Oleh: Muhammad Fikri Haekal, Peneliti KOPIAH.CO.
28 Februari 2026 menjadi titik balik eskalasi geopolitik paling serius sejak perang Rusia–Ukraina 2022. Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran—yang diberi sandi Operation Epic Fury—tidak hanya merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan ratusan korban lainnya, tetapi juga telah menciptakan dinamika baru geopolitik abad 21 yang sangat sulit untuk di prediksikan. Aksi balas dendam Iran dengan melumpuhkan kekuatan vital Israel dan mengincar pangkalan militer Amerika yang tersebar di berbagai negara Timur Tengah telah membuat ketegangan baru internasional, yang juga membuka babak baru konflik jangka panjang dengan dampak sistemik secara global. Peristiwa ini membuktikan bahwa biaya untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan di kawasan Timur Tengah sangatlah mahal.
Menurut Carl Von Clausewitz dalam buku klasiknya On War (Vom Kriege) mengatakan bahwa “Perang tidak pernah gratis, selalu ada pengorbanan manusia, ekonomi dan moral”. Artinya, tidak ada satu pun peperangan tanpa pengorbanan, dan dampaknya pun pasti akan dirasakan oleh aktor lain yang tidak ikut serta dalam peperangan. Konflik Iran–Israel semakin yang mencuat dengan serangan AS-Israel baru-baru ini, memunculkan kekhawatiran dunia akan dampak sosial ekonomi global. Dalam hal ini, meskipun Indonesia terletak jauh secara geografis dari arena konflik, dan tidak terlibat secara langsung dalam perang, akan terkena dampak yang cukup signifikan baik dari sisi geopolitik maupun stabilitas ekonomi domestik.
Jantung dari kekhawatiran konflik ini adalah Selat Hormuz, yang dikuasai oleh Iran dan disebut sebagai “titik cekik ekonomi dunia” . Urat Nadi Minyak Dunia: Sekitar 20-30% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati selat strategis ini . Negara-negara konsumen utama seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada jalur ini untuk pasokan energi mereka . pada Sabtu (28/03/2026) Iran resmi menutup Selat Hormuz, dan mengeluarkan ancaman akan menargetkan dan membakar kapal manapun yang nekat melintasi jalur perairan tersebut, hal ini yang menjadi malapetaka bagi kancah internasional.
Memanasnya konflik Us-Israel melawan iran sontak berimbas pada Lonjakan harga minyak dunia otomatis akan menyeret harga BBM di Indonesia, pasalnya indonesia banyak mengimpor BBM dari wilayah Timur Tengah. Penutupan selat hormuz akan menyeret harga minyak dunia ke level lebih dari 100 USD per barel (melebihi kenaikan 25%), sedangkan asumsi harga minyak mentah dalam anggaran dan belanja negara 2026 hanya 70 USD per barel. Di sisi lain, direktur CELIOS Bima Yudhistira Adhinegara mengatakan bahwa dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan 1 USD per barel di atas asumsi APBN akan menambah belanja anggaran senilai 10,3 triliun rupiah, meroketnya harga minyak juga akan berimbas pada semakin besarnya defisit anggaran pemerintah hingga 6,8 triliun yang memicu lonjakan subsidi energi.
pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto disebut sedang memetakan navigasi di tengah situasi global yang semakin tidak menentu. Pada Senin (2/3/2026), Presiden Prabowo Subianto memanggil 2 menterinya: Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan untuk menemui presiden di Istana Presiden dan melaporkan kondisi domestik terkini. Menteri ESDM melaporkan harga minyak Brand telah melambung ke level 79 USD per barel per hari Senin (2/3/2026), padahal sebelumnya harga minyak Brand hanya 71–73 USD per barel, dan Indonesia mengimpor minyak Brand dengan angka impor 1 juta barel per hari pada akhir 2025. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate naik menjadi 72 USD per barel, padahal sebelumnya hanya 65–67 USD. Kementerian ESDM telah memutuskan untuk mengalihkan sebagian impor crude yang sebelumnya dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk menjamin ketersediaan pasokan.
Beban lain juga terdapat pada impor LPG yang merupakan salah satu komponen impor terbesar. Indonesia menggantungkan kebutuhan LPG pada Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Amerika Serikat dengan total nilai impor LPG lebih dari 714 juta USD per tahun. Kenaikan harga energi global secara otomatis bakal mendorong lonjakan biaya impor, dan APBN akan semakin tercekik karena harus membiayai subsidi energi.
Problematika ini menempatkan pemerintah pada posisi sulit (dilema). Jika pemerintah menahan harga energi di dalam negeri, subsidi energi akan membengkak. Jika harga minyak mencapai USD 100 per barel, tambahan beban fiskal bisa mencapai Rp50 triliun – Rp80 triliun, yang berisiko memperlebar defisit APBN. Sebaliknya, jika harga BBM dinaikkan, daya beli masyarakat akan terpukul.
Gejolak pasar keuangan tidak berhenti sampai di situ. Ketidakpastian global memicu mode risk-off, di mana investor menarik modalnya dari negara-negara berkembang. Dampaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi sebesar 2–4 persen, bahkan bisa mencapai 9–10 persen apabila konflik meluas. Nilai tukar rupiah juga berada dalam tekanan dan berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.000–Rp17.500 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini akan meningkatkan biaya impor, termasuk impor energi, sehingga memperberat beban perekonomian nasional.
Konflik tersebut juga mengancam terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengeluarkan peringatan bahwa perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berpotensi menciptakan gelombang PHK besar-besaran di Indonesia. Rantai sebab-akibatnya dinilai jelas: kenaikan harga minyak mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang kemudian meningkatkan biaya produksi perusahaan. Akibatnya, harga jual barang ikut naik.
Pada saat yang sama, sektor ekspor, logistik, dan pariwisata turut menghadapi tekanan. Gangguan jalur perdagangan internasional di kawasan Timur Tengah berpotensi menghambat ekspor Indonesia ke Eropa, sementara biaya logistik meningkat akibat ketidakpastian dan penggunaan rute alternatif yang lebih panjang. Di sektor pariwisata, meningkatnya ketegangan dan aksi militer di wilayah tersebut menyebabkan sejumlah bandara membatasi operasional serta maskapai melakukan pembatalan dan pengalihan rute penerbangan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang transit internasional, tetapi juga oleh jamaah Indonesia yang hendak berangkat umrah dan terpaksa menunda atau membatalkan perjalanan karena alasan keselamatan dan ketidakpastian jadwal. Secara keseluruhan, ketegangan global ini menurunkan mobilitas masyarakat dan berpotensi mengurangi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, sehingga memperluas spektrum dampak ekonomi yang harus dihadapi.
ketegangan internasional dan semakin mencuatnya konflik amerika-israel dan iran menjadi faktor kerugian banyaknya negara internasional yang tidak mengikuti perang, indonesia tanpa terkecuali termasuk negara yang sangat besar menerima dampak konfik ini, Energi Lonjakan harga minyak mentah dunia, beban impor membengkak Keuangan Negara, Tekanan defisit APBN karena membengkaknya subsidi energi,Pasar Modal IHSG berpotensi terkoreksi, Rupiah melemah terhadap Dolar AS,Politik Luar Negeri Posisi diplomatik yang sulit, tawaran mediasi di tengah konflik Sosial Terhambatnya pemulangan WNI, jemaah umrah, dan pekerja migran. Para ahli sepakat bahwa durasi konflik adalah kunci. Jika konflik berlangsung singkat (3-5 hari), dampaknya mungkin bersifat sementara. Namun, jika berkepanjangan (lebih dari dua minggu) dan harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel, maka Indonesia akan menghadapi ujian serius terhadap ketahanan ekonominya, dengan potensi pertumbuhan global melambat dan resiko resesi baru.
Ketegangan internasional yang kian memuncak akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi sumber kerugian bagi banyak negara yang sejatinya tidak terlibat langsung dalam peperangan, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan ketergantungan tinggi pada stabilitas global, Indonesia turut merasakan dampaknya di berbagai sektor strategis. Dalam ranah politik luar negeri, Indonesia berada pada posisi diplomatik yang tidak mudah, di satu sisi menjaga prinsip politik bebas aktif, di sisi lain menghadapi dinamika tawaran mediasi di tengah pusaran konflik. Para ahli sepakat bahwa durasi konflik menjadi faktor penentu utama. Apabila berlangsung singkat, sekitar tiga hingga lima hari, dampaknya mungkin bersifat sementara. Namun, jika konflik berkepanjangan lebih dari dua minggu dan harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel, Indonesia akan menghadapi ujian serius terhadap ketahanan ekonominya, di tengah ancaman perlambatan pertumbuhan global dan meningkatnya risiko resesi baru.

