Masih “Sebelum Filsafat”

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Sejak pertama kali buku Sebelum Filsafat mendarat di tangan saya, tema menarik yang langsung mengambil perhatian saya adalah soal “Membaca Teks Filsafat”. Mengapa tema semacam ini penting bagi saya, adalah sikap subjektif saya sebagai pembaca yang selain meminati kajian filsafat, juga menikmati, bahkan akhir-akhir ini lebih terfokus pada kajian teologi, yakni ilmu kalam. Dalam ilmu kalam, para filosof sering disebut-sebut sebagai lawan debat, yang tak jarang pula berujung pada penyematan hukum kafir. Ambil saja dalam persoalan daya dan potensi benda. Dalam ilmu akidah, dijelaskan bahwa segala sesuatu dari benda-benda ataupun makhluk tidak mempunyai daya dan potensi sama sekali. Jadi ketika kapas bersentuhan dengan api kemudian membuat kapas tersebut terbakar, maka dipahami bahwa yang membuat kapas terbakar itu bukanlah api, tapi kehendak dan kuasa Allah Swt yang membuat sesuatu itu menjadi terbakar, tepat saat proses mempertemukan antara api dan kapas itu berlangsung. Alasan para mutakallimin jelas, karena dalam melihat segala sesuatu, kita bertolak dari prinsip tauhid, yakni tauhid dalam dzat, sifat dan pekerjaan. Jika mempercayai bahwa benda berpotensi (artinya: mempunyai sifat) dan berdampak (artinya: mampu bekerja secara mandiri dan independen), maka hal itu jelas bertentangan dengan konsepsi tauhid.

Prinsip semacam inilah yang kemudian mengilhami konsepsi “kasb” kaum asy’ari. Berbeda dengan muktazilah yang mengatakan bahwa potensi membakar itu memang dimiliki api, namun atas berkat ciptaan Tuhan yang diberikan kepada api tersebut. Berada di luar mereka, ada pendapat para filosof yang mengatakan bahwa potensi membakar memang murni dimiliki api, begitu pun potensi kenyang dimiliki oleh makanan, menyegarkan dimiliki oleh air, potensi sembuh dimiliki oleh obat. Tidak ada campur tangan Tuhan di sana. Tersebab pandangan semacam inilah akhirnya para filosof dituduh kafir.

Ringkasnya, bukannya kaum asy’ari dan maturidiah mengingkari konsep kausalitas, bukan, mereka masih percaya, namun sebatas kausalitas kreatif (kausalitas ciptaan, atau al sababiyah al khalqiyyah).

Persoalan di atas, adalah sekelumit dari beberapa persoalan yang menjadi poin perselisihan antara ulama akidah dengan para filosof. Barangkali dari kecenderungan membanding-bandingkan antara akidah dan filsafat semacam inilah yang membuat bagaimana kaum santri, pengkaji ilmu-ilmu syariat melihat kajian filsafat dengan tatapan agak sinis.

Tapi kecenderungan semacam ini tidak kita temukan dalam Fakhrudin Faiz. Berbeda dengan para penulis filsafat timur tengah, kajian antara ilmu kalam dan filsafat seringkali tidak terpisahkan. Karena Pak Faiz berniat membicarakan filsafat murni sebagai filsafat, maka terlihat di sepanjang tulisannya itu kondisi baik-baik saja, aman-aman saja, dan santai-santai saja. Dengan santai pula ketika mengutip mutiara-mutiara para filosof, mulai dari Socrates, Plato, Aristo, sampai ke Descartes, Kant, Hegel, Nietzsche dan seterusnya, terpahami kesan baik-baik saja. Tidak ada pertengakaran, perdebatan, apalagi permusuhan. Semuanya berjalan mulus, lancar dan sentosa.

Jadi ketika menjelaskan bagaimana cara membaca teks filsafat, maka pembaca akan dipandu oleh penulis dengan menyiapkan beberapa hal layaknya pemandu wisata yang akan memberi tahu dan menceritakan yang indah-indah saja kepada para member, sambil berjalan-jalan mengitari kota, mengambil potret seraya bernostalgia menikmati romansa masa lalu. Ah, asyiknya menjadi Pak Faiz.

Tapi Fakhrudin Faiz cukup serius dalam memberikan arahan. Kita ambil contoh pandangan Nietzsche yang terkesan sinis terhadap agama. Bagi filosof Jerman itu, agama hanya (layak) bagi orang bermental budak yang pasrah dan layak ditindas. Pak Faiz mengingatkan, membaca pandangan Nietzsche secara polos dan saklek seperti akan menimbulkan kemurkaan kaum beragama saja. Namun, kalau kita mencermati perspekstif, fokus, cara bernalar, serta perangkat inteligensi yang dipakai oleh Nietzsche, sangat mungkin kemurkaan itu berkurang. Dari sini Pak Faiz ingin mengambil jalan tengah, bahwa mungkin saja yang dilihat oleh Nietzsche saat itu adalah kondisi ketika umat bergama bersikap fatalis, segala hal diserahkan kepada Tuhan atau agama, maka dalam hal ini Nietzsche melihat bahwa gereja di kalangan Kristen pada Abad Pertengahan telah mendominasi segala segi kehidupan. Atas dasar itu, Fakhrudin Faiz menilai kalau wajar saja jika Nietzsche memberontak. Ia mengatakan:

“Seakan-akan ia berteriak, “kalau dengan agama manusia menjadi tumpul, tidak kreatif, malas, dan cengeng, maka nggak usah beragama saja!” Ia pun meneriakkan satu ungkapan yang terkenal dan kontroversial berbunyi: Tuhan Telah Mati! “ ( Sebelum Filsafat, hal. 80)

Di sinilah menariknya Fakhrudin Faiz. Pandangan kritisnya membuat pendengar dan pembacanya lebih arif dalam menyikapi segala sesuatu. Selalu ada jalan tengah dan tersimpan pesan kebijaksanaan yang bisa diambil. Dari mana dan siapa pun. Namun ada sedikit catatan menyangkut pandangan Nietzsche di atas. Jika konsepsi agama semacam itu diterapkan pada konteks di mana Nietzsche tinggal, maka bukanlah masalah, karena itu berkaitan dengan sikap pelaksana agama masing-masing. Namun jika dilihat dari konsepsi Islam, maka ajakan untuk tidak usah beragama kalau cuman menjadi seorang fatalis semata, itu tidak tepat. Hal itu melihat pada terpisahnya mana agama sebagai iman dan mana agama sebagai amal dan perilaku kehidupan. Dalam paham Aswaja, Iman bukanlah amal, berbeda dengan selain aswaja yang berpandangan bahwa amal adalah iman itu sendiri. Jadi, menurut mereka, jika ada orang melakukan dosa besar, maka imannya hilang. Lain halnya dengan kaum asy’ari-maturidiah, bahwa seburuk apa pun perilaku seseorang, maka hal itu tidak berdampak pada eksistensi keimanan yang menjadi spirit agama.

Lagi-lagi kita melihat filsafat bernuansa negatif. Sisi negatif semacam ini terlihat secara jelas, karena melihat luasnya cakupan filsafat itu sendiri. Dan kalau melihat segala sesuatu murni dari perbedaan dan perselisihan semata, maka kerja-kerja pembacaan tidak akan bergerak. Jadinya macet, belum apa-apa sudah dibayangi perbedaan dan pertempuran. Lalu, mana spirit dialognya? Dimanakah rasa saling belajar satu sama lain antar-kebudayaan? Memang benar ada prinsip-prinsip fundamental yang sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi, tapi menggeneralisir bahwa yang “di luar kami” sepenuhnya salah dan sesat, adalah keangkuhan egoistik semata. Agama tidak mengajarkan itu. Maka dari sini kita merumuskan sebuah konsepsi yang mendamaikan, yang mampu melawan dzalimnya kesalahpahaman, yaitu dengan cara membedakan mana filsafat sebagai produk dan fiksafat sebagai alat. Proyek inilah yang ingin dikerjakan oleh Fakhrudin Faiz. Ia mengatakan, “ Hakikat filsafat sebenarnya hanyalah sebuah alat, cara, dan bukan tujuan … Filsafat adalah kapal yang berlayar di tengah gelombang kehidupan menuju pelabuhan yang bernama kebenaran.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait