Pesan Soekarno Kepada Perempuan Indonesia

Artikel Populer

Kunti Zulva Russdiana Dewi
Kunti Zulva Russdiana Dewi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Redaktur Ahli Bedug Media | Fatayat Study Club Mesir | Anggota kajian di Sekolah Tinggi Filsafat Girinata | Anggota kajian Salon Budaya PCINU Mesir

Sejak Indonesia berdiri, kita bisa merasakan sosok Soekarno sebagai orator handal nan berkarisma sepanjang masa. Dengan bakatnya itu, ia seakan dapat menghipnotis seluruh pendengarnya. Kepiawaiannya itu bahkan diakui oleh dunia.

Pidato-pidatonya turut menjadi naskah sakral dalam sejarah berdirinya negara kita. Sosok yang baru saja kita rayakan kelahirannya pada 6 Juni kemarin, tidak pernah lepas dari konteks sosial yang melingkupinya. Bagaimana dirinya tumbuh bersama budaya, dan tradisi. Kepercayaan pada animisme dan mistik, menyukai wayang, menyukai epos hindu, serentak hidup bersama Soekarno dari masa kecilnya di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Kediri.

Sosoknya yang karismatik memang menggaet banyak hati para perempuan yang ditemuinya. Namun, daripada mencintai banyak perempuan, ia lebih tertarik pada buku dan mencintai literasi. Meski perkawinan gandanya sempat memancing amarah para organisasi perempuan progresif seperti Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia didirikan pada 4 Juni 1950) dan Perwari (Persatuan Wanita Indonesia didirikan pada tahun 1945), namun cita-citanya membangun negara yang merdeka, progresif, dan revolusioner berpihak untuk mengangkat dan memperjuangkan peran perempuan.

Sebagaimana tergambar dalam bukunya berjudul Sarinah. Ada setidaknya tiga kutipan dari pemimpin dunia yang ia sematkan dalam sampulnya, mungkin saja sebagai afirmasi bahwa pemikiran dan keberpihakannya pada peran perempuan memang tepat. Salah satunya adalah Vladimir Lenin, “Jika bukan karena perempuan, kita tidak dapat meraih kemenangan.” Kedua ucapan dari Musthafa Kamal Ataturk, “Di antara perbincangan mengenai perjuangan, perempuan hampir dan selalu terlupakan.”  Terakhir Mahatma Gandhi, “Banyak gerakan kita tak berhasil dan kandas di tengah jalan karena melupakan kondisi perempuan.”

Presiden pertama kita sudah dulu menjadi pemerhati perempuan semenjak ia diasuh oleh Mboknya yang bernama Sarinah itu. Penilainnya kepada pengasuhnya adalah kemirisan sekaligus kebanggaan.  Jika kalian baca, sekilas Soekarno sangat seksis mendeskripsikan peran perempuan yang ditulis dalam bukunya. Namun kasus yang ia pecahkan untuk perempuan Indonesia pada saat itu, berhasil membasmi para praktisi perbudakan yang dilakukan oleh sebagian oknum dengan mengatasnamakan agama. Ia menyebutnya sebagai kelompok Islam Sontoloyo.

Soekarno juga mempersoalkan kasus seorang guru agama yang memperkosa seorang santri, dan menggunakannya sebagai alasan untuk menikahinya. Guru tersebut menjadikan Fikih (yurisprudensi Islam) demi membenarkan perbuatan buruk dan eksploitatif. Tak hanya itu, Soekarno berhasil mengkritik interpretasi yang kaku, hingga membongkar stereotip peran perempuan yang berasal dari tradisi dan adat.

Dukungan Soekarno terhadap peran perempuan ia deklarasikan melalui pembentukan Kongres Perempuan. Di dalamnya ia menekankan bahwa kemerdekaan tidak mungkin dicapai tanpa partisipasi perempuan. Bahkan setelah kemerdekaan, pembangunan negara dan bangsa tidak dapat terwujud tanpa dukungan aktif kaum perempuan.

Ketidaksetaraan gender era kolonial, menuntut perempuan Indonesia untuk bisa menentukan nasibnya sendiri. Gerakan perempuan ini tentunya harus melalui proses yang sangat panjang, meski begitu, kehadirannya membuahkan hasil. Posisi perempuan semakin kuat dan dipertimbangan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Hak pendidikan, hak tenaga kerja, hak suara pemilihan, hingga keikutsertaannya di dunia politik.

Soekarno sendiri sebetulnya sangat vokal mengkritik sebagian besar laki-laki yang masih memandang perempuan sebagai “percampuran antara dewi dan orang tolol.” Perempuan dipuji seperti seorang dewi, namun pada saat yang sama dianggap bodoh dalam beberapa hal lainnya. Untuk menyadarkan kondisi masyarakat yang seperti ini, Soekarno berpesan, “Wahai perempuan Indonesia, jadilah revolusioner! Tidak ada kemenangan revolusioner, jika tidak ada perempuan revolusioner, dan tidak ada perempuan revolusioner, jika tidak ada pedoman revolusioner!”

Bagian kedua silakan klik tautan berikut:
Pesan Soekarno Kepada Perempuan Indonesia (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muslim Progresif : Paradigma Berpikir Omid Safi Tentang Keadilan, Gender dan Pluralisme

Oleh : Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah Kairouan Tunisia Kopiah.Co — Di era modern yang semakin...

Artikel Terkait