Privilege dan Pengaruh Kedudukan Sosial

Artikel Populer

Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
Santri | Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir

Kopiah.coBerbicara tentang privilege bukanlah suatu hal yang memecah-belah. Ini merupakan sebuah hal yang penting untuk dibicarakan.

Bahkan, kita butuh untuk membicarakan semua tentang hal-hal yang berkaitan dengan adanya privilege, dan beberapa jenis privilege yang perlu kita ketahui juga tentunya.

Semakin baik berbicara soal privilege, maka akan semakin baik pula kesadaran masyarakat untuk tidak meremehkan atau merendahkan dari adanya ketidaksetaraan dalam bermasyarakat, sehingga akhirnya dapat merubah sistem yang tidak seimbang.

Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI],  menyebutkan kata privilege diserap dari Bahasa Inggris menjadi privilege yang memiliki arti hak istimewa. Hal pertama kali yang terlintas dipikiran kita, ketika berbicara adanya sebuah kata `privilage` atau yang sering disebut dengan hak istimewa.

Di negara demokrasi, privilage itu diartikan sebagai hak istimewa, keuntungan, kelebihan, atau imunitas yang tersedia diberikan kepada orang tertentu atau hak yang sudah melekat pada diri seseorang sejak dia lahir.

Secara otomatis membuatnya lebih mudah untuk menjalani kehidupan kedepannya. Setiap orang memiliki privilege nya masing-masing. Namun, tidak semua orang bisa memukul sama ratakan antar privilege yang dimilikinya.

Privilege merupakan topik yang mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan. Menghadapi sebuah sistem yang didasari oleh hal ini sehingga menimbulkan ketidakadilan.

Orang yang merasa memiliki privilege di atas akan selalu merasa cukup dengan adanya privilege. Ada beberapa macam jenis privilege yang sering kita dengar, seperti: male privilege, white privilege, class privilege, Muslim privilege. Bahkan, setiap Negara mempunyai colorism yang berbeda.

Kalau kita tarik kebelakang pada kejadian kerusuhan rasial yang terjadi hampir di seantero Amerika Serikat, adanya gerakan `Black Lives Matters` yang berfokus pada keadilan bagi orang-orang berkulit hitam. Kehidupan rasisme yang berdampak pada kehidupan mereka.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, privilege berpotensi menimbulkan adanya keuntungan dan kerugian maupun pihak yang diuntungkan maupun dirugikan. jika ada yang  dirugikan. dan orang-orang tersebut pasti akan lebih aware terhadap ketimpangan tersebut.

Orang-orang berkulit hitam dan akan lebih aware dengan ras mereka. Begitu juga dengan perempuan yang lebih aware dengan issue feminisme.

Karena issue ini cukup kompleks, memperlakukan issue ini bukanlah hal yang mudah. Membicarakan soal privilege itu tidaklah mudah. Karena, terkadang orang tidak sadar bahwa dirinya memiliki privilage itu sendiri. Dan biasanya dirinya tidak ada usaha untuk menggunakan cara privilege tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui, orang yang mempunyai privilege itu memiliki pengalaman perhatian lebih banyak dari lingkungan di sekitarnya dan lebih mudah untuk dimengerti, yang akhirnya itu semua bermanivestasi ke diri sendiri dan mempengaruhi overwhelming.

Lalu, bagaimana dengan orang yang  menggunakan privilege dalam kehidupan sosial? Andaikan, terdapat dua orang memasuki sebuah stadion untuk menonton pertandingan, dan keduanya dilahirkan dengan tinggi badan yang berbeda, mereka membeli tiket yang sama, duduk di tempat yang sama, akan tetapi orang yang memiliki badan lebih tinggi tidak kehilangan privilege nya sama sekali dan tidak bisa menyalahkan hal tersebut.

Sedangkan orang yang memiliki tinggi badan lebih pendek disebut under-privilege. Saat kita punya privilege tertentu kita sadar bahwa kita punya keuntungan dari berbagai aspek. Sudah satnya orang yang memiliki Privilege mengakui bahwa dirinya memiliki privilege.

Point penting dari privilege itu adalah, konsep intersectionality atau seseorang yang memiliki berbagai identitas, dan dari identitas tersebut dapat berinteraksi satu sama lain.

Dalam hal ini ada yang memberikan privilege kepada orang lain, ada pula yang merugikan orang lain karena privilege yang dimilikinya. Dan itu semua memberikan pengalaman unik untuk dirinya saja.

Banyak pula hal-hal yang mempengaruhi orang untuk memiliki privilege  status sosial dan ekonomi. Karena, memiliki kesempatan dan peluang yang lebih besar untuk mencapai tujuan atau eksistensinya.

Privilege tidak selalu berkaitan dengan orangtua yang memiliki akses yang baik, jaminan yang baik, atau keluarga yang memiliki banyak hal. Lebih luas dari itu, privilege adalah ketika memiliki keluarga, orangtua, dan lingkungan yang selalu mendukung penuh apa yang sedang kita perjuangkan.

Meskipun dalam keadaan titik terendah sekalipun, setidaknya ada dorongan mental untuk terus menyambut mimpi dan cita-cita. Privilege juga tidak harus berbicara tentang harta atau kesetaraan sosial dan ekonomi, tapi memiliki orangtua dan lingkungan yang selalu suportif dan mendukung penuh impian kita juga privilege yang merupakan modal untuk bisa percaya diri menyambut hal-hal baik di masa depan.

Kita sebagai seorang manusia tentu saja, tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari darah, keluarga, maupun dari garis keturunan mana, siapa, dan seperti apa. Tidak semua orang terlahir dengan keadaan yang sama dan setara. Seperti adanya perbedaan ekonomi, ras, gender, agama, bahkan orientasi seks tertentu.

Orang yang mempunyai privilege lebih mudah untuk mencapai hal yang lebih tinggi karena dianggap memiliki kuasa lebih daripada orang lain. Pada akhirnya, kita sendirilah yang harus membangun privilege itu sendiri dengan mengubah mindset dan pola pikir tentunya. Bahkan tidak sedikit orang sukses yang awalnya tidak memiliki privilege

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait