Marginalia

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Cairo 26 Juli 2023

Di penghujung tahun ini, usiaku akan sampai pada kepala tiga. Pada tahun ini aku merasa mendapat banyak anugerah. Kalau soal rezeki dzahir, itu sudah pasti. Tiap hari aku mendapat jatah yang sama seperti orang-orang, juga makhluk lain yang menghuni alam semesta ini. Makan, tidur, kesehatan dan bahkan bisa ngudud dan ngopi tiafa henti. Ini adalah rezeki yang melimpah bagiku. Karena dengan mendapatkan ini semua, aku terus melanjutkan perjalanan hidup dan mengarungi samudera kebesaran Allah Swt yang terus menerus hadir dan tampak jelas ini.

Tahun ini, aku masih berada di sini, di al Azhar Syarif, di Mesir, buminya para Nabi, para wali dan para ulama.

Pada tahun ke enamku tinggal di Mesir ini aku merasa mendapat begitu banyak pencerahan. Aku bertemu dengan banyak ulama dan karya-karya jeniusnya. Itu kalau dilihat dari ulama yang hidup masa kini.

Sedangkan jika dilihat dari ulama masa lalu, adalah Sultanul Ulama Izzuddin Abdissalam yang telah membiusku dengan keilmuan dan pemikirannya yang cemerlang.

Izzudin Abdissalam berasal dari Syam ( kini Suriah) dan kemudian hijrah dan menetap di Mesir. Semenjak di di Syam, beliau sudah terkanal sebagai alim allamah dan menjadi mufti di sana. Selain pakar di bidang ilmua fikih, beliau juga mempunyai silsilah emas karena dalam tasawwuf, sanad keilmuannya bersambung kepada Syekh Abul Hasan al Syadzuli dan Syekh Sihabuddin Umar Sahrowardi. Sedangkan dalam akidah, ia adalah didikan dari Saifuddin Al Amidi dan Bahaudin Ibnu Asakir, yang mana keduanya terkenal sebagai pemegang estafet Asyairah pada masanya.

Julukan sebagai Sultan al Ulama, Rajanya para ulama, pertama kali diberikan oleh murid terkasihnya, Ibnu Daqiq al Aid. Konon, Izzudin Abdissalam telah sampai pada level Mujtahid, namun beliau tetap setia mengaku sebagai pengikut Imam Syafii. Cukup sebagai bukti keluhuran ilmunya adalah karyanya berjudul Qawaid al Ahkam fi Masalih al Anam. Kitab inilah yang telah mencerahkanku.

Pada dasarnya, aku begitu mencintai dunia pemikiran yang bernada rasionalime nan filosofis. Sebab itu, sejak di pondok salaf dulu, aku menggandruni naskah-naskah filsafat, seperti Al Farabi, Ibnu Tufail, Ibnu Rusd bahkan filsafat-filsafat barat yang tak jarang bernada sekuler dan ateis pun aku pelajari. Hal itu tak lain dan tak bukan karena rasa penasaranku pada ruang pemikiran manusia yang objektif.

Tapi lambat laun aku menyadari bahwa bahwa seeelok apapun dunia fiksafat dan humaniora, jika tidak terikat dengan paham akidah agama yang benar, maka semuanya hanya berujung pada rasa waswas, keresahan dan kegelisahan. Dan pada akhirnya aku menemukan penawar dari semua itu dari kitab-kitab akidah aswaja dan tasawwud seperti yang ditulis oleh al Ghazali, al Sanusi, al Dardiri, Ibnu Ataillah dalan Hikam dan Tajul Arusnya serta syarah Ibnu Ajibah yang begitu mengagumkan, juga Syekh Zarruq dan Qawaid Tasawwufnya, Syekh Ahmad Tayyib, Syekh Salim dan lain sebagainya.

Lalu sekarang, aku diberi anugerah oleh Allah Swt dengan bertemu Izzudin Abdisaalam melalui qawaid al ahkamnya.

Secara umum, kaidah-kaidah yang ditulis oleh Izzudin Abdissalam ini terpusat pada konsepsi maqasid syariah. Apa itu? Ialah penjelasan bahwa seluruh ajaran nabi-nabi yang diutus, dark Nabi Adam sampai Nabi Muhhammad- alaihim salam- yang mebawa syariat Islam ialah bertumpu pada dua poin ini: demi kemaslahat manusia itu sendiri serta biar ia terhindar dari keburukan yang menimpanya (jalbul masalih wa dar’ul mafasid). Baik yang bersifat duniawi sampai ukhrawi. Dari sini akan terpahami bahwa spirit utama ajaran agama adalah spirit pembangunan dan peradaban manusia yang bercitra positif. Hal ini jelas berbeda dengan kecenderungan sebagian masyarakat modern (barat) yang menganggap bahwa agama adalah suatu dogma yang bersifat negatif, yang cenderung dimonopoli oleh kekuasaan dan kepentingan tertentu. Maka tidak heran ketika Barat semakin maju ke depan menyongsong dunia rasionalitas dan medernitas, maka pada saat yang sama mereka sedikit demi sedikit berjalan mendur menjauhi agama. Hal itu dikarena kegagalan mereka dalam mendapatkan nilai atau citra positif dari doktrin agama yang mereka yakini selama ini.

Berbeda dengan Islam, cukup dengan uraian maqasid syariah yang ditulis oleh Izuddin bin Abdissalam ini, maka dengan jelas bahwa digariskan bahwa spirit agama agama adalah spirit kemaslahatan, baik secara individual maupun secara sosial peradaban.

Untuk membuktikan semua itu, tanpa ragu ia menuliskan misalnya dalam qawaid sugra dalam fasal fi tibyan hakikat hakikat al masalih wa al mafasid: kullu ma ghamma wa aalama fahiya mafsadah, ” segala sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan adalah keburukan”. Hukum ini berimbas tidak hanya pada nilai seuatu itu sendiri, melainkan kepada apa saja yang menjadi perangkat atas keburukan tersebut berkonsekusi mendapat status hukum keburukan juga. Sebalaknya, ia mengatakan pula, kullu ma aladzza wa afraha fahuwa maslahatun, ” segala sesuatu yang nikmat dan menyenangkan itu adalah kebaikan dalam perspektif agama”, begitu pun perangkat-perangkat yang mengantarkan pada kebaikan maka disebut sebagai kebaikan pula.

Entah kenapa, melihat penjelasan Izuddin bin Abissalam ini mengingatkanku pada peristiwa 13 abad yang lalu. Tepatnya ketika kaum khawarij yang awalnya menjadi pengikut sayyidina Ali Ra tiba-tiba berubah menjadi pembangkang dan mengkafirnya karena menerima tawaran tahkim yang diajukan oleh S. Amr binAsh dari kubu S. Muawwiyah. Sayyidina Ali bertanya apa gerangan yang membuat kaum khawarij bersikap demikian. Mereka menjawab: karena S. Ali menerima hukum yang dilakukan oleh manusia, mestinya yang diterima hanyalah apa kata al Quran, bukan apa kata orang.

Lalu Sayyidina Ali Ra menjelaskan kalau Al Quran itu sendiri ya kitab yang diam, maka cara memahami isinya ya harus melewati pemahaman manusia, dong!

Ya, kita memang membutuhkan orang yang tepat, yang jernih dengan keluasan jiwa dan pikirannya, agara kita tidak terhalang dari keindahan al Quran, dari keluasan rahmat Tuhan dalam ajaran keagamaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerita dari Palestina : Berbaik Sangka kepada Imigrasi Paling Ketat, Allenby Border

Kopiah.Co — Berbaik sangka dalam menjalani apapun ternyata dapat menjadi perjalanan hidup kita menjadi ringan, termasuk saat singgah ke...

Artikel Terkait