Mewujudkan Senyum Bahagia Pendiri Bangsa

Artikel Populer

Muhammad Fawaid Zuhri
Muhammad Fawaid Zuhri
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Anggota Lazisnu PCINU Mesir

“Berikan aku sepuluh pemuda, akan aku guncangkan dunia!”

kopiah.co – Begitulah penggalan kalimat masyhur dari Sang Proklamator Bangsa, Ir. Soekarno, yang tidak bisa kita maknai secara sederhana. Ada perenungan lanjutan yang lebih ditekankan dari kata “pemuda” yang tersurat dalam kalimat tersebut. Pasalnya, pemuda merupakan agen perubahan bangsa untuk masa depan.

Pemuda memiliki jiwa besar dan gagasan secara komunal yang dibutuhkan bangsa. Berangkat dari darah muda yang berkobar dan inovasinya untuk membangun peradaban cukup menjadi bukti bahwa bangsa kita tak lepas dari peranan mereka dalam memperoleh kemerdekaan. Banyak rekam sejarah yang menunjukkan bahwa peranan pemuda sangat erat kaitannya dengan spirit kemerdekaan Indonesia.

 Pada era kolonial, Bung Tomo dipercaya memimpin para pemuda untuk mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Santri yang notabenenya kaum pemuda juga tak tinggal diam untuk ikut berkontribusi. Pada zaman itu, bisa dibilang tidak ada pemuda yang hidup tenang tanpa perjuangan.

Memasuki era milenial, tuntutan bagi pemuda juga tidak mudah. Menjaga bangsa tetap damai dan aman tidak serta merta hanya dengan rebahan. Tentunya gagasan dan tindakan perlu ditingkatkan. Kemudian pada era modern tantangan semakin rumit. Di samping untuk menjaga kebudayaan yang berdaulat, pemuda saat ini dituntut untuk tidak tertinggal dengan budaya modern, serta kecanggihan teknologi. Tentu, pemuda yang produktif dalam bidangnya adalah yang pantas mengisi posisi strategis. Sebut saja bidang olahraga, para atlet muda yang sampai saat ini selalu menorehkan juara untuk bangsa, bisa menjadi role model bagi para generasi lainnya.

”Bonus demografi” merupakan sebuah wacana sosial yang mulai tampak di kehidupan kita.  Wacana ini diprediksikan akan terealisasi pada tahun 2030. Diawali dengan meningkatnya kuantitas anak muda yang terikat bahkan terlibat dalam kontestasi politik Tanah Air. Mulai dari legislatif, yudikatif hingga eksekutif. Dengan gagasan dan kinerja yang sistematis, pemuda mampu meraup kepercayaan khalayak setempat. Kemudian  menjadikannya pemimpin untuk kemajuan daerahnya.

Selaras dengan pepatah Arab, Syekh Musthafa Al Ghulayin menyebutkan, ”Syubbân al-yaum rijâ al-ghad inna fi aydîkum amru al-ummah wa fi aqdâmikum hayatuhâ.” Kepemimpinan para pemuda menjadi harapan besar para pendiri bangsa. Kepiawaian dalam mengolah sistem pada kehidupan modern, menjadi faktor kesuksesan wacana di atas.

Agar mencapai klimaks bonus demografi, pemuda perlu mengepakkan sayap lebih luas lagi. Tidak hanya berkutat pada urusan otot, gagasan baru dan jernih untuk perdaban bangsa yang lebih maju juga harus di tingkatkan. Sudah menjadi maklum, perang modern bukan lagi berkutat pada kemampuan fisik, melainkan gagasan besar dan kecerdasan generasinya.

Mempertahankan lebih berat dari pada mendapatkan, kalimat yang acap kali terucap dari pemuda bucin, layak dikatakan motivasi untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang berdaulat. Peran pemuda saat ini dan masa depan juga menjadi bakti kepada penidiri bangsa. Saya yakin dalam hal  membangun negara,  tidak ada  yang iri dengan keunggulan kinerja. Justru merupakan kebahagiaan bersama jika pemuda kini dan masa depan mampu meningkatkan kualitas negara, tentunya dengan kualitas meningkatkan terlebih dahulu SDM para generasinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait