Humanisme Religius

Artikel Populer

Kopiah.Co — Tragedi kemanusiaan adalah pekerjaan rumah yang hingga kini belum bisa diselesaikan oleh kita semua sebagai manusia — yang dalam bahasa al-Qur’an disebut pemimpin di muka bumi — yang harus bertanggungjawab dalam menjaga tatanan kehidupan di dunia. 

Konflik Israel-Palestina, perang saudara di Sudan, hingga fenomena stateless etnis Rohingya cukup sudah menjadi alasan bahwa kita semua membutuhkan spirit beragama yang berpihak pada kemanusiaan (humanisme religius). Spirit humanisme religius ini menekankan agar kita menempatkan manusia sebagai manusia seutuhnya. 

Lalu, bagaimana humanisme religius ini bisa kita wujudkan?

Abdul Jabar Rifa’i, seorang cendekiawan modern asal Irak melalui bukunya yang terbit tahun 2021 lalu dengan judul “al-Din Wa al-Karamah al- Insaniyah” atau “Agama dan Harkat Martabat Kemanusiaan” menjawab pertanyaan atas fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa kita tidak dapat benar-benar memahami agama tanpa terlebih dahulu memahami manusia beserta kebutuhannya akan makna kehidupan, kehormatam, kesetaraan, kebebasan, dan kebahagiaan. 

Menurut Rifa’i, mendefinisikan ulang manusia adalah pendekatan yang tepat untuk mendefinisikan kembali makna agama dan bagaimana kita memahami serta menafsirkan teks-teksnya. Sehingga agama benar-benar menjadi pedoman hidup yang membimbing manusia untuk mencapai kehidupan yang harmonis.

Sejatinya, apa yang disampaikan oleh Abdul Jabar Rifa’i ini senafas dengan apa yang dipikirkan oleh Muhammad Thahir bin ‘Asyur, ulama ensiklopedis asal Tunisia. Melalui kitabnya yang berjudul “Ushul Al-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam” atau “Pranata Sosial Masyarakat dalam Islam”, Ibnu ‘Asyur menjabarkan bahwa, sejak kelahirannya di bumi, manusia secara kodratnya membutuhkan sebuah kehidupan yang harmonis. 

Sebab itu, suatu keniscayaan bagi setiap manusia mempunyai fitrah sosial, yaitu membutuhkan uluran tangan orang lain untuk saling bantu-binantu dan gotong royong dalam mewujudkan segala keinginan dan cita-citanya. Dalam bahasa Ibnu Khaldun, “al-Insanu madaniyun bi al-thabi’“, bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. 

Dalam mengisi keterbatasan dan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia itu, agama dihadirkan oleh Tuhan sebagai sumber dan cahaya petunjuk bagi manusia. Maka, segala ajaran dan pesan agama tidak mungkin bertentangan dengan fitrah manusia — terutama mengenai keinginannya akan kehidupan yang damai, merdeka, dan sejahtera. 

Sebab itu, kata Ibnu ‘Asyur, pemahaman terhadap agama yang benar akan melahirkan sebuah perbaikan yang memberikan kemaslahatan bagi tatanan kehidupan umat manusia. Dalam kitabnya Ibnu ‘Asyur menulis, “Inna atsaro al-Din al-Sahih huwa islah al-qoum alladzina khutibu bihi“. 

Sebaliknya, pemahaman terhadap agama yang keliru cenderung melahirkan sebuah sikap beragama yang tekstualis, yang berjarak dengan realitas. Hasilnya, agama tidak lagi konstruktif, namun destruktif dan menjadi sebab rusaknya tatanan kehidupan makhluk Tuhan di muka bumi. 

Di Indonesia, kita beruntung, karena ajaran dan nilai-nilai agama telah membumi. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kita mempunyai Pancasila sebagai falsafah yang menjadi titik temu di tengah keberagaman. Selain itu, jika berbicara figur teladan, kita memiliki Kyai Hasyim dan Kyai Ahmad Dahlan.

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah itu mempunyai peran sentral dalam melawan kolonialisme dan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Di tangan NU dan Muhammadiyah, agama mewujud menjadi lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial masyarakat. 

Humanisme religius seperti inilah yang seharusnya kita rawat. Agama yang berkarakter ramah, penuh kasih sayang, berorientasi pada perdamaian, serta mampu menjawab berbagai persoalan kehidupan umat manusia dan makhluk Tuhan lainnya. 

Perbedaan suku, etnis, dan agama adalah suatu keniscayaan. Di atas kebhinekaan itu, kemanusiaan harus menjadi bahasa persatuan kita semua dalam rangka mewujudkan kehidupan yang harmonis. Di atas batas batas letak geografis itu, kemanusiaan harus menjadi bahasa persatuan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang merdeka, adil, setara, dan sejahtera. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerita dari Palestina : Berbaik Sangka kepada Imigrasi Paling Ketat, Allenby Border

Kopiah.Co — Berbaik sangka dalam menjalani apapun ternyata dapat menjadi perjalanan hidup kita menjadi ringan, termasuk saat singgah ke...

Artikel Terkait