Masihkah Kita Ragu untuk Bangga Menjadi Indonesia?

Artikel Populer

Kopiah.Co – “Rasanya si goblok ini harus mencoba menulis buku tentang Raja Leopold dan Kongo di bawah penjajahan Belgia sebelum berani sesumbar” kritik seorang politisi populis sayap kanan Belanda (PVV). Serangan bernada sinis itu dialamatkan kepada David Van Reybrouck, seorang penulis asal Belgia, ketika ia mulai menarasikan keistimewaan revolusi Indonesia.
Sang politisi berniat membungkam Van Reybrouck, tanpa menyadari bahwa sang penulis justru telah lebih dulu melahirkan mahakarya yang menelanjangi habis-habisan kebrutalan Belgia di Kongo. Ironi ini seolah menegaskan satu hal: narasi tentang kebesaran Indonesia sering kali memancing reaksi defensif dari mereka yang enggan mengakui pergeseran sejarah.
17 Agustus 1945 menjadi momen agung milik bangsa Indonesia. Meski demikian, kemerdekaan yang diraih dari proses pengorbanan air mata dan darah tidak semerta merta membuatnya menjadi negara berdaulat yang kokoh. Keistimewaan dan keunggulan yang dimilikinya terkadang menjadi bumerang bagi bangsa ini; di mana dalam waktu singkat dan tergolong muda ia dipaksa berdiri sempurna untuk memenuhi segala ekspektasi rakyat yang penuh harap atas nama kesejahteraan.
Berbicara tentang keunggulan Indonesia, kita bisa membicarakannya dari berbagai macam aspek. Dalam ranah geografi misalnya; Indonesia merupakan wilayah kepulauan terbesar di dunia. Berdasarkan data terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG) pada tahun 2024, sekitar 17.308 pulau yang berada dalam teritorial Indonesia. Letaknya yang strategis yakni berada di antara dua benua; Asia dan Australia, serta di antara dua samudra; Hindia dan Pasifik menjadikan Indonesia sebagai jalur lalu lintas internasional yang penting, sehingga banyak kapal dagang melewati jalur perairan ini.
David Van Reybouck, seorang penulis asal Belgia, dalam bukunya yang berjudul “Revolusi Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern” menggambarkan Indonesia sebagai negara yang sangat luar biasa. Selain kebesaran demografi dan geografinya yang paling mencolok, sejarah kemerdekaannya merupakan peristiwa penting dalam skala global.
Indonesia merupakan negara pertama yang menyatakan kemerdekaan setelah Perang Dunia Kedua. Fondasi kedaulatan ini bahkan dicapai kurang dari dua hari setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945. Kemerdekaannya membawa dampak luas bagi kacamata penjajahan ”ekspektasi dekolonisasi” yang di wujudkan dalam Konferensi Asia Afrika.
Meskipun dalam realitas saat ini, cita cita mulia itu menjadi semacam beban dan dipertanyakan koherensinya setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri pengumuman pembentukan Dewan Perdamaian, Board of Peace, yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1) waktu setempat, di mana keputusan ini dianggap melahirkan tafsir baru tentang politik Indonesia yang tidak lagi hanya menjaga netralitas tetapi mengembangkan strategi multi-keselarasan yang memungkinkan Indonesia berinteraksi dengan berbagai pusat kekuatan global sekaligus.
David Van Reybouck juga meyakini bahwa negara terbesar keempat di dunia ini akan membuat semua orang kagum melalui semangat kenegarawanan, ramah tamah, kegigihan bahkan ketulusan dalam bersikap yang ditunjukan oleh masyarakat dan para pejuang kemerdekaan yang membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki peran penting dalam skala global.
Bahkan, ia menganggap para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia sama pentingnya seperti bapak pendiri Amerika Serikat, Mao atau Ghandi. Meskipun mendapat banyak kritikan dalam proses penulisan buku tersebut, David tetap bersikeras merampungkan tulisannya atas dasar rasa cintanya pada Indonesia.
Selain dalam aspek sejarah, demografi, dan geografinya keunggulan Indonesia bisa kita lihat dari sisi ekonomi. Goldman Sachs, bank investasi global yang berpusat di Amerika Serikat, memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada 2050. “Proyeksi kami menyiratkan bahwa lima negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada 2050 yang diukur dalam Dolar AS riil, adalah China, Amerika Serikat, India, Indonesia, dan Jerman,” pungkas Goldman Sachs dalam laporan resmi yang dikutip Bisnis, pada Rabu (12/7/2023).
Riset terbaru ini memperediksi bahwa Indonesia akan menggeser posisi Brasil dan Rusia sebagai negara berkembang terbesar keempat di dunia pada 2050. Hal ini diperkuat dengan pernyataan kepala ekonom PricewaterhouseCoopers (PwC), John Hawksworth yang mengatakan pertumbuhan ekonomi global akan didorong oleh negara- negara emerging market, yang secara bertahap akan meningkatkan skala kontribusinya terhadap PDB seiring waktu. Ia bahkan memprediksi negara-negara berkembang  seperti Meksiko dan Indonesia mungkin akan berkembang lebih besar dibandingkan Inggris dan Prancis.
Keunggulan-keunggulan yang dimiliki Indonesia tersebut harusnya cukup menjadi pondasi tumbuhnya rasa cinta pada bangsa dan negara. Negeri yang kaya akan keberagaman dengan potensi tersebut membutuhkan generasi muda, masyarakat, dan para pejuang yang memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme yang tinggi.
Sebagaimana dalam buku kaya David Van Reybouck yang menggambarkan betapa menakjubkannya Indonesia dari kacamata orang asing yang menghabiskan hidupnya untuk berkeliling mencari alasan mengapa Indonesia layak dijadikan poros dalam kancah global. Seperti itulah seharusnya rasa cinta dan bangga kita terhadap negeri kita sendiri. Meskipun perjalanan demokrasi kemerdekaan dalam upaya mencapai kesejahteraan diwarnai dinamika yang tinggi, kita semestinya tetap bergandeng tangan dan menjadikannya alasan untuk terus kokoh dalam mewujudkan cita-cita Nasional. Mari berbenah dan berintropeksi pada diri kita sendiri; “Masihkah kita ragu untuk bangga menjadi Indonesia?”

Author: Presinta Kusuma Wardani, Peneliti Pusat Studi Islam dan Sukarno Kopiah.Co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Mahasiswa Yang Utuh dan Pancasilais

Kopiah.co - Momen krusial dalam membangun sebuah bangsa yaitu menentukan dasar-dasar terbentuknya Negara. Dasar-dasar ini yang akan menentukan arah...

Artikel Terkait