Meluruskan Konsep Asyairah yang Disalahpahami (3)

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Sebagian orang salah paham terhadap ilmu kalam. Dikiranya ilmu tersebut semacam murni tradisi. Bisa diikuti jika berkenan, mungkin juga ditinggalkan jika tidak diperlukan. Pada titik ini, ilmu kalam ditatap sekedar iseng belaka. Padahal, ilmu tersebut bermula sebagai respon terhadap kegelisahan zaman dalam menyikapi persoalan kehidupan: titik sentralnya ialah perihal ketuhanan.


Tersebab sisi fundamental yang dimiliki ilmu kalam dalm menjawab persoalan ketuhanan, kita melihat Imam Baidlowi, salah seorang pembesar madzhab asy’ari yang hidup pada abad ketujuh hijriah memberikan pengertian atas ilmu kalam, yakni ” sebuah ilmu yang dengan mempelajarinya seseorang mampu menetapkan akidah-akidah agama dengan menghadirkan beberapa argumentasi dan menolak tuduhan-tuduhan yang menyimpang terhadapnya.” ( Lihat towali’u al anwar hal-4)


Jika kita menilik sejarah, maka akan kita dapatkan bahwa ilmu kalam sebagai sebuah ilmu sempat ditolak oleh para ulama mujtahid mazhab. Ditambah keberadaanya yang muncul belakangan karena belum ditemui perbincangan yang signifikan perihal masalah-masalah ketuhanan. Para ulama menafsirkan bahwa alasan mengapa belum ada pembahasan kalam pada masa sahabat adalah karena masa tersebut sangat dekat dengan cahaya kenabian, yang mana semua persoalan umat langsung mendapat bimbingan melalui ajaran wahyu dan bimbingn Nabi Muhammad Saw secara langsung. Maka ketika berakhirnya abad pertama ditandai semakin hilangnya generasi sahabat yang mampu menerangi umat, maka semua orang akhirnya tampil kepermukaan untuk berbicara apa saja perihal keagamaan. Maka sejak saat itulah terjadi penyimpangan paham-paham keagamaan.

Diceritakan seorang laki-laki berkata kepada Abdullah ibn Umar Ra:


” Telah muncul di zaman ini orang-orang yang berzina, mencuri, meminum khomr dan membunuh jiwa-jiwa yang diharamkan oleh Allah Swt, lalu mereka berkata, kami melakukan ini sesuai dengan apa yang diketahui (ilmu) Allah. Mendengar itu Ibnu Umar murka seraya berkata, maha suci Allah. Memang semua itu sudah ada dalam ilmu Allah, lantas hal itu tak bisa digunakan (sebagai tendensi) untuk perbuatan-perbuatan (keji) tersebut.” ( Lihat Tasy Kubro Zadah dalam Miftah al Sa’adah, jilid 2 hal 143)


Dalam perjalanan sejarah kecenderungan ini dikenal dengan aliran jabariah, yakni pendapat bahwa segala perbuatan manusia diintervensi sepenuhnya oleh takdir. Begitulah kira-kira kita melihat lanskap persoalan ketuhanan begitu meresahkan bersinggungan secara langsung dalam kehidupan umat.


Tersebab kesan-kesan yang negatif semacam inah para ulama mujtahid mazhab melarang dan menghimbau umatbagar tidak ikut-ikutan dalam pembahasan kalam. Namun itu tidak berlaku mutlak, sebagaimana dijelaskan oleh Tasy Kubro Zadah, bahwa kritikan para ulama salaf itu tertuju pada kecenderungan murjiah dan muktazilah yang begitu populer pada waktu itu. Berarti, pembahasan kalam yang berkaitan dengan manhaj ahlussunnah wal jamaah tidak masuk ke dalam arahan kritik ulama salaf.


Dari sini kita mencatat perihal urgensi ilmu kalam karena mampu memberi jawaban yang sesuai dengan manhaj aswaja sebagai terekam dalam bangunan pemikiran asyairoh dan maturidiah. Sebagai contoh konkrit kita melihat soal hubungan takdir dan perilaku manusia adalah salah satu pembahasan yang menjadi perhatian para ulama karena akan senantiasa relevan. Diantaranya adalah syubhat, ” mengapa Allah Swt mencipatakan manusia padahal ia sudah mengetahui kalau manusia akan berbuat lalim dan munkar di muka bumi?”


Hingga saat ini, syubhat semacam ini sering diajukan oleh sebagian orang. Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama memberi penjelasan tentang konsep kasb atau ikhtiyar dalam fan kalam melalui cara yang beragam. Ada yang pendek karena cukup memberi prinsip-prinsip dasar, ada juga yang panjang lebar.


Syekh Ibrohim Baijuri mengurai persoalan ini cukup dengan satu paragraf pendek dalam hasyiyah atas akidah sugroh Imam Sanusi.


Begitu Syekh Muhammad Abduh juga memberi penjelasan yang menarik dalam karya fenomenalnya berjudul Risalah Tauhid. Dalam risalah tersebut Syekh Abduh mengritik tegas pandangan kaum muktazilah dan jabariah secara bersamaan. Ia juga mengritik kasb yang disalahpahami sebagai potensi syirik atas kuasa Allah Swt, dan itu dalam hal ini Syekh Abduh menisbatkan diri pada pemdapat Imam Juwaini rahimahumulloh. Meskipun manusia mempunyai kasb dan ikhtiyar dalam menentukan amal perbuatannya, hal itu tidak bisa disebut syirik ( menisbatkan kemampuan yang sama antara manusia dan Tuhan), karena pengertian syirik sendiri adalah ” meyakini adanya pengaruh potensial bagi selain Allah Swt yang berdampak di luar batas anugerahnya berupa hukum kausalitas dalam perkara-perkara zahir”. ( Lihat A’mal Kamilah Muhammad Abduh jilid 3 hal 404)


Namun menariknya, Syekh Abduh menuliskan bahwa pembahasan ini tak boleh keluar batas seperti halnya menyentuh ranah-ranah rahasia tentang sifat ilmu, iradah dan qadr secara berlebihan karena hal itu dicegah dalam agama.
Berbeda dengan Syekh Abduh yang terkesan memberi batas-batas dalam persoalan af’al al ibad, Dr. Said Romadhon al Buthi malah menulis satu buku yang cukup tebal dikhususkan untuk pembahasan ini. Buku itu berjudul Al Insan Baina al Musayyar am al Mukhayyar?. Buku ini direkomendasikan bagi mereka yang ingin mempelajari konsep kasb asya’iroh secara detail dan panjang lebar.


Syekh Buti menjelaskan, meskipun keburukan berasal dan diciptakan oleh Allah Swt, namun dalam pandangan aswaja tidak diperbolehkan menisbatkan perilaku keburukan kepadaNya. Memang benar bahwa Tuhanlah pencipta keburukan, tapi tidak tepat dikatakan bahwa Tuhanlah pelaksana/pelaku keburukan tersebut, karena pengertian daripada melakukan keburukan adalah menyandang sesuatu yang bersifat buruk, ” al talabbusu bi syai’n qabihin, dan maha suci bagi Allah Swt dari karakter seperti itu. ( lihat Al Buti hal- 42).


Syekh Buti juga menjawab syubhat yang telah disebutkan di atas yang mengesankan tuntutan manusia akan hak perogratif Tuhan dalam menciptakan alam semesta yang murni dipenuhi kebaikan. Mengandaikan alam semesta yang tidak bersinggungan dengan kesalahan adalah pekerjaan ilusif semata karena menginginkan sebuah sistem kehidupan yang tidak mengandung hikmah ilahiah, dan berkonsukensi hilangnya taklif yang diberikan oleh Allah Swt kepada menusia.


Allah Swt berfirman:

” Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (Surat al Anbiya:35)


Pada eksistensinya, kita mengenal manusia sebagai makhluk penuntut. Kurang ajarnya, Tuhan pun tak jarang dituntut-tuntut, bahkan ada yang menyalahkanNya karena tidak sesuai dengan pola pokir kedunguan. Padahal, dalam panjang nafas sejarah kehidupan, manusia sendiri tak mampu menciptakan tatann dunia yang seluruhnya adil dan benar. Hingga saat ini, peperangan masih terjadi, jika antara manusia sendiri tak mampu membendung potensi keburukan satu sama lain, maka jelas sekali keinginan untuk membatasi dan membendung keagungan Tuhan adalah bias dari ketidakberadaban dan ketidaktahudirian manusia, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Semarakkan Peringatan Satu Abad NU, Nahdliyyin di Tunisia Ngaji Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun

Kopiah.Co — Dalam rangka menyemarakkan satu abad Nahdlatul Ulama, warga NU (Nahdliyyin) di Tunisia ngaji kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun....

Artikel Terkait