Ibnu Taimiyah

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Dari abad kedua hingga abad kelima hijriah, rivalitas ulama suni tertuju pada muktazilah. Sebenarnya masih ada sekte lain, namun yang lebih dominan adalah muktazilah karena mendapat dukungan dan sokongan dari penguasa waktu itu, seperti dari Bani Umayah dalam persoalan independensi kehendak makhluk ( baina al qadr wa al jabr), dan dari bani abasiah dalam persoalan negasi sifat-sifat tuhan dan doktrin kemakhlukan al quran. Walhasil, tersebab dari dukungan penguasa tersebut, doktrin-doktrin muktazilah terlihat begitu kuat, hingga muncullah Imam Abul Hasan al Asy’ari memberi perlawan yang berpusat di daerah Iraq, sebuah tempat melambangkan kemajuan peradaban dan dialektika pemikiran kala itu. Pada masa yang sama, muncul pula Imam Abu Mansur al Maturidi, seorang pembela akidah suni dari tanah Khurasan, yang kemudian pemikirannya menyebar di kawasan ma wara an nahar.

Hal ini jika dilihat dari dialektika yang bertumpu pada pembahasan kalam murni yang khas: mulai dari soal pelaku dosa besar, hukum perbuatan manusia, konsepsi sifat tuhan, kalam dan seterusnya. Namun dalam ruang dialektika yang lebih luas, yang tak kalah genting adalah perdebatan antara para ahli kalam itu sendiri dengan kelompok filosof muslim. Pada tataran ini, kita melihat Imam Ghazali berada pada posisi terdepan mengajukan kritik-kritik tajam: hal itu tercermin dalam karya monumentalnya Tahafut Falasifah.

Pada waktu itu, kisaran abad keempat hijriah, terdapat aliran yang lebih cenderung pada naqli sebagai respon atas dua kecenderungan di atas, yakni muktazilah dan filosof muslim yang mana ruang pemikirannya lebih bersifat atau bertumpu lada rasional. Aliran tersebut dipelopori oleh dua sekte bernama hasyawiyah dan karomiah, yang dalam aqidah adudiyah disebut dengan mujassimah, dan disebut sebagai aliran sifatiah oleh Syahrestani dalam karya milal wa nihalnya, dan disebut sebagai aliran salafiyyin oleh Abu Zahro dalam tarikh madzahib islamiyah.

Seperti yang saya sebutkan di atas, meski aliran hasyawiyah dan karomiyah sudah muncul sejak abad ke empat, namun pengaruhnya tidak begitu besar karena tren zaman itu adalah kecenderungan aqliyah. Sedangkan hasyawiyah dan karomiyah lebih condong pada naqliyah, yakni merumsukan doktrin-doktrin akidah bertumpu pada teks/naql semata. Kelompok ini mengaku memiliki sanad ideologis yang bersambung dengan Imam Ahmad bin Hambal yang memang lebih menekankan sisi naql daripada aqli. Namun uniknya, tak sedikit dari mereka justru mendapat serangan dari kelompok hanabilah sendiri, seperti yang dilakukan oleh Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Daf’u ‘an al Tasybih.

Kelompok salafiyah tadi, yang mengaku bahwa merekalah para pengikut manhaj ulama salaf, tidak begitu ramai diminati hingga datanglah Ibnu Taimiyah pada abad ketujuh hijriah. Keberadaan Ibnu Taimiyah seolah menjadi juru selamat yang menyelamatkan kaum salafiah/sifatiah/mujassimah tadi dari kematian ideologis yang menimpa mereka. Barangkali tersebab inilah, Ibnu Taimiyah melalui karya-karya besarnya mendapat julukan Syaikhul Islam dari para pengikutnya. Sejak abad ketujuh hijriah, pengaruh doktrin-dontrin Ibnu Taimiyah semakin bertambah saat dihidupkan lagi pada abad ke 12 H oleh Muhammad bin Abdul Wahab dari Najd dengan jargonnya Tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa Sifat.

Suasana menjadi lain saat pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab ternyata mendapat legitimasi kekuasan dari kerajaan Su’udiyah di Arab Saudi. Sejak sat itu, ajaran Ibnu Taimiyah yang diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian dikenal dengan sekte Wahabiah itu terus berkembang dan menyebar ke seantero dunia hingga saat ini.

Ibnu Taimiyah terkenal sebagai ulama yang produktif. Jika doktrin-doktrin perihal Allah Swt sebagai jism, sifat turun, Allah Swt mengambil ruang di atas dan seterusnya yang menjadi khas dari kelompok ini sudah pernah diwacanakan sejak masa-masa awal, namun itu baru berupa doktrin yang belum matang dan saling terpisah, baru pada masa Ibnu Taimiyah, karakter pemikiran tersebut mendapatkan dukungan metodologisnya.

Mengutip dari Abu Zahra, untuk membangun bangunan pemikirannya, mula-mula Ibnu Taimiyah melalui bukunya Ma’arij al Wusul merumuskan bahwa aliran akidah Islam terbagi menjadi. empat golongan:

  1. Falasifah: bagi Ibnu Taimiyah, kelompok falasifah adalah mereka yang mempercayai al quran, namun level argumentasi yang ada pada al quran bersifat retoris semata (khatabi), dan sasarannya adalah mayoritas umat manusia . Sedangkan falasifah mengaku kalau diri mereka berada di level burhani, yakni yang mampu merumuskan sesuatu dengan argumentasi yang pasti.
  2. Mutakallimin: kelompok ini diisi oleh kaum muktazilah. Bagi muktazilah, kebenaran doktrin akidah tidak boleh ditempuh dengan jalur teks/naqli, melainkan harus dirumuskan melalui akal.
  3. Maturidiah. Bagi Ibnu Taimiyah, kelompok ini meski percaya dengan al quran dalam mermuskan doktrin-doktrin akidah, namun dalam praktiknya harus dipantau oleh logika.
  4. Asyairah: bagi Ibnu Taimiyah, kelompok ini menyejajarkan antara akal dan naql.

Setelah pembagian tersebut, kemudian Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa manhaj yang diambil kaum salam tidaklah salah satu dari keempat kelompok di atas. Lalu apa? Ialah murni naql. Bagi Ibnu Taimiyah, urusan akidah tidak boleh dicampuri oleh potensi akal, karena akal akan berpotensi menyesatkan.

Situasi seakan terbalik. Jika pada masa awal dulu, yang menjadi rival kaum suni adalah muktazilah dan falasifah yang bertumpu pada akal, maka pada era sekarang, para ulama suni berfokus mengritik pemikiran kaum salafi-wahabi: kecenderungan Taimiyan yang menawarkan pemahaman al quran secara literal saja. Bagi masyarakat awam yang merasa jauh dari al quran, ajakan untuk kembali kepada al quran ini begitu menggiurkan. Sebab itu, tak sedikit dari umat muslim mengelukan ajaran ini.

Sebagai pengkaji keilmuan Islam, kita menyadari bahwa perihal memahami Islam tak semudah jargon “kembali” ke al quran dan hadis secara instan begitu saja. Kita mengerti: ada kaidah bahasa dan kaidah akal yang disusun oleh ulama sepanjang zaman yang musti dipertimbangkan. Sebab itu, tantangan untuk memberi penjelasan yang benar kepada masyarakat tidaklah gampang, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Moderasi Beragama Berperikemanusiaan

Kopiah.Co - Di tengah globalisasi yang kian tumbuh dan realitas peradaban manusia yang hidup menjadi satu dengan mengikuti sistem...

Artikel Terkait