Meluruskan Konsep Asya’irah yang Disalahpahami (2)

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Terkadang kita mudah terjebak pada generalitas yang membabi buta. Ambillah misal, orang berpendapat bahwa negara yang tingkat religiustas tinggi biasanya berdampak pada kemiskinan negara tersebut. Orang yang berkata demikian seringkali melihat bangsa-bangsa arab di timur tengah sebagai sampel permasalahan.

Gara-gara orang arab kuat dalam memagang nilai-nilai agama, maka mereka jadi miskin, dan itu terlihat bagaimana situasi timur tengah yang kian memburuk pasca kejadian Arab Spring. Begitulah logika mereka. Dan untuk melihat kelemahan nalar semacam ini kita cukup kembali kepada dua pendekatan, yakni pendekatan realitas dan historis secara bersamaan.

Kita tidak bisa mengelak bahwa fakta terpuruknya bangsa arab seperti Libiya, Suriah, Yaman, Afghanistan dan lainnya pasca arab spring masih terlihat hingga saat ini. Namun hal itu tak menghalangi kita untuk melihat fakta bahwa gemerlap piala dunia 2022 kemarin juga digelar di Qatar yang notabene negara arab atau timur tengah pula. Jika sudah demikian, masih berlakukah bahwa tudughan relijiustas sebagai ciri kemiskinan, yang dalam hal ini jelas cenderung menyudutkan ajaran islam yang diklaim sebagai pemicu konflik dan kemunduran, masih bisa dibenarkan? Sama halnya dengan klaim bahwa orang cina selalu kaya raya, karena di Indonesia tidak sedikit juga orang cina yang tak kalah melarat dibanding etnik yang lain.

Begitu juga dalam kaca mata sejarah, kita melihat bagaimana peradaban modern yang kita nikmati saat ini, sebagaimana terpahami oleh kita semua, adalah kaki tangan dari capain bangsa arab (kaum muslim) yang berjaya pada abad keemasan. Pada masa abasiah misalnya, kita melihat pekembangan sains dan keilmuan islam begitu mengagumkan. Jadi masih relevankah sebuah pernyataan yang ingin membentu-benturkan antara agama dan kemajuan? Jika masih ada yang berpendapat demikian, maka ia sedang terjebak dengan tipu daya jaman kolonial dengan spirit orientalisme yang negatif; pandangan benturan peradaban dan benturan agama dan kemajuan.

Mustinya paham demikian itu sudah tak laku bagi kita yang sudah kaya akan informasi dan globalisasi ini.


Dari pembahasan di atas, setidaknya kita melihat ada satu keanehan dalam nalar pikir mereka, yakni generalisir antara perilaku kaum bergama dengan doktrin agama itu sendiri. Padahal secara substansi nilai, jelas keduanya adalah dua hal yanh berlainan. Agama adalah sakralitas, sedangan kaum beragama sebagai manusia biasa, bisa salah dan bisa benar.

Kebenaran agama tidak boleh diukur melalui status perilaku pemeluknya. Apalagi status kaya-miskin dan maju-mundurnya sebuah bangsa. Karena seideal apapun sebuah nilai ( dan sebagai umat islam, kita jelas meyakini bahwa Islam sebagai ajaran paling benar dan final yang tidak bisa ditawar lagi) akan tetapi jika pemeluknya tidak tepat dalam bersikap, maka yang musti dipertanyakan adalah status perilaku umat beragama tersebut, sudah sesuai atau tidak dengan nilai yang diajarkan.

Pemahaman semacam ini perlu dipertegas lagi, karena kesalahpahaman atas makna religiusitas seringkali terjadi, baik yang bersifat umum maupun secara perinci.

Lalu kita sampai pada kesalahpahaman atas nilai agama yang bersifat perinci (parsial/juz’iyyah). Diataranya adalah kesalahpahaman atas paham asy’ariyah dalam konsep af’alul ‘ibad (perilaku manusia).

Dalam doktrin asy’ariyah dan maturidiah (yang kita yakini sebagai manifestasi ahlussunnah wal jamaah), perilaku manusia berasal dari Alloh Swt secara keseluruhan, namun secara kesadaran aktualnya manusia juga diberi peran untuk memilih dan mengusahakan kebaikan dan keburukan. Peran yang dimiliki manusia tersebut, dalam tradisi asy’ariyah disebut dengan istilah “kasb”, sedangkan dalam tradisi maturidiah dikenal dengan istilah “ikhtiyar”. Meskipun terkesan berbeda secara penamaan, namun keduanya mengarah pada substansi yang sama (perbedaan sekedar khilaf lafdzi semata). Berkaitan konsep kasb, setidaknya ada dua syubhat tercatat dalam hal ini. Pertama, jika semua perbuatan manusia diciptakan oleh Alloh Swt, lalu mengapa Alloh Swt mengazab kita sedangkan yang menciptakan perbuatan tersebut adalah Alloh itu sendiri?

Untuk menjawab syubhat ini, kita bisa mendekatinya dari dua pendekatan, yakni hukum rasio dan hukum testual (naqli). Pertama, secara rasional kita melihat bahwa pada kesadaran empiriknya, manusia sama sekali tidak terjebak pada kondisi keterpaksaan. Yakni, manusia melakukan apa saja yang ia inginkan, yang mana dengan cara itulah kita melihat mekanisme kasb/ikhtiyar manusia bekerja, murni dari keinginan dan perilakunya sendiri. Meskipun secara hakikatnya kita meyakini bahwa semua usaha manusia adalah takdir Alloh Swt, namun secara jujur, siapakah dari kita yang bisa menyaksikan dan mampu memorediksi takdir Alloh Swt? Jika benar yang dimaksud adalah demikian, maka jelas hal itu adalah kenaifan belaka. Sudah seharusnya kita memahami takdir sebagai kebenaran hakikat yang final, namun dalam waktu bersamaan, kita tak bisa mengngkari nikmat pilihan dan niat berbuat kemaslahatan yang diangurahkan oleh Allah Swt kepada kita semua. Dengan pertimbangan tersebut, maka kita melihat konsep ahlussunnah wal jamaah adalah moderatisme karena berhasil memadukan antara sakralitas takdir Tuhan dengan kesadaran manusia yang bisa berbuat dan merancang laku kehidupan secara bebas.


Lalu dari sisi naqli, kita melihat syubhat diatas tak lebih dari upaya mempertanyakan hak prerogratif Allah Swt, yang mustinya bersifat mutlak dan tidak bisa didekati melalui kacamata makhluk yang penuh keterbatasan. Hal ini sesuai dengan firmannya:

” Dia tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, akan tetapi merekalah yang akan ditanya.” ( Surat Anbiya:23)

Syubhat kedua yang diajukan kepada asy’ariyah adalah jika semua perbuatan manusia diciptakan oleh Alloh Swt, niscaya status keburukan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia akan dinisbatkan kepada Alloh Swt, sedangkan hal itu berkonsekuensi adanya kesan negatif akan Dzat Alloh Swt yang maha kuasa.

Kita melihat sesuatu yang aneh dalam syubhat di atas yang cenderung menggeneralisir status perbuatan manusia sebagai takdir, seolah-olah manusia yang diciptkan oleh Alloh Swt sebagai makhluk yang mulia dan lengkap dengan potensi dan pikiran adalah kenihilan semata. Yakni terdapat lompatan cukup besar dalam nalar akidah mereka, yang seolah-olah alam semesta yang kita huni ini adalah kekosongan belaka. Tidak ada konsep taklif, khalifah, spirit amal kebaikan yang semua itu adalah anugerah yang mustinya disukuri dan menjadi inspirasi membangun peradaban umat manusia. Sedangkan pada sisi yang lain, tindakan menisbatkan amal keburukan manusia kepada takdir adalah bias dari krisis adab seorang hamba yang mana hal demikian itu telah diajarkan dalam al Quran:

” Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Alloh dan keburukan apa pun yang menimpamu itu (kesalahan) dari dirimu sendiri.” ( Surat An-Nisa’:79)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Semarakkan Peringatan Satu Abad NU, Nahdliyyin di Tunisia Ngaji Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun

Kopiah.Co — Dalam rangka menyemarakkan satu abad Nahdlatul Ulama, warga NU (Nahdliyyin) di Tunisia ngaji kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun....

Artikel Terkait