Perihal Niat, Pancasila, dan Trisakti

Artikel Populer

Oleh : Mansurni Abadi, Kontributor Kopiah.Co

Kopiah.Co — Niat seseorang untuk mengerjakan sesuatu pada hakikatnya adalah juga tujuannya. Berniat mau pergi ke manapun juga, sama saja mempunyai tujuan pergi ke tempat itu. 

Cara untuk mencapai Yerussalem misalnya, harus memiliki cara (how to), tentu maknanya bisa bermacam-macam ; naik bus, kereta, pesawat,  kaki, berlari, sendirian, rame-rame, berangkat minggu depan, hari ini ataupun kapan saja. Ini semua adalah cara (how to) yang memerlukan ilmu pengetahuan untuk mengerjakannya. 

Niat akan didorong oleh faham yang diyakini (keimanan, ideologi) dan dijalankan dengan action (amal perbuatan, kegiatan, program, kebijakan, dan lain-lain) untuk meraih cita-cita (tujuan jangka pendek ataupun panjang).

Adagium dari Bung Karno perihal Iman-ilmu-amal: ; amal ilmiah, ilmu amaliah. Kalau Ditarik secara praksis bisa bermakna tanpa ilmu kita bisa tersesat, niat yang korup juga membuat sesat dan dzalim. Niat yang paling luhur adalah “niat yang tulus ikhlas karena Tuhan”.

Untuk itu, harus dalam koridor ajaran agama dan budi pekerti masing-masing orang serta sejauh mana individu atau kelompok menguasai ilmu pengetahuan (how to) dalam mewujudkan tujuan tersebut. Bukan seenak ndase.

Niat dalam Konteks Berbangsa

Pancasila sebagai ideologi adalah niat dan cara kolektif kita mencapai tujuan sebagai sebuah bangsa. 

Untuk mengevaluasi kinerja seorang pemimpin, pemerintahan, lembaga, dan sebagainya, kita harus mampu melihatnya dengan menggunakan Pancasila sebagai tolok ukur paradigmatik. Apakah kebijakan, program, kegiatan, ataupun tindakan yang sedang atau akan dilakukan tersebut sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Perihal menjadi pemimpin, petuah bung karno Dalam pidatonya “Tahun Viveri Pericoloso” masih sangat relevan. Ia mengatakan, “merdeka tidaknya sesuatu negeri, selain bisa dilihat dari struktur ekonominya, dari politik dalam dan luar negerinya, dan sebagainya, juga bisa dilihat dari kualitas penguasa-penguasanya. Negeri yang diperintah oleh komprador-komprador imperialis tak mungkin negeri yang merdeka! Ambillah misalnya Konggo.”

Evaluasi dan intervensi dapat dilakukan dengan melakukan intervensi pada tiga dimensi ideologis (iman-ilmu-amal atau mitos-logos-etos). Pada dimensi mitos, perbaikan dilakukan melalui nation and character building. Dimensi logos dilakukan dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan sebagai pengungkit dalam membangun peradaban untuk kesejahteraan yang berkeadilan.

Knowledge based development harus menjadi pedoman semua stakeholders, bukan sekadar eksploitasi sumber-sumber alam dengan resource based development. Watak serakah biasanya lebih cenderung untuk mengeruk dan mengeksploitasi alam dengan mengejar kelanggengan kekuasaan.

Sedangkan yang terakhir, dimensi etos, adalah menyangkut bagaimana kerja keras dalam satu tata kelola yang menghasilkan kesejahteraan yang berkeadilan. 

Kembali pada Trisakti

Bung karno pernah mengatakan bahwa Trisakti merupakan kerangka dalam membangun bangsa. Artinya membangun bangsa meraih cita-cita bangsa mempunyai persyaratan (necessary conditions): berdaulat dalam politik (tata kelola sistem ekonomi), berdikari dalam ekonomi (tata sejahtera yang berkeadilan), dan berkepribadian dalam kebudayaan (tata nilai dalam sistem yang sesuai dengan Pancasila). 

Di sini, menjadi sangat penting mempertimbangkan Geo-politik dan geo-ekonomi terkait kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi. Sedangkan tata nillai (berkepribadian dalam kebudayaan) dapat ditata melalui penguatan nation and character building. 

Dengan kerangka Trisakti ini, maka pesan lagu kebangsaan Indonesia Raya dapat berjalan dengan baik (bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya). Namun semuanya ini tergantung kepada niat yang tulus, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang saleh. Kesalehan individu harus bisa menjadi kesalehan sosial untuk kepentingan seluruh masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait