Kimia Yakin dan Mindset Rezeki

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Seperti biasanya, saya menikmati malam dengan ngopi dan ndobos ngalur ngidul bersama teman-teman di warung kopi. Tapi ada yang menarik dari obrolan barusan. “Saat ini saya sedang merasa selevel lebih tinggi.” Begitu kira-kira yang terlontar dari mulut teman saya. Tapi uniknya, setelah ngomong begitu, saya baru tahu, dari penjelasannya juga, kalau lima usaha yang dia rintis sedang terpuruk secara bersamaan. Aneh, kan!

Ada-ada saja temanku satu ini. Sambil menikmati setiap sruput dan udud, sambil menahan rasa dingin (karena kebetulan saat ini musim dingin), saya bertanya-tanya, “Apa gerangan yang membuat dirinya sampai merasa selevel lebih tinggi itu?” Dia kemudian menjelaskan bahwa alasan dia ngomong seperti itu ialah karena saat ini dia sedang begitu tambah bergairah dalam membaca.

Ucapannya begitu menampar saya. Ternyata orang yang saya kenal piawai dalam urusan bisnis alias percuanan duniawi itu justru merasa dirinya lebih baik saat memiliki gairah lebih dalam membaca, meskipun realitanya bisnisnya sedang ambyar.

Dari sini lagi-lagi saya seolah disiram air kebijaksanaan. Ternyata, kita tak bisa menilai kehidupan cukup menggunakan satu ukuran saja. Jika kita melihat kasus teman saya di atas, dari urusan percuanan, yang dalam diskursus tertentu hal semacam ini disebut dengan materialisme (atau bisa juga dengan “cuanisme”), maka kondisi yang dialami teman saya tadi kurang tepat jika dikatakan selevel lebih tinggi, justru kebalikannya. Yakni berlevel-level lebih rendah. Akan tetapi, jika memang benar hal itu adalah kerendahan, maka aura yang terpancar dari dirinya adalah aura kerendahan pula, seperti sedih, galau, resah dan seterusnya. Tapi tidak seperti yang terllihat dalam ekspresi mental teman saya tadi. Setidaknya seperti yang saya lihat sendiri ketika ngopi tadi. Dia justru banyak tertawa dan lebih santai. Tak sedikit pula pisuhan akrab mengalir dari kedua bibirnya.

Saya senang dengan hal-hal semacam ini. Dalam praktik realitas sehari-hari, terdapat banyak kebijaksanaan yang tersiratkan. Dan pelajaran itu tak jarang tiba-tiba menghampiri kita disaat kita sedang bingung akan ihwal tertentu yang kita alami. Inilah surat-surat langit, bahasa semesta Tuhan yang mesti kita pelajari.

Dalam kondisi yang ia alami tersebut, ternyata teman saya lebih memilih ukuran yang tidak materialistis. Lantas hal itu tak menandakan keberpihakannya, atau keputusan finalnya untuk menjadi seorang miskin. Baginya, soal uang itu soal gampang. Asal mau gerak, uang mudah dicari. Jadi, perihal kantong kering yang ia alami saat ini, hanya gejala-gejala alami belaka. Namanya bisnis: naik-turun adalah hal biasa.

Berkaitan tentang rezeki atau pandangan finansial dalam Islam, Syekh Ahmad bin Idris mempunyai kitab yang istimewa berjudul Kîmîyâ al-Yaqîn. Kitab ini menjadi tambah berkesan karena ditahqiq oleh ulama agung al-Azhar, Syekh Salih Ja’fari radliyallah anhuma. Dalam pengantar bukunya, Syekh Ahmad bin Idris mengatakan, “Wahai hamba, Jadilah engkau orang yang yakin kepada Tuhanmu soal rezekimu. Jadikan pula Tuhanmu sebagai inti perbendaharaanmu sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW (pembendaharaan seorang mukmin adalah tuhannya).” Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya risau soal rezeki itu—seakan—mendustakan Allah SWT.”

Kitab Kîmîyâ al-Yaqîn ini bisa menjadi rujukan bagi kita, khusunya kawula muda yang masih sering dramatis jika sudah berurusan tentang duniawi.

Menariknya, diksi yang digunakan oleh pengarang adalah kata risau (ihtimam) akan rezeki, yakni sesuatu yang lebih mengarah pada sikap mental, prinsip, atau mindset seorang mukmin perihal rezeki. Jelas itulah yang ditekankan, karena tidak ada kata “doktrin bermalas-malasan” dalam kamus agama. Artinya, bagaimanapun keadaannya, seorang mukmin harus memiliki sikap kerja keras yang nyata. Tidak hanya itu, kerja keras itu diletakkan diatas pondasi luhur keagamaan.

Yakni memprioritaskan Allah SWT diatas segala-segalanya, yang mana oleh Nabi Saw diistilahkan sebagai perbendaharaan orang mukmin (kanz al-mukmin).

Dari hadis di atas, saya teringat pernyataan Arli Kurnia, seorang pebisnis muda yang sukses dan telah menginspirasi banyak sekali para pengusaha di Indonesia. Dia pernah menjelaskan, bahwa pada dasarnya setiap kita adalah kaya. Menurutnya, ketika kita sedang terlilit hutang, sedang terdesak dalam masalah-masalah finansial atau apapun itu, kita tak butuh waktu lama untuk menjadi kaya atau bisa menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.

Bagaiamana caranya? Sederhana. Yaknj dengan cara duduk tegap, ambil nafas dalam-dalam, sambil membayangkam segala kebutuhan, segala persoalan yang kita hadapi, lalu hembuskan pelan-pelan, kemudian mengatakan “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” (segalanya berasal dan kembali ke Allah SWT) dan tarik nafas lagi dan begitu seterusnya. Orang lain boleh percaya atau tidak, tapi setidaknya itu yang dilakukan oleh Arlie Kurnia selama sejak belum sukses dahulu hingga saat sudah sukses sekarang.

Berangkat dari latar belakang Arlie Kurnia yang merupakan seorang pebisnis ini, menarik untuk kita simak. Yakni, perihal metode peniadaan diri dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT secara total. Ritual ini beginya perlu dilakukan agar seseorang bisa berpikir jernih, tidak kemrungsung, untuk mendapat jalan dan solusi.

Barangkali cerita di atas itu adalah salah satu contoh pengaplikasian Allah sebagai Kanzun dalam sabda Nabi di atas.

Mari kita hayati lagi, bahwa beriring waktu, semakin terlihat kalau dunia itu ada-ada saja. Yang kumaksud dari dunia bukanlah dunia dalam makna seutuh seutuhnya, melainkan penghuninya, yakni manusia. Bagaimana tidak, wong makhluk bernama manusia yang tinggal di planet ini tak terhitung jumlahnya. Kemudian fakta selanjutnya, setiap mereka punya kepala: setiap kepala punya pikirannya sendiri. Apa saja. Mulai dari pemikiran tentang Tuhan, negara, pendidikan, masa depan, imajinasi, cinta, cita-cita, bahkan kelaminnya. Semua terekam dalam kepala.

Begitu beragam manusia mengukir pikirannya sendiri. Tapi kita perlu jujur dengan diri sendiri, sudah cukup damaikah kita dengan diri kita sendiri.
Namun dari sabda kanjeng Nabi Saw di atas, kita bagi orang beriman harus menjadikan Allah SWT sebagai prioritas utama, atau kekayaan terkaya, kemewahan termewah, kemuliaan termulianya.

Saya curiga, jangan-jangan teman saya yang merasa selevel lebih tinggi, yang merasa tetap aman dan damai meski berada di situasi ekonomi yang tak baik-baik saja, sedang memiliki kanzun atau pembendaharaan yang dijelaskan oleh Nabi. Entahlah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait