dapat menentukan nasibnya dan tidak bergantung pada justifikasi sosial. Dalam relasi gender sendiri, hubungan sosial laki-laki dengan perempuan adalah realitas yang hadir di tengah kemerdekaan negara Indonesia. Sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan sehingga satu pihak memarginalisasikan yang lain. Keduanya dituntut untuk bahu-membahu.

Karena setelah Soekarno tiada, cerita keberpihakan pada hak dan peran perempuan ini, kesadaran kesetaraan itu dikembalikan lagi pada ruang batas domestik. Setelah revolusi 98, perempuan kembali merangkak dari penjara domestikasi menuju hak dan mengambil perannya. Setidaknya dengan pesan sebagai perempuan revolusioner menjajaki urutan pertama. Ya, paling tidak, revolusi tahap pertama yakni cara berpikir sudah dilakukan oleh perempuan masa kini.

Pada revolusi urutan pertama ini, perempuan akan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah cara dia memaknai dunia dan sekitarnya bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Perempuan harus bisa menguji sendiri metode berpikirnya, lalu sampai pada keputusan, apakah ia harus mengembangkannya, atau justru menghancurkannya sama sekali. Dengan begitu, setidaknya kita tidak lagi meyakini adanya domestikasi. Selain dapur, rumah, dan mengurus anak memang kepiawaian yang dilakukan oleh kebanyakan perempuan, dan bukan sebagai wilayah batasannya. Dengan mengingat pesannya itu, semua aspek sosial akan berjalan menuju perubahan yang lebih baik lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muslim Progresif : Paradigma Berpikir Omid Safi Tentang Keadilan, Gender dan Pluralisme

Oleh : Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah Kairouan Tunisia Kopiah.Co — Di era modern yang semakin...

Artikel Terkait