Membaca Spirit Keilmuan Syekh Abu Musa

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Hari ini adalah hari yang begitu menggembirakan bagiku. Rasanya sudah hampir tiga tahun semenjak  pandemi  Covid-19 datang, guruku, Syekh Muhammad Muhammad Abu Musa lama tidak aktif mengajar di Masjid Al-Azhar. Akhirnya di bulan Oktober 2022 ini, beliau memulai pengajiannya kebali atas kitab Dalail I’jaz karya Syekh Abdul Qahir al Jurjani Ra.

Rindu ini terbayar lunas, ketika kudengar suara beliau yang khas dan begitu menggelegar di telingaku. Apa yang aku rasakan bukan sekadar kerinduan akan seseorang yang sudah lama tak kujumpai, namun lebih tepatnya adalah kerinduan ‘kata’ akan sebuah hakikat makna.

Saat kulihat Syekh Abu Musa berkata-kata dengan semangat dalam mengurai makna-makna ayat Al-Quran, yakni menggunakan analisa ilmu balagah sebagai pisau yang paling fundamental dalam mengurai dan menangkap pesan makna Al-Quran, saat itu juga aku kembali tersadar dari kerancauan pikiran yang mengelabuhiku akhir-akhir ini. Bahwa yang dimaksud sebagai ilmu, seperti yang “mereka” katakan, bukanlah soal bagaimana seseorang berusaha menuju pengetahuan akan sumber-sumber agama: Al-Quran dan Sunnah. Bagi mereka, Ilmu semacam ini adalah ilmu yang berkutat kepada turast, dan Al-Azhar mempunyai semangat menggelora dalam menjaga tradisi turast. Sebab itu, Al-Azhar (dan orang-orang seperti Syekh Abu Musa) dalam pandangan “mereka” adalah kelompok konservatif.

Tak hanya itu, bagi “mereka” Ilmu turast bahkan menjadi lambang kemunduran zaman. Entah bagaimana mulanya muncul sebuah stigma atas hal-hal yang bersifat “masa lalu” itu. Tapi seharusnya kita sadar betul, ilmu adalah ilmu. Ia bukanlah suatu hal yang hanya dibentuk oleh kerangka waktu semata, namun eksisnya sebuah ilmu bernilai tersebab nilai, hakikat serta orientasi dari sebuah ilmu itu sendiri.

Berkaitan dengan itu, Syekh Abu Musa mempunyai pandangan mengenai orientasi keilmuannya sendiri. Dengan tegas beliau mengatakan, “Sesuatu yang menjadi prioritas utamaku, adalah bagaimana cara mendidik sebuah generasi yang dicintai oleh Allah SWT dan rasulnya. Maka, makna dari khidmah kepada umat adalah bagaimana cara menghasilkan generasi-generasi yang menjaga bumi ini, apa saja yang di dalamnya serta (spirit) sejarahnya. Ini cukup untuk kalian. Dan aku sangat yakin bahwa Allah SWT akan menerima segala amal yang ditujukan pada (kemaslahatan) umat.”

Beliau juga mengatakan, “Aku sangat heran, bagaimana mungkin sebuah umat yang dalam sejarahnya memiliki bangunan keilmuan yang begitu bernilai, ternyata kini malah dipandang sebagai umat yang terbelakang.”

Apa yang dikatakan Syekh diatas, semacam menjadi jawaban atas kegelisahanku selama ini. Benar, bagaimana mungkin bangsa Arab yang dalam kesejarahannya mampu menjadi pioner dalam kamajuan peradaban dan memiliki kekayaan bangunan intelektual yang sangat tinggi, ternyata kini menjadi sorotan bahwa dirinya sedang terpuruk.

Sayangnya, hal ini menjadi terlihat sangat jelas saat kita menemukan fakta di lapangan.  Adalah pertanda wujudnya kemiskinan, ketimpangan sosial, belum lagi negara-negara Timur Tengah yang masih dilanda konflik internal selama beberapa dekade terakhir ini. Tentu, kita tidak menafikan hal itu. Tapi, tindakan yang sembrono dan fatal apabila mengambil sebuah kesimpulan dengan menyatakan penyebabkan kekacauan tersebut adalah karakter agamanya. Sehingga muncul stigma, bahwa negara yang taat beragama adalah negara yang tertinggal. Sedangkan, keilmuan Islam klasik yang diajarkan di lambaga-lembaga pendidikan di negara tersebut adalah model yang tertinggal karena caranya yang kuno. Tapi Abu Musa menolak itu semua. Iya melihat ada dua hal yang berjalan berlawanan, keilmuan Islam sebagai lambang kemajuan, dan realita masyarakat yang berjalan menuju ketertinggalan. Jadi yang salah bukan ilmunya, namun bagaimana masyarakat menghadapi tantangannya, yakni kemanusiaan.

Dari sini, kita akan membaca bagaimana konsep “kebernilaian” versi Abu Musa. Dan kebernilaian tersebut tidak bisa mengandalkan sikap pasrah kepada keadaan. Dengan begitu, bukan semata-mata manusia terlahir dan dibesarkan di suatu tempat yang subur, tiba-tiba saja ia bisa kecukupan dan sejahtera tanpa disertai usaha-usaha produktif dari diri sendiri. Dalam hal ini, Abu Musa menekankan pentingnya sikap nalar sekaligus sikap mentalitas kita sebagai umat manusia.

Beliau mengatakan, “Tiadalah yang mampu membentuk akalmu melainkan dirimu sendiri. Seandainya Allah SWT mengirim utusan kepada kita semua Nabi-nabi yang pernah diutusnya, mulai dari zaman Nabi Nuh As sampai zaman Nabi Muhammad SAW, yang menjadi sayyidnya para makhluk Allah SWT sedangkan kita dalam keadaan terlelap, niscaya kita akan tetap menjadi umat yang tidur terlelap. Semua kalam setiap zaman itu tidaklah lebih kuat dibanding kalamullah (Al-Quran) kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka semua tidak juga lebih memberi pengaruh kepada diri kita semua dibandingkan kekuatannya Al-Quran. Maka jika kehidupan kita selalu bersama Al-Quran saja dalam keadaan tertidur lelap, maka saat ini juga “seakan” kita hidup bersama para Nabi sejak zaman Nabi Nuh AS itu—andaikan Allah membangkitkannya— akan tetapi dalam keadaan tidur terlelap pula.”

Tidak perlu disangsikan bahwa genre kajian yang dilakukan dan diajarkan oleh Abu Musa adalah genre kajian klasik, yakni ilmu paramasastra Arab (balagah). Tapi toh demikan, spirit-spirit kajiannya mempunyai suatu orientasi luhur, yaitu religiusitas dalam pemaknaan universal;  ketuhanan dan kemanusiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait