Tongkrongan Warkop dan Upaya Mengikis Eksklusivisme

Artikel Populer

Nizam Noor Hadi
Nizam Noor Hadi
Mahasiswa Universitas AL-Azhar Mesir

kopiah.co – Apa yang terlintas dalam pikiran Anda tentang warung kopi? Sudah menjadi maklum, tempat ini biasa menjual beragam cita rasa makanan dan minuman dengan banderol harga yang sangat terjangkau. Tentunya menu utama berupa seduhan hangat secangkir kopi tidak terlewatkan. Bagi sebagian orang nongkrong di warung kopi (selanjutnya akan saya sebut warkop) sudah menjadi rutinitas keseharian. Terkhusus bagi kalangan mahasiswa, nongkrong di warkop seakan menjadi aktivitas yang sudah benar-benar mendarah daging. Tak jarang sembari bercengkerama dengan kawan sejawat membahas bumbu-bumbu persoalan romantika kehidupan dari ranah pribadi sampai problematika sosial-aktual.

Ya, kebiasaan menghabiskan waktu di warkop dikenal sebagai alternatif ruang hiburan rakyat nan ekonomis. Di samping itu, warung kopi berfungsi sebagai fasilitas untuk saling berinteraksi antar pengunjung. Sebagian lain mendatangi warkop dengan maksud untuk melepas penat dari berbagai aktivitas keseharian, yang terkadang monoton dan membosankan. Atau, ada juga para penikmat kopi yang sengaja memanfaatkan tempat ini sebagai media bertukar pikiran. Para pengunjung warkop ini baik disadari atau tidak, sejatinya sedang melakukan upaya refleksi dan aktualisasi diri.

Di Mesir, lebih tepatnya di daerah Kairo, ada sebuah warkop yang terkenal bernama layali. Kalau kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia kata layali adalah bentuk jamak dari al-Layl yangberarti malam hari. Kemungkinan nama layali digunakan lantaran warkop ala Mesir ini mempunyai jam operasi semalam suntuk. Bahkan, warkop layali akan dipadati pengunjung pada pertengahan malam saat tim nasional sepak bola Mesir sedang berlaga. Pengelola layali memang menyediakan beberapa layar televisi untuk menanyangkan langsung siaran pertandingan tersebut.  

Warga lokal Kairo itu datang berbondong-bondong ke layali untuk melakukan tradisi nobar. Mereka memang dikenal sebagai pendukung fanatik timnas kebanggaannya. Saking padatnya pengunjung, sampai-sampai kursi yang disediakan oleh pengelola layali tidak cukup menampung antusias mereka. Lantas sebagian yang lain rela sambil berdiri menyaksikan layar televisi yang menyiarkan gocekan apik Mohammad Salah, salah satu pemain bintang timnas Mesir.

Bagi segelintir kawan Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) kafe layali menjadi salah satu opsi tongkrongan mereka. Terkhusus bagi saya, warkop yang memiliki hiasan ornamen  dan ukiran khas Timur Tengah ini memiliki keistimewaan tersendiri. Duduk berlama-lama di ruangan ini saya rasa cukup nyaman sembari melahap lembaran-lembaran buku bacaan. Bahan materi kuliah pun sering kali saya habiskan di salah satu deretan kursi layali.

Pun hampir berkali-kali, di salah satu sudut layali, saya bersama kawan karib melewatkan waktu berjam-jam untuk berdiskusi perihal dinamika ke-Masisir-an hingga proyek penyusunan buku lembaga kajian tertentu. Malahan, kami menyamakan tempat tongkrongan ini setara dengan kampus yang di dalamnya terdapat aktivitas intelektual. Kami menyebutnya dengan nama pelesetan Layali University, oleh karena saya dan kawan seperguruan banyak menambah wawasan serta keterampilan komunikasi di tempat ini, selain di bangku kuliah pastinya. Hal serupa yang kami saksikan dari rutinitas mahasiswa lokal Kairo yang datang ke layali untuk membaca buku atau mengerjakan setumpuk tugas kuliah.

Sangat disayangkan ketika beberapa orang justru memandang sinis terhadap kawan-kawan Masisir yang menggandrungi tonkrongan di warkop layali. Mereka berprasangka rutinitas ini tidak memiliki nilai produktifitas. Padahal berdasar sekilas pengamatan saya dan kawan-kawan, kami banyak melatih kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi di tempat ini. Lebih-lebih komunikasi dengan penduduk lokal Mesir. Jadi, bagi saya dan teman sejawat, Layali University menjadi salah satu sarana kami mencari ide sembari berdiskusi. Alasan mendasarnya juga pengelola layali tidak membatasi waktu para pengunjungnya yang ingin menikmati kopi sambil berinteraksi satu sama lain. Hal itu yang tidak bisa ditemukan di ruang-ruang formal intelektual semacam kampus, perpustakaan, dan majelis ilmu lainnya.

Harusnya dapat diakui, warkop layali di sini memiliki peran penting sebagai salah satu media yang efektif untuk membangun dan meningkatkan kemampuan komunikasi. Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik akan mudah menimbulkan kesalahpahaman antar individu atau kelompok. Apalagi individu yang tidak terlatih untuk berkomunikasi akan menciptakan kesan eksklusifitas. Selanjutnya, paham eksklusif akan membuat seseorang selalu mendaku ‘kebenaran’ mutlak hanya menurut dirinya atau kelompoknya saja, tanpa mempertimbangkan bahkan mendengarkan pendapat orang lain.

Ulil Abshar Abdalla atau biasa disapa Gus Ulil menamakan gejala eksklusifitas dengan istilah “Qutbiisme”. Sosok cendekiawan muda NU ini menandai gejala eksklusifitas dengan dua hal, pertama, kepongahan yang terbit karena seseorang “merasa” telah memegang kebenaran mutlak. Kedua, “self-righteousness”, yaitu perasaan paling “saleh” sendiri, sementara orang lain berada di “lorong kesesatan” dan karena itu perlu diselamatkan. Dua gejala tersebut secara tidak langsung timbul akibat keengganan individu untuk membuka ruang dialog. Cara pandang yang demikian akan mudah menghukumi pihak lain yang berbeda dengan label, stereotip negatif. Padahal apabila seseorang memiliki sudut pandang yang luas lewat keterampilan komunikasi dan terlibat aktif dengan membuka ruang-ruang interaksi, tentu akan terkesan lebih luwes menerima segala sekat perbedaan.

Akhirnya, manfaat minimal yang bisa didapatkan dari tongkrongan di warkop layali adalah dapat mengenal karakter atau kepribadian seseorang. Ketika berlanjut dengan interaksi dan diskusi intelektual yang mendalam, maka hal itu merupakan bonus dari keinginan dalam proses aktualisasi diri. Sekalipun tidak dipungkiri juga kalau-kalau nongkrong di layali terkadang cuma sekadar mencari hiburan saja, ikut nobarbola misalkan. Ya, boleh-boleh saja, toh?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait