Moderasi Beragama Bung Karno

Artikel Populer

Kopiah.Co — “Bangunlah suatu bangsa dimana semua bangsanya hidup dalam damai dan persaudaraan”. – Bung Karno.

Petikan dari ungkapan Bung Karno di atas merupakan prinsip dari moderasi beragama yang mendorong agar antar sesama umat manusia di muka bumi ini dapat hidup berdampingan (coexsistence), saling hormat menghormati (respect), saling belajar (mutual learning), dan bersaudara yang dibangun dengan spirit gotong-royong (collaboration).

Hal ini senada dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa agama yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah (yang bercirikan) lurus dan moderat. Muhammad Thahir bin ‘Asyur, seorang Mufassir asal Tunisia memaknai hadits Nabi ini dengan mengatakan, bahwa ruh moderasi ditandai dengan cara beragama yang toleran (al-samhah), yang terkandung di dalamnya kebaikan serta kemudahan (al-yusr).

Ajaran yang berisi kebaikan dan kemudahan (al-yusr) itu kemudian meniscayakan para pemeluknya untuk bersikap terbuka, adil, toleran, dan dapat melihat sesama manusia sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai kesempatan sama dalam berpikir, bertindak, bahkan berkeyakinan.

Karena hakikatnya, ruh dari moderasi beragama adalah keterbukaan dan perasaan memandang orang lain dengan semangat persamaan derajat, sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13. Dengan demikian, kehidupan umat manusia yang dibangun atas kesetaraan dan keadilan sosial dapat terwujud.

Bagi Bung Karno, ajaran Islam hakikatnya berorientasi pada kemajuan. Sebab itu, menurutnya, umat muslim harus berpikiran terbuka, sehingga agama dapat benar-benar menjadi sumber solusi dalam membangun peradaban sebagaimana semestinya. Menurut Bung Karno, relevansi ajaran Islam, atau dalam bahasa arab disebut ‘salih li kulli zaman wa makan‘ yaitu ketika umat muslim berijtihad dan melakukan pembaruan atas ajaran Islam sebagai respons terhadap kehidupan manusia yang dinamis.

Pemikiran Bung Karno tersebut bukanlah pemikiran bebas yang tidak jelas sumbernya. Namun, sejak remaja, Bung Karno telah belajar Islam kepada HOS Tjokroaminoto, Ketua Central Sarekat Islam dan Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Selama belajar Islam kepada kedua tokoh tersebut, Islam dipikirkan oleh Bung Karno secara terbuka, dialogis, kritis sekaligus konstruktif.

Disamping itu, Bung Karno juga banyak membaca buku-buku tentang Islam melalui buku-buku berbahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Perancis, dan lain-lain. Sementara buku-buku mengenai pemikiran Islam yang menjadi referensi Bung Karno dalam memahami Islam adalah karya para pemikir dunia Islam seperti Sayyid Amir Ali, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, ‘Ali ‘Abd al-Raziq, Qasim Amin, Muhammad Iqbal, dan lain-lain.

Dari pemahaman tentang Islam itu, Bung Karno juga membuat tulisan khusus yang membahas mengenai pemikiran Islam, khususnya yang terkait dengan pembaruan Islam. Di antaranya adalah “Surat-surat Islam dari Ende” yang merupakan dokumentasi dari dialog antara Bung Karno dan Ahmad Hassan, Tokoh Persatuan Islam. Bung Karno juga menulis tentang Islam Berkemajuan yang berjudul “Memudakan Pengertian Islam.” Ide dan gagasan brilian Bung Karno tentang Islam itu dapat dibaca langsung dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.

Selain itu, kondisi sosial masyarakat di masa Bung Karno juga memengaruhi pemikiran keislamannya. Dalam perjalannya mengenal Islam, semakin dekat Bung Karno kepada ajaran Islam, keteguhannya dalam menentang kolonialisme semakin kokoh. Sehingga, Islam yang berkembang dalam diri Bung Karno adalah Islam yang anti penindasan dan anti penjajahan. Sebaliknya, Islam yang dipahami oleh Bung Karno adalah Islam yang pro terhadap kemanusiaan dan peduli terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Bung Karno dalam catatannya mengatakan bahwa, “Ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk praktek hidupnya manusia, atau praktek hidupnya bangsa, atau praktek hidupnya kemanusiaan”. Teori ini senada dengan apa yang ditegaskan oleh Fazlur Rahman, pemikir Muslim dari Pakistan yang mengatakan, bahwa sebuah Islam yang tidak dapat memberi solusi kepada persoalan kemanusiaan, tidak akan memiliki masa depan yang cerah. Maka itu, kontekstualisasi dari syariat Islam adalah ketika ajarannya berpihak pada kemanusiaan yang dinamis dan terbuka.

Implementasi Moderasi Beragama Bung Karno

Setidaknya ada tiga strong poin yang dapat kita ambil dari pemikiran dan gagasan Bung Karno yang senada dengan ruh moderasi beragama. Pertama, ruh dari moderasi beragama, dalam pandangan Bung Karno tentang Islam adalah, bahwa agama mendorong pemeluknya untuk berpikiran terbuka dan tidak kaku. Islam yang dipahami oleh Bung Karno adalah Islam yang pro terhadap ilmu pengetahuan.

Pada perjalannya mengenal Islam, Bung Karno selalu menggelorakan ‘rethinking of Islam’ agar Islam bisa maju. Bung Karno tidak ingin umat Islam di Indonesia tertutup sama sekali oleh jumud, khurafat, bid’ah, dan tahayul-tahayul. Dalam rangka rethinking of Islam ini, Bung Karno mendorong umat Islam untuk memikirkan kembali maksud-maksud Islam (maqasid al-syari’ah) yang humanis, moderat, dan inklusif.

Bung Karno menulis, bahwa, “Jauhnya kaum intelektual muda terhadap agama, barangkali kita punya pengetahuan agama itu perlu di her-oritentasi, ditelaah, dikoreksi kembali, dipermudakan”. Ia juga mengatakan, “Demi Allah Islam science bukan hanya pengetahuan al-Qur’an dan hadis saja. Islam science adalah pengetahuan al-Qur’an dan hadis plus pengetahuan umum! Orang tidak akan dapat memahami betul al-Qur’an dan hadis kalau tidak berpengetahuan umum“.

Menurut Bung Karno, untuk mendukung pemahaman al-Qur’an dengan baik, setiap generasi muda muslim harus mempelajari pengetahuan umum seperti sejarah, psikologi, teknologi, biologi, dan lain-lain. Sehingga, menurut Bung Karno, pengajaran Islam dapat disatu-padukan dengan pengetahuan modern sehingga ajaran Islam terus relevan dan dapat merespons isu global.

Kedua, ruh yang terkadung dalam moderasi beragama sesuai pemahaman Bung Karno adalah ketika Islam yang pro terhadap kemanusiaan. Maka itu, tidak mungkin ajaran Islam mengajarkan kerusakan, penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan.

Prinsip Bung Karno tentang kemanusiaan ini mendapat penghargaan dari para tokoh dunia di berbagai negara, khususnya di Timur Tengah dan Afrika. Pada tahun 1955, Bung Karno menggelar Konferensi Asia-Afrika di Bandung sebagai upaya mewujudkan perdamaian dunia dan menghentikan segala bentuk penjajahan di berbagai negara, terutama di kawasan Asia dan Afrika.

Ketika Islam berorientasi pada pemenuhan kehidupan umat manusia yang damai, maka kesejahteraan akan dapat diraih dan dirasakan manfaatnya oleh warga dunia. Gagasan ini pun mendorong agar di antara sesama manusia dapat saling bekerja sama, bergotong-rotong, dan tolong-menolong (al-ta’awun).

Tak dimungkiri, bahwa Nabi Muhammad SAW telah menjadikan kemanusiaan sebagai misi utama (maqshad al-ula) dalam menebar ajaran agama. Pada pembebasan kota Makkah, Nabi Muhammad dapat melakukannya tanpa meneteskan setetes darah pun. Dalam membangun kota Madinah, Nabi Muhammad SAW juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansor serta merangkul Muslim dan Yahudi agar hidup berdampingan secara damai, bahkan bekerja sama menciptakan keadilan sosial.

Adapun yang ketika, karakter dari moderasi beragama yang diamalkan oleh Bung Karno adalah, bahwa dalam menjalani kehidupan berbangsa, setiap kita harus mengedepankan kepentingan bersama (maslahah al-‘ammah). Jelas, ketika Bung Karno berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, Bung Karno bekerja keras untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang saat itu masih terpecah belah, misalnya antara kaum Islamis dan Nasionalis.

Kemudian setelah Indonesia merdeka, Bung Karno juga yang berupaya agar seluruh bangsa Indonesia dari sabang sampai merauke bersatu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perbedaan suku, ras, dan agama tidak boleh menjadi penghalang untuk tidak bersatu. Namun sebaliknya, justru menjadi kekuatan sebagaimana yang ditegaskan dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Jejak Bung Karno dalam membangun kemaslahatan bersama (maslahah al-‘ammah) adalah ketika Bung Karno melahirkan Pancasila sebagai dasar negara. Sehingga saat ini Pancasila menjadi inspirasi bagi warga dunia. Di tengah keberagaman dan kemajemukan, bangsa Indonesia dapat bersatu di bawah falsafah Pancasila.

Sebagai generasi muda yang hidup berbangsa dan benegara, sesungguhnya nilai-nilai pemikiran Bung Karno ini menjadi inspirasi moderasi beragama yang dapat kita teladani. Ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kepentingan umum harus menjadi tujuan utama kita dalam membangun wacana keagamaan yang humanis dan inklusif. Sehingga, moderasi beragama yang kita perjuangkan dapat benar-benar menjadi solusi kebangsaan dan kemanusiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerita dari Palestina : Berbaik Sangka kepada Imigrasi Paling Ketat, Allenby Border

Kopiah.Co — Berbaik sangka dalam menjalani apapun ternyata dapat menjadi perjalanan hidup kita menjadi ringan, termasuk saat singgah ke...

Artikel Terkait