Kapitalisasi Agama (2)

Artikel Populer

Umroh; Suatu Perjalanan Spiritual

Di titik ketika saya melihat ribuan manusia darimanapun mereka, melakukan ibadah bersumber dari Sayyidah Hajar yang berlarian mencari air demi Nabi Ismail, yang kala itu diceritakan sedang menangis hingga turunlah perintah dan seruan untuk melaksanakan Sa’i dalam surat al-Baqarah ayat 158, saya kembali mempertanyakan keresahan saya sebelumnya. Bagaimana mungkin agama yang hanya menjadi produk mampu mendatangkan manusia-manusia ini untuk  sekadar memutari Ka’bah dan berjalan dari Shafa ke Marwah dengan sukarela? Bagaimana pula kuasa-kuasa di sekitar mereka sama sekali tidak mengusik kenikmatan beribadah mereka?

Umroh termasuk daripada lima rukun yang menandai peribadatan umat muslim. Rukun di awali dengan syahadat sebagai suatu bentuk pengakuan atas kebutuhan kita kepada Tuhan. Setiap manusia memiliki naluri untuk terus kembali kepada penciptanya. Ibn Sina dengan pemikirannya dalam ulasan Majid Fakhry menyatakan bahwa dalam hati manusia tersambung dengan akal kedua (Callestial Soul) yang mana konsekuensi dari adanya akal satu (Universal intellect)sebagai luberan emanasi Wajibul wujud. Sehingga bukan hal yang mengada-ada ketika kerinduan atas sang Maha muncul di setiap sanubari manusia.

Setelah setiap dari manusia mengingkrarkan diri atas kerinduan kembali kepada tuhan, lalu mereka akan menuju perjalanan selanjutnya, yakni sholat. Sholat adalah wadah peneguhan rohani setelah pengikraran. Dengan batas minimal lima kali sehari, peneguhan berulang dibutuhkan untuk memperkuat pengikraran yang sebelumnya, hingga pertalian kehambaan terus menguat sampai akhir hayat. Begitu pula dengan zakat dan puasa. Kedunya merupakan perjalanan manusia dalam bentuk pengorbanan. Korban harta pun korban kedirian mereka dari hal-hal yang mereka inginkan.

Setelah perjalanan panjang yang dimulai dari pengikraran, peneguhan hati, pengorbanan keduniawian menuju fana, sampailah manusia pada rukun kelima yakni pertemuan dalam puncak kerinduan.

Ketundukan sebagai puncak penghambaan

Materialis adalah posisi saya ketika membaca tanah suci hingga memunculkan keresahan-keresahan seperti yang saya tulis di atas. Dominasi kuasa dari pihak tertentu memang tidak terelakkan. Sampai kapanpun akan selalu ada manusia yang memiliki kepentingan berkehidupan. Namun yang barangkali tidak boleh saya lepaskan, bahwa persoalan niat kembali pada diri personal. Tidak ada manusia yang diizinkan mengetahui niat daripada manusia yang lain. Barangkali upaya-upaya atas Khidmah kepada jamaah adalah upaya yang sungguh berasal dari niat menjamu tamu Tuhan dengan baik.

Pun dengan pihak yang bersebelahan. Jamaah, bila ditilik maka akan menjadi objek yang terugikan. Namun, para jamaah sama sekali tidak merasa demikian. Mereka dengan tujuan merayakan pertemuan kerinduan justru melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari penghambaan mereka kepada Tuhan. Kepentingan-kepentingan pihak tertentu berdampingan dan berjalan bersama dengan kepentingan pihak yang lain.

Inilah yang membuat saya mengerti, mengapa saya selalu menangkap air mata pada setiap mata jamaah. Di dalam setiap mata yang berthawaf dan sa’i, pun pada setiap mata yang memandang Ka’bah, terdapat guratan penghambaan yang penuh (Al ittisol Bil iman). Para jamaah memilih untuk merayakan kerinduan mereka dan melepaskan diri dari urusan keduniaan sebagai suatu bentuk upaya penyerahan yang utuh.

Tulisan ini merupakan sekuel dari tulisan sebelumnya Kapitalisasi Agama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Semarakkan Peringatan Satu Abad NU, Nahdliyyin di Tunisia Ngaji Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun

Kopiah.Co — Dalam rangka menyemarakkan satu abad Nahdlatul Ulama, warga NU (Nahdliyyin) di Tunisia ngaji kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun....

Artikel Terkait