Bima dan Tanggapan Netizen; Indonesia Kekurangan Orang-Orang Cerdas (?)

Artikel Populer

Oleh: Salsadilla Musriati

Semenjak beberapa minggu lalu, jagat maya dihebohkan oleh konten tiktok dari seorang mahasiswa Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di Australia. Melalui akun @awbimaxreborn, mahasiswa bernama lengkap Bima Yudho Saputro ini mengkritisi kinerja pemerintah dengan memaparkan beberapa sebab mengenai stagnansi kemajuan Kota Lampung: infrastruktur yang terbatas, sistem pendidikan yang lemah, tata kelola yang lemah, dan ketergantungan pada sektor pertanian. Meskipun kritikan tersebut disampaikan dengan gaya bicaya yang terkesan kurang sopan, namun banyak netizen yang memberikan simpati dan dukungan akibat keberaniannya tersebut.

Seiring berjalannya waktu, berbagai simpati tersebut rupanya berubah menjadi bumerang yang kini tengah berbalik menyerang Bima. Akibat video yang pernah diunggah beberapa minggu sebelum kepopuleran Bima terkait kritikannya terhadap pemerintah Lampung, banyak netizen dan beberapa pihak yang menyebutnya terkena sindrom popularitas. Dalam video tersebut, Bima menyinggung salah satu pihak dengan sebutan yang berkonotasi negatif, setelah sebelumnya melakukan hal yang sama terhadap pemerintah Lampung.

Meskipun semua yang disampaikan Bima berisi fakta, tetapi gaya penyampaiannya menjadi sorotan yang tak habis-habisnya dibincangkan. Bahkan, dengan adanya ungkapan bahwa gaya bicara menunjukkan tingkat intelektual seseorang, beberapa pihak lantas menyebut tingkat intelektual Bima begitu rendah. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, gaya bicara Bima merupakan gaya komunikasi yang umum digunakan anak muda zaman sekarang. Oleh karena itu, hal ini menjadi suatu keheranan, apakah generasi muda—dalam hal ini terinterpretasi oleh Bima—merupakan orang-orang dengan tingkat kecerdasan yang rendah? Apakah Indonesia kekurangan orang-orang cerdas?

Selama ini, term kecerdasan hanya sering dikaitkan dengan sebutan IQ (Intellectual Quotient) atau kecerdasan intelektual. Padahal, kecerdasan memiliki banyak macam yang juga berpengaruh besar dalam kehidupan manusia. Salah satu yang tidak kalah besar dari pengaruh kecerdasan intelektual ialah kecerdasan emosional atau yang dapat disebut dengan EQ (Emotional Quotient). Istilah ini pertama kali dikenalkan pada tahun 1990 oleh psikolog Salovey dari Harvard University dan Mayer dari University of New Hampshire, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai salah satu bentuk intelegensi yang melibatkan kemampuan untuk menangkap perasaan dan emosi diri sendiri juga orang lain.

Berdasarkan definisi tersebut, kecerdasan inilah yang penulis kira merupakan sesuatu yang luput dalam pencapaian generasi muda Indonesia. Tidak dapat dimungkiri bahwa generasi muda identik dengan semangat yang tinggi juga jiwa yang berapi-api. Seperti halnya Bima dengan sikap kritisnya. Jika semua orang hanya fokus terhadap apa yang disampaikan Bima, maka mereka pun akan mengakui bahwa kritikan Bima sangat argumentatif dan tepat sasaran. Melalui ‘video Lampung’ nya, Bima memaparkan sejumlah fakta beserta data-data penelitian yang dapat mendukung argumennya.

Kendati demikian, berargumen bukanlah hanya tentang membagi keresahan dengan sejumlah bukti penunjang. Lebih daripada itu, perlu adanya perhatian terhadap cara penyampaian agar argumen yang disampaikan juga dapat diterima dengan baik. Seperti menggunakan tutur kata yang sopan, dan tidak menggunakan nada bicara yang tinggi. Oleh karena itu, melihat kasus Bima di atas, penulis dapat mengatakan bahwa Bima atau bahkan anak-anak muda lainnya merupakan generasi dengan tingkat kecerdasan intelektual yang cukup tinggi, namun masih terlalu prematur dalam tingkat kecerdasan emosional.

Untuk menghindari keberlanjutan dalam hal tersebut, perlu adanya upaya dalam pemupukan bibit-bibit kecerdasan emosional dalam diri masing-masing. Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri berarti mengenali setiap perasaan yang muncul dalam diri masing-masing, termasuk perasaan berapi-api yang kerap kali muncul dalam diri anak muda. Dan perasaan semacam ini bukanlah suatu yang keliru. Joanes Joko, salah seorang tenaga ahli utama kantor staf presiden dalam wawancara bersama Kompas TV bahkan menyambut perasaan berapi-api yang datang dari Bima, dengan menganggapnya sebagai pil pahit bagi pemerintah yang memang harus diminum demi kebaikan Indonesia.

Jika identifikasi perasaan dapat disebut sebagai anak tangga pertama dalam membangun kecerdasan emosional, maka pengelolaan emosi adalah anak tangga selanjutnya yang perlu ditapaki. Oleh karena itu, saat seseorang berhasil mengenali setiap perasaan yang muncul dalam dirinya, maka mencari alasan mengenai kemunculan perasaan tersebut menjadi suatu hal yang tidak sulit dilakukan. Sehingga, ketika keduanya berhasil dilalui, maka seseorang tersebut akan dapat mengelola emosi dari perasaan apapun yang muncul dalam dirinya. Tersebab, ketidakmampuan dalam mencermati perasaan menandakan bahwa seseorang tengah berada dalam kuasa emosi.

Berikutnya, memotivasi diri sendiri. Sebuah motivasi yang baik lahir dari pengelolaan emosi yang baik. Penulis meyakini bahwa tatkala seseorang berhasil mengelola emosi dengan baik, maka ia akan mudah memotivasi dirinya sendiri. Ia juga tidak lagi menggantungkan kebahagiaan dan semangat dalam peran orang lain, sebab dia mampu menghadirkan hal tersebut secara mandiri. Bahkan, saat seseorang telah berhasil menerapkan langkah-langkah di atas, ia juga dapat membangun hubungan sosial yang baik dengan orang lain. Ia dapat belajar mengenali emosi yang hadir dalam orang lain, sehingga dapat memberikan tanggapan yang sesuai demi menjalin komunikasi yang sehat.

Terakhir, mengingat status remaja seringkali agresif, maka penting bagi setiap kurikulum pendidikan di Indonesia untuk tidak hanya menekankan pembangunan kecerdasan intelektual melainkan juga kecerdasan emosional. Sehingga saat generasi muda mulai ikut berkontribusi dalam setiap pembangunan dan perkembangan peradaban, mereka dapat menyampaikan ide-ide cemerlang yang mereka miliki dalam balutan kosakata dan etika yang santun. Karena jika bukan dengan moralitas yang demikian, maka apalagi yang dapat dibanggakan Indonesia kepada dunia, terutama dunia barat yang terkenal begitu maju dalam berbagai bidang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait