Wabah bagi Perkembangan Umat Islam

Artikel Populer

Oleh: Rafi Erlangga Kadarusman

Membahas peradaban Islam secara historis tidak lepas dari masa kemajuan dan kemundurannya. Pada pembahsan kali ini, kita akan lebih merujuk pada persoalan kemunduran Islam yang di dalamnya terdapat salah satu tokoh pembaharu Islam yaitu Syekh Muhammad Abduh. Sejak kepiawaiannya pada abad ke 19 ia sudah memperingatkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap perkara-perkara gabas yang nantinya akan menjadi wabah bagi perkembangan umat Islam kedepannya.

Wabah tersebut akan terus meneror; peradaban, perkembangan dan keilmuan Islam. Serangan seperti ini akan sering terjadi di kalangan umat muslim hingga di masa yang akan datang, meskipun beberapa tokoh pembaharu Islam telah memberikan tindakan preventif tak menjamin berjalan lurus sesuai yang diinginkan bagi para pembaharu untuk kecerahan bangsa muslim.

Serangan wabah ini, lahir dari kalangan muslim dan non muslim. Salah satu contoh yang dilakukan non muslim adalah penghinaan kepada Nabi yang dilakukan Denmark dengan karikatur melalui jalur media yang mereka miliki. Mereka beralasan bahwa tindakan seperti ini merupakan sebuah unsur “kebebasan dalam berpendapat” tetapi tujuan utama mereka menjatuhkan seantreo ummat muslim secara langsung.

Penyerangan mereka dengan cara membentuk seketsa karikatur yang menampakan wajah para Nabi, seakan-akan merendahkan umat Islam itu sendiri. Sehingga menimbulkan beberapa oknum dari kalangan Muslim berusaha untuk membunuh penulis tersebut yaitu Weestergard, ia memancing agar umat Muslim melakukan pembunuhan dan masyarakat mengira bahwa umat Islam gemar melakukan kekerasan. Sebenarnya, Islam yang hadir dari zaman nabi hingga saat ini tidak mengarahkan terhadap kekerasan, ia mengajar para umatnya untuk selalu menghindari pertumpahan darah.

Selain dari luar Islam, serangan terhadap masyarakat Islam juga berasal dari umat Islam itu sendiri. Seperti halnya memuliakan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan secara berlebihan dengan cara minum darah atau air kencing Nabi. Tindakan ini sudah sangat jelas ditolak secara murni, sebab tindakan tersebut sudah tidak rasional bagi umat Islam yang sejatinya memiliki akal sehat.

Memang secara garis besar warisan-warisan keilmuan yang ada sejak dulu menjelaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan manusia yang mulia dan hendaklah umat-umat Nabi memuliakan kedudukannya, hanya ialah di hari akhir zaman nanti yang akan memberikan syafaat kepada para pengikutnya. Namun, berlandaskan pernyataan ini banyak dari umat Muslim yang mempraktekan kecintaan terhadap Nabi secara berlebihan, dan secara tidak langsung berbalik fakta dari konsep memuliakannya secara dasar.

Dengan demikan, Imam Ghazali menguatkan kesalahan di atas dengan menyatakan bahwa umat Islam memiliki standarisasi dalam menafsirkan sebuah ilmu. Jika penafsiran terhadap ilmu tersebut bertolak belaka dengan konsep dasar rasionalitas, maka sudah jelas, hasil penafsiran semacam ini bukan maksud utama dari hasil pemahaman yang dinginkan oleh sebuah teks dan konteks dalam keilmuan. Di sini kita bisa memahami bahwa miskonsepsi yang terjadi pada umat Islam acap kali terjadi dalam lingkungan keilmuan dan sedikit demi sedikit akan menumpaskan peradaban Islam di masa kini dan masa yang akan datang.

Sejatinya konsep memuliakan Nabi sudah tertulis dengan jelas pada firman Al-Kahfi: 110. Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa sosok Nabi memang memiliki keistimewaan dari Allah SWT. Cara memuliakan keistimewaannya pun memiliki batasan yang sebenarnya selaras dengan akal sehat umat Islam, jadi tidak perlu melakukannya secara berlebihan yang melebihi batas rasional manusia pada umumnya.

Bentuk-bentuk penyakit yang datang dari umat Islam sendiri bisa dikatakan seebagai musuh yang lahir di dalam selimut. Lahirnya musuh seperti ini berperan sebagaimana menyebarluaskan wabah keilmuaan itu sendiri dengan bias pemahaman yang masih melekat di diri mereka. Sebagian dari mereka juga masih menyandarkan nasib di masa depan melalui khurafat, gaya berpikir yang mereka gunakan berupa stagnasi selalu menyandarkan segala keputusan hanya kepada Sang Penguasa tanpa melakukan usaha yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Fenomena semacam ini bukan lagi menjadi sebuah ancaman, bahkan sudah menjadi tradisi di sebagian besar masyarakat. Pun juga, dampaknya membuka celah bagi para musuh-musuh liyan umat Islam untuk menjatuhkan bangsa Muslim. Selain itu tradisi mereka akan menimbulkan lebih banyak penyakit bagi kaum muslimin sendiri. Seperti hilangnya pemikir di kalangan umat Islam, terjadinya degradasi moral dan lahirnya pseudo intelectual yang nantinya akan merasa lebih pintar dari yang lain serta membodohi masyarakat demi kepentingan pribadi.

Hal ini sudah diperingkatkan oleh Amir Arsalan, sebagaimana yang terjadi pada abad 19 dan 20. Unsur di atas sangat memiliki peran penting dalam kemunduran umat Islam di masa kolonialisme, bermula dari perilaku negatif yang ringan sampai mengakibat kesengsaraan pada rakyat termasuk Islam di beberapa negara. Ironisnya, ketika para pseudo intelectual bertebaran di masyarakat dan berhasil memegang kekuasaan mereka hanya sanggup menyampaikan statement apologize.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerita dari Palestina : Berbaik Sangka kepada Imigrasi Paling Ketat, Allenby Border

Kopiah.Co — Berbaik sangka dalam menjalani apapun ternyata dapat menjadi perjalanan hidup kita menjadi ringan, termasuk saat singgah ke...

Artikel Terkait