Menimbang Kesadaran Ala Kaum Sufi

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Di suatu sore, saat saya sedang asik bergumul dengan kopi seorang diri, tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh bungkuk, berambut gondrong dengan pakainnya yang lusuh masuk ke warung kopi. Dari penampilan tersebut kita tahu kalau dia adalah orang gila. Terlihat orang-orang di sekeling cuek, dan si lelaki tadi mendatangi barista. Tanpa basa-basi, lelaki tadi diberi segelas entah berisi teh atau kopi, lalu pergi.


Melihat itu, tiba-tiba benak saya terusik dengan rasa penasaran dan pertanyaan. Apa itu kegilaan? Jika gila diartikan sebagai ketidakmampuan, bukankah setiap kita adalah lambang ketidakmampuan. Kita sama-sama tidak mampu, lalu apa yang membedakan orang gila dengan yang lainnya.


Jika dikatakan kegilaan sebagai hilangnya kesadaran tersebab gangguan jiwa atau pikiran, lalu kesadaran itu sendiri itu apa?
Belakangan ini ramai di media sosial, seorang suami telah berselingkuh dengan mertuanya sendiri. Padahal, kita tahu kalau si suami dan si mertua tadi melakukan perbuatan tersebut dengan penuh rasa sadar. Jika kegilaan dianggap tidak bermartabat karena hilangnya kesadaran dan kewarasan, lalu apa bedanya dengan perilaku selingkuh yang dilakukan dengan kesadaran, yang sekaligus waras tersebut?


Satu-satunya yang membedakan orang gila dengan yang tidak gila ialah dari sisi konsekuensi nilai dan perilaku. Tidak perlu ada perbandingan dari sisi hina dan mulia, karena orang waras yang tidak bisa memanfaatkan kewarasannya tidak kalah hina dibanding orang yang tidak waras. Kita bisa melihat dari beberapa sisi, misalnya dari sisi ketuhanan, kemanusiaan, dan sosial kemasyarakatan.
Orang yang berdosa kepada Alloh Swt dengan kewarasan yang dimiliki, bagaimana hal tersebut tidak disebut sebagai kehinaan?


Orang yang berbuat zalim terhadap sesama, bagaiamana itu tidak hina?


Orang yang mengambil hak orang lain, mementingkan hasrat diri tanpa kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain yang masih bodoh, miskin dan lemah, bukankah itu termasuk simbol kehinaan diri juga?


Sebagai contoh, di kecamatan sebelah tempat tinggal saya, terdapat suatu pabrik yang mana tersebab limbah yang dikeluarkan dari pabrik tersebut, berdampak pada satu kawasan luas yang tercemar air bersihnya. Sehingga yang terjadi adalah krisisnya air bersih, masyarakat harus membeli air mineral untuk kepentingan minum dan memasak, dampaknya anak kecil terkena penyakit dan air sumber dari daerah tersebut tidak bisa digunakan untuk mandi. Maka tidak heran masyarakat menentang adanya pabrik tersebut yang jelas sekali merugikan warga. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas fakta demikian itu? Selain pemilik pabrik, secara tidak langsung para karyawan juga terlibat dalam tindakan yang tak etis tersebut. Miris sekali bukan?


Berbicara soal kegilaan, kita mengingat karya apik berjudul Uqola al Majanin, Logika Orang-orang Gila. Buku ini ditulis pada abad ke empat hijriah oleh Abu al Qasim Hasan bin Muhammad bin Habib. Menariknya, yang dimaksud sebagai orang-orang gila di sini bukanlah seperti yang dipahami oleh khalayak umum. Melainkan tertuju kepada kaum sufi yang seolah dengan tegas penulis ingin menyentuh alam kesadaran kita. Para sufi adalah kaum rasionalis, namun tersebab rasio yang mereka miliki itulah justru membuat diri mereka disalah pahami sebagai manusia yang gila.
Lebih jauh lagi, Abu al Qasim mengambil inspirasi karyanya itu dari cerita para Rasul terdahulu yang dituduh oleh umatnya sebagai orang-orang gila. Ia mengatakan, “Orang gila ialah seseorang yang berbeda dengan orang-orang umum hingga kemudian mereka mengingkarinya”.


Allah Swt berfirman:


“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman”.” (surat-al-qamar-ayat-9)


Allah Swt berfirman:


“Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”.” (Surat-az-zariyat-ayat-39)


Diceritakan bahwa Abu al Qasim al Hakim berkata:


“Barangsiapa yang mengerti dirinya, maka di mata manusia dia adalah orang yang rendah. Dan barang siapa yang mengerti tuhannya, maka di mata manusia dia adalah orang yang gila. Oleh sebab itu saat Rasululloh Saw mengajak kaum musyrik Mekah untuk beriman kepada Allah Swt, maka kaum musyrik Mekkah menuduh Nabi Saw sebagai orang gila, penyihir, penyair dan tukng ramal.” ( Lihat Uqala al Majanin hal. 30)


Salah satu tokoh yang diangkat dalam buku tersebut adalah Sa’dun Majnun, yang artinya Sa’dun yang gila. Alkisah suatu hari Malik bin Dinar bertemu dengan Sa’dun di daerah Basrah. Lalu terjadi percakapan di antara keduanya:


Malik: “Bagimana keadaanmu? Bagaimana kabarmu?”


Sa’dun: “Wahai Malik, bagimana keadaan seseorang yang akan bepergian jauh tanpa disertai bekal yang ada, sedangkan dia akan mengahadap pada Tuhan yang maha adil?” Setelah itu, Sa’dun pun menangis tersedu-sedu.


Malik: “Lalu apa yang membuatmu menangis?”


Sa’dun: “Demi Allah, aku tidak menangis karena merindukan dunia atau pun takut akan kematian, tapi aku menangisi umurku yang telah habis tanpa amal kebaikan yang ku perbuat di dalamnya. Demi Allah, yang membuatku menangis adalah bekal yang sedikit, keberuntungan yang jauh, dan balasan yang teramat berat, dan aku tidak tahu nasibku setelah itu, apakah menuju sorga atau neraka.”


Malik: “Aku mendengar darinya layaknya ucapan seorang ahli bestari, lalu aku berkata kepadanya, sesungguhnya orang-orang telah mengira bahwa engkau selama ini adalah orang yang gila.”


Sa’dun: “Sungguh engkau telah tertipu sebagaimana tertipunya ahli dunia. Orang-orang menganggapku gila, padahal bukan kegilaan yang ada pada diriku, melainkan rasa cinta kepada tuhanku yang telah bercampur antara antara hati dan sumsumku hingga mengalir ke seluruh darah, daging dan tulangku.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Semarakkan Peringatan Satu Abad NU, Nahdliyyin di Tunisia Ngaji Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun

Kopiah.Co — Dalam rangka menyemarakkan satu abad Nahdlatul Ulama, warga NU (Nahdliyyin) di Tunisia ngaji kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun....

Artikel Terkait